Cekricek.id — Enam bulan pertama di Kuala Lumpur, Elvis Syefrizal tidak menerima sepeser pun gaji yang dijanjikan. Angkanya sebenarnya sudah disepakati: 150 ringgit sebulan. Yang datang tidak ada. Ia membantu di toko perabot, membersihkan kebun, mengerjakan urusan rumah tangga — lalu pada malam hari berdagang keliling agar bisa makan.
Empat puluh enam tahun kemudian, ia menjadi pemilik toko buku di Jalan Masjid India, warga negara Malaysia, dan koordinator wilayah organisasi perantau yang membiayai anak-anak nagari masuk perguruan tinggi di Indonesia.
Perjalanan itu direkam Hanna Syafwatul Nabilla dan Syafrizal, keduanya dari Universitas Andalas, lewat artikel Diaspora Minangkabau di Malaysia: Biografi Elvis Syefrizal dan Perannya dalam Pelestarian Budaya yang dimuat jurnal Analisis Sejarah Vol. 15 No. 1 terbitan 2025. Mereka memakai pendekatan biografis dan kualitatif dengan wawancara mendalam serta telaah pustaka.
Anak Sulung yang Berjualan Kacang Ramang
Elvis Syefrizal lahir pada 19 September 1960 di Nagari Padang Lua, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam. Ia anak pertama dari enam bersaudara. Ayahnya, Jasmi St. Mangkuto, hanya tamat Sekolah Rakyat dan dikenal tegas soal ibadah — karena rumah mereka berdekatan dengan masjid, anak-anak lelakinya wajib salat berjamaah di sana. Ibunya, Zairani, lulusan Thawalib Parabek yang setelah menikah menjadi ibu rumah tangga sambil membantu suaminya di sawah.
Sebagai anak sulung, Elvis terbiasa merawat adik-adiknya dan menjadi penengah bila mereka berselisih. Ia memancing belut di sawah untuk lauk di rumah, dan menjualnya di Pasar Padang Lua kalau tangkapannya berlebih.
Pada bulan Ramadan, ia dan adiknya berjualan kacang ramang — kacang kedelai rebus — di sekitar Masjid Jami' Padang Lua. Lampu togok menerangi lapak kecil itu ketika orang-orang tadarus. Kacangnya dimasak ibunya, hasil penjualannya ditabung untuk membeli baju Lebaran.
Temannya, Emrizal, mengenang Elvis kecil sebagai anak yang sabar dan tekun. Ketika kawan-kawannya cepat bosan, Elvis justru menuntaskan sangkar burung dari pimpiang sampai selesai. Layang-layang buatannya disebut yang paling rapi.
Ia masuk SD Negeri 2 Padang Lua pada 1966, lalu ke SMP Negeri 1 Bukittinggi. Pada tahun pertama ia berjalan kaki lima kilometer setiap hari demi menghemat pengeluaran keluarga; tahun kedua ia membeli sepeda bekas dari hasil tabungan sendiri ditambah sedikit bantuan ayahnya. Di sekolah, ia berjualan jagung goreng kepada teman-temannya.
Lulus pada 1975, ia memilih Sekolah Teknik Menengah Pembangunan Bukittinggi jurusan teknik mesin — pilihan yang disengaja, agar punya keterampilan yang bisa langsung dipakai bekerja dan segera membantu ekonomi keluarga.
Baca juga: Perantau Minang di Duri dan Bayang-bayang PRRI
Delapan Bulan di Caltex
Pada 1979 Elvis diterima bekerja di perusahaan minyak Caltex di Riau, ditempatkan di lapangan sebagai anggota tim survei lokasi pengeboran baru. Tekanan kerjanya berat, dan ia hanya bertahan beberapa bulan sebelum mengundurkan diri dan pulang kampung.
Di rumah ia kembali membantu orang tuanya di ladang. Tapi keinginan merantau tidak padam. Tetangganya, Syahrudin, mengajaknya ke Malaysia dengan meyakinkan bahwa peluang kerja di sana banyak — dan memang benar, karena Malaysia sedang tumbuh pesat setelah New Economic Policy diberlakukan pada 1980, terutama di sektor pertanian dan konstruksi.
Kedua peneliti menganalisis keputusan itu memakai teori faktor pendorong dan penarik Everett S. Lee. Kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil dan tekanan sebagai anak sulung menjadi pendorong; daya tarik ekonomi Malaysia menjadi penarik. Ada pula faktor sosial-budaya: kedekatan bahasa dan budaya Minangkabau dengan Melayu Malaysia serta kesamaan agama membuat adaptasi tidak terlalu sulit.
