Cekricek.id — Kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 7,45 juta sepanjang Januari hingga Juni 2026, tumbuh 5,71 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka itu setara 48 persen dari seluruh kunjungan sepanjang 2025, yang dicatat Badan Pusat Statistik sebanyak 15,39 juta.
Dikutip dari laman resmi Kementerian Pariwisata, kemenpar.go.id, Minggu (9/8/2026), capaian itu dipaparkan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (8/8/2026). Pertumbuhan tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kenaikan kunjungan wisatawan asing tertinggi kedua di Asia Tenggara.
“Capaiannya tidak terjadi dengan sendirinya. Pemerintah terus menjalankan strategi yang adaptif, termasuk melakukan pivot atau penyesuaian pasar, memperkuat promosi ke negara-negara yang masih memiliki potensi pertumbuhan, menjaga pergerakan wisatawan di dalam negeri, serta mengembangkan produk dan destinasi yang semakin berkualitas,” kata Widiyanti.
Sumber pertumbuhannya bergeser ke kawasan terdekat. Kunjungan dari negara Asia lainnya di luar Asia Tenggara naik hampir 10 persen, Asia Tenggara tumbuh 8,22 persen, dan Oseania bertambah 6,60 persen.
Baca juga: Hari ASEAN ke-59, Pertama dengan Sebelas Anggota
Belanja Naik, Kamar Hotel Masih Separuh Kosong
Rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara per kunjungan naik 6,36 persen menjadi sekitar 1.313 dolar AS. Dengan kenaikan sebesar itu, belanja rata-rata pada Semester I 2025 berada di kisaran 1.234 dolar AS per kunjungan.
“Keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang, tetapi juga dari besarnya manfaat ekonomi yang mereka tinggalkan bagi masyarakat, pelaku usaha, dan daerah,” ujar Widiyanti.
Tingkat okupansi hotel tercatat 48,20 persen, naik 2,48 poin persentase dibanding periode yang sama tahun lalu. Kenaikan itu belum mengubah kenyataan bahwa lebih dari separuh kamar hotel di Indonesia masih kosong sepanjang paruh pertama tahun ini, jarak yang menunjukkan kapasitas akomodasi tumbuh lebih cepat daripada jumlah tamu yang mengisinya.
Perjalanan Domestik Menopang, Surplus Kunjungan 2,99 Juta
Penopang terbesar justru datang dari dalam negeri. Perjalanan wisatawan nusantara mencapai 630,41 juta, naik 2,71 persen dibanding Semester I 2025. Jumlahnya hampir 85 kali lipat kunjungan wisatawan asing pada periode yang sama.
Pada saat yang sama, perjalanan warga negara Indonesia ke luar negeri turun 2,40 persen menjadi 4,46 juta. Selisih antara wisatawan yang masuk dan warga yang berpelesir ke luar negeri menghasilkan surplus kunjungan 2,99 juta, uang yang sebelumnya dibelanjakan di luar negeri kini berputar di dalam.
Baca juga: Pemkab Agam Dorong Homestay sebagai Penggerak Ekonomi Lokal
Investasi Rp39,68 Triliun, Modal Asing Melompat 37 Persen
Realisasi investasi di sektor pariwisata tercatat Rp39,68 triliun, naik 16,64 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penanaman modal asing menyumbang Rp12,19 triliun dan penanaman modal dalam negeri Rp27,48 triliun. Modal asing tumbuh 37 persen, jauh melampaui modal dalam negeri yang naik 9,39 persen.
“Investasi pariwisata tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat rantai pasok lokal, meningkatkan kualitas pelayanan, serta menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai destinasi,” kata Widiyanti.
Pada triwulan II 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen. Lapangan usaha yang berkaitan langsung dengan pariwisata mencatat kenaikan lebih tinggi dari rata-rata nasional: akomodasi dan makan minum tumbuh 10,60 persen, transportasi dan pergudangan 5,65 persen, jasa perusahaan 5,08 persen, serta jasa lainnya 6,36 persen. Seluruhnya menyumbang sekitar 0,86 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
“Angka-angka tersebut menunjukkan bagaimana perjalanan wisata mampu menggerakkan banyak sektor sekaligus,” ujar Widiyanti.
Bali Padat, Pemerintah Susun Rencana Penyebaran Wisatawan
Konsentrasi kunjungan di satu titik menjadi persoalan tersendiri. Rapat koordinasi tingkat menteri yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan membahas lima isu Bali sekaligus: infrastruktur dasar, kepadatan wisatawan, pengelolaan sampah, penyempurnaan tata ruang, dan pengembangan wisata kapal pesiar.
Tindak lanjutnya berupa masterplan dispersi wisatawan untuk mengurangi penumpukan di Bali Selatan dan mempercepat pengembangan Bali Utara, Bali Timur, serta Bali Barat.
Di luar Bali, Kementerian Pariwisata mendukung 125 acara daerah dalam Karisma Event Nusantara 2026 yang tersebar di 38 provinsi. Hingga akhir Juli, 61 acara sudah terselenggara. Dari 47 yang selesai dievaluasi, tercatat 4,77 juta pengunjung dengan transaksi ekonomi langsung Rp276,84 miliar.
Promosi ke pasar India digenjot setelah kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi pada Juli 2026, termasuk saat rombongan mengunjungi Kompleks Candi Prambanan. Kementerian Pariwisata memanfaatkan momentum itu lewat kanal Wonderful Indonesia, media India dan internasional, kampanye digital, sampai iklan berbayar.
Baca juga: Mendag Temui UEA, Brasil, dan India di Sela BRICS
Dari sisi tata kelola, Kementerian Pariwisata kembali memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian dari Badan Pemeriksa Keuangan atas laporan keuangan tahun anggaran 2025. Itu opini WTP kesebelas berturut-turut sejak 2015.




















