Cekricek.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pemerintahannya kini bertumpu pada tekanan ekonomi, bukan gelombang serangan militer baru, untuk mendorong Iran menuju sebuah kesepakatan.
Dikutip dari Al Jazeera, Senin (10/8/2026), pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan Axios pada Minggu (9/8/2026). Ia menggambarkan pendekatan Washington saat ini jauh lebih berhati-hati setelah berbulan-bulan konflik yang menguras kedua pihak.
“Kami menjalankannya dengan tenang,” kata Trump. Washington, menurut dia, hanya “setengah bernegosiasi” dengan Teheran sembari mengamati kerusakan yang ditimbulkan perang terhadap perekonomian Iran.
Blokade Laut sejak April Jadi Andalan
Trump menyebut keuangan Iran berada dalam “kondisi yang sangat buruk”. Ia menunjuk inflasi yang tinggi dan kesulitan Teheran membayar gaji tentaranya sendiri sebagai bukti. Pelemahan itu, menurut dia, diperdalam oleh blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat sejak April dan sampai kini belum dicabut.
Presiden AS itu juga menilai harga minyak yang turun ke posisi tepat di atas 75 dolar AS per barel telah meringankan dampak ekonomi bagi konsumen Amerika. Dengan kata lain, ia meyakini beban tekanan justru ditanggung pihak seberang.
“Ini akan berhasil. Selalu berhasil. Ini seperti permainan catur,” ujarnya.
Baca juga: Trump Disebut Siap Klaim Kemenangan Tanpa Kesepakatan Nuklir
Perundingan Hormuz Mendekati Terobosan
Pernyataan Trump muncul ketika perundingan yang dimediasi Oman soal pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pelayaran tampak mendekati terobosan. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bulan ini bahwa pembicaraan sudah memasuki tahap “final”, dengan kedua pihak nyaris menyepakati titik koordinat bagi jalur pelayaran baru yang melintasi selat tersebut.
Kesepakatan teknis itu, bagaimanapun, belum menyentuh persoalan politik yang lebih besar. Teheran menegaskan tidak akan membuka penuh jalur air tersebut sampai Amerika Serikat “memperbaiki perilakunya”. Tuntutan Iran mencakup pencabutan blokade laut, penghentian seluruh aksi militer, dan pembayaran ganti rugi perang.
Baca juga: Brent Tembus USD84 per Barel, Iran Tuntut Reparasi Perang untuk Buka Hormuz
Warisan Gencatan Senjata Juni yang Ambruk
Jalan menuju meja perundingan itu sendiri berliku. Gencatan senjata yang dicapai pada Juni runtuh hanya beberapa pekan kemudian akibat perselisihan mengenai siapa yang berhak mengendalikan selat, dan pertempuran pun kembali pecah.
Sejak gencatan senjata ambruk, Iran terus melancarkan serangan sporadis ke pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di Kuwait, Bahrain, dan Yordania. Pada saat bersamaan, kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Teheran mendeklarasikan blokade laut tersendiri terhadap Arab Saudi pada bulan lalu, sehingga membuka front kedua di kawasan Laut Merah.
Al Jazeera mencatat, laporan-laporan terbaru turut menunjukkan adanya gesekan antara Washington dan Israel mengenai kecepatan upaya Amerika Serikat meredam pertempuran di berbagai front, termasuk di Gaza dan Lebanon.



