Elvis berangkat dengan kapal feri pada awal 1980. Seluruh biaya perjalanan termasuk paspor ditanggung Syahrudin. Ketika ia tiba, hanya tiga keluarga asal Padang Lua yang diketahui tinggal di Kuala Lumpur: Nur Aini dari suku Jambak, Morina dari suku Pisang, dan Rusina dari suku Jambak.
Induk Semang dan Toko Buku
Dalam budaya Minangkabau, merantau selalu berkaitan dengan induk semang — orang yang menyediakan tempat tinggal dan pekerjaan awal di rantau. Pepatahnya berbunyi, "Kalau buyuang pai marantau, ibu cari, dunsanak pun cari, induak samang cari dahulu."
Elvis menemukan jalannya lewat Gusman, perantau asal Agam, yang mengajaknya tinggal bersama dan mengenalkannya pada pemilik toko buku Pustaka Indonesia di Wisma Yakin Building.
Pustaka Indonesia didirikan Haji Musnal Ilyas, yang semula mengelola toko jamu dan kerajinan tangan khas Indonesia sebelum berubah menjadi toko buku. Toko itu dikenal luas di kalangan mahasiswa karena menyediakan buku referensi pendidikan dan bacaan Islami yang sulit didapat di Malaysia. Karya sastrawan Indonesia seperti Hamka dan Mochtar Lubis serta terbitan Balai Pustaka juga diminati pembaca lokal — beberapa bahkan menjadi bacaan wajib pelajaran sastra di tingkat universitas.
Elvis mulai membantu bazar buku di berbagai universitas di Kuala Lumpur, termasuk Pesta Buku Antarabangsa Kuala Lumpur. Karena ketekunannya, ia dipercaya menangani kegiatan bazar berikutnya. Gajinya 200 ringgit, dan sebagian besar ia kirim ke kampung.
Setelah Haji Musnal Ilyas wafat pada 2005, Pustaka Indonesia terbelah menjadi dua: Fajar Ilmu Baru yang dikelola menantunya di lantai dua Wisma Yakin, dan Pustaka Rezeki Harapan yang dikelola Elvis di lantai satu gedung yang sama.
Menariknya, keberadaan kedua toko itu mengubah pasar. Sebelumnya sebagian besar toko buku di Wisma Yakin hanya menjual buku agama Islam terbitan lokal Malaysia. Karena permintaan terhadap literatur Indonesia meningkat — terutama dari pelajar dan mahasiswa — toko-toko lain ikut menyediakan buku terbitan Indonesia.
Tantangan datang belakangan, dari arah yang tak terduga: buku elektronik. Pergeseran pola konsumsi pembaca ke format digital ikut menekan kelangsungan toko buku fisik, termasuk milik Elvis.
Baca juga: Mengapa Orang Melayu Medan Tidak Menganggap Melayu Malaysia Sebagai Saudara?
Dua Puluh Dua Bulan Menunggu IC Biru
Pada 1990 Elvis pulang untuk menikah dengan Rita Wahyuni, lalu membawa istrinya ke Kuala Lumpur. Mereka dikaruniai empat anak laki-laki: Mohd. Hamdani, Mohd. Helmi, Mohd. Rifqi, dan Mohd. Fikrie.
Pada 1996, tepat setelah kelahiran anak pertamanya, Elvis mengajukan permohonan pindah kewarganegaraan. Alasannya dua: masa depan anak-anak dan pertimbangan ekonomi. Anak-anak berkewarganegaraan Malaysia memperoleh keringanan biaya pendidikan, fasilitas kesehatan yang lebih terjangkau, dan peluang lebih besar masuk universitas dalam negeri. Selain itu, sejak New Economic Policy, pemerintah Malaysia memprioritaskan bumiputera di sektor perdagangan, keuangan, dan manajemen.
Syarat kewarganegaraan Malaysia menurut Peraturan Warga Negara 1964 mencakup usia minimal 21 tahun, bermukim minimal 10 sampai 12 tahun, dan fasih berbahasa Melayu. Elvis sudah memenuhi semuanya sejak lama.
Prosesnya berlapis. Ia menyerahkan Sijil Kewarganegaraan dan paspor Indonesia ke Kedutaan Besar RI, yang kemudian menerbitkan surat pernyataan pelepasan kewarganegaraan Indonesia untuk diserahkan ke Jabatan Pendaftaran Negara Malaysia. Setelah itu wawancara, mencakup alasan perpindahan dan pengujian kefasihan berbahasa Melayu.
Setelah menunggu satu tahun sepuluh bulan, pada 1998 Elvis menerima Identity Card biru — tanda ia resmi menjadi warga negara Malaysia, delapan belas tahun setelah turun dari feri tanpa gaji.
Yang Tetap Dikirim Pulang
Beberapa bulan setelah bekerja di Pustaka Indonesia, Elvis sudah mulai mengirim uang ke kampung, terutama untuk membiayai sekolah adik-adiknya. Saat itu Lizli Elvia masih di Sekolah Pendidikan Guru, Elza Yunelvia di SMP, sedangkan Nelfi Yetti, Nofiyaldi, dan Dodi masih di sekolah dasar. Ia juga membantu pembangunan rumah adiknya.
Kedua peneliti menempatkan praktik ini dalam konsep remitan — pengiriman uang, barang, dan gagasan pembangunan dari daerah rantau ke daerah asal — yang berfungsi sebagai instrumen penting dalam sistem sosial-ekonomi masyarakat Minangkabau.
Ikatan itu kemudian dilembagakan. Perantau Padang Lua di Malaysia membentuk Persatuan Keluarga Padang Lua Pusat, didirikan Muhammad Hamdi dan diresmikan lewat pertemuan Zoom pada 12 Desember 2020. Tujuannya ikut serta dalam pembangunan kampung halaman, termasuk pengelolaan Pasar Padang Lua, sekaligus membantu anak-anak nagari mengakses pendidikan tinggi — antara lain memfasilitasi mereka masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia. Elvis dipercaya menjadi koordinator wilayah Kuala Lumpur.
Perantau Padang Lua sendiri tersebar tidak hanya di Kuala Lumpur, tetapi juga di Seremban, Johor, dan Klang. Mereka tetap saling mengunjungi pada momen penting, terutama Idulfitri, mengikuti tradisi berlebaran masyarakat Melayu. Sejak pandemi Covid-19 dan Perintah Kawalan Pergerakan, tradisi itu jauh lebih terbatas.
Identitas yang Terus Menjadi
Untuk membaca sosok Elvis, kedua peneliti memakai gagasan Stuart Hall bahwa identitas budaya bukan sesuatu yang tetap, melainkan sesuatu yang terus menjadi — dinamis, terbentuk, dan berkembang.
Sisi "ada"-nya terlihat dari cara Elvis mempertahankan bahasa daerah di lingkup keluarga, memasak makanan khas kampung, dan memperkenalkan anak-anaknya pada budaya serta asal-usul leluhur. Sisi "menjadi"-nya tampak dari cara ia beradaptasi dengan lingkungan multikultural dan membesarkan anak dalam konteks negara yang berbeda.
Kenyataan yang jujur dicatat riset ini: sebagian besar anak perantau yang lahir di Malaysia menjadi warga negara Malaysia, meski kedua orang tuanya berasal dari Minangkabau. Anak hasil perkawinan perantau dengan masyarakat lokal umumnya mengikuti adat Melayu dalam prosesi pernikahan, meski tak jarang juga memakai adat Minangkabau.
Satu catatan untuk pembaca. Ini adalah studi biografi atas satu orang, bukan survei terhadap komunitas perantau Minang di Malaysia. Kekuatannya terletak pada kedalaman — wawancara dengan Elvis, adiknya, dan teman masa kecilnya menghasilkan detail yang tidak akan muncul dalam data statistik. Tetapi pengalaman satu orang tidak bisa digeneralisasi menjadi pengalaman seluruh diaspora, dan sebagian besar sumbernya adalah ingatan personal yang sulit diverifikasi silang.
Baca juga: Jejak Imperium Terlupakan: Kisah Kerajaan Melayu yang Menguasai Nusantara Selama 9 Abad
Meski begitu, ada satu hal yang tidak berubah selama empat dekade: laki-laki yang dulu berjualan kacang ramang di bawah lampu togok itu masih mengirim sesuatu pulang ke Padang Lua — kini bukan lagi uang untuk sekolah adik, melainkan jalan bagi anak-anak nagari menuju bangku kuliah.



















