Cekricek.id — Sejarawan Universitas Harvard sekaligus penulis tetap majalah The New Yorker, Jill Lepore, melontarkan kritik keras terhadap industri teknologi. Menurut dia, persoalannya bukan pada mesin atau algoritmenya, melainkan pada perusahaan swasta yang perlahan mengambil alih pekerjaan yang seharusnya dikerjakan negara.
Dikutip dari TechCrunch, Minggu (9/8/2026), pandangan itu ia rangkum dalam buku yang akan terbit, The Rise and Fall of the Artificial State. Istilah negara buatan yang ia pakai menggambarkan keadaan ketika fungsi pemerintahan berpindah ke tangan korporasi melalui algoritme, mesin, dan kendali perusahaan.
“Keberatan saya adalah pada cara korporasi swasta semakin banyak mengambil alih fungsi-fungsi negara,” tegas Jill Lepore, sejarawan Universitas Harvard.
Bukan Anti-Teknologi
Lepore menolak dilabeli penentang kemajuan. Ia menyebut dirinya justru bersemangat menyambut perubahan intelektual, tetapi menolak menerima begitu saja pemindahan kewenangan publik ke tangan swasta.
“Saya bukan anti-teknolog. Saya sangat bersemangat dengan segala macam revolusi intelektual,” kata dia.
Titik berangkat kritiknya justru dari sastra. Lepore menelusuri tradisi fiksi ilmiah sejak era 1850-an yang sejak awal mempersoalkan akibat industrialisasi, termasuk cerita E.M. Forster berjudul The Machine Stops yang terbit pada 1909. Menurut dia, karya-karya semacam itu adalah peringatan, bukan cetak biru, tetapi justru dibaca terbalik oleh para pemimpin industri teknologi.
Ia menyinggung Elon Musk sebagai contoh paling terang. “Yang lucu soal Musk adalah, hal-hal yang ia sukai justru sepenuhnya mementahkan dan menentang seluruh keyakinan politiknya,” ujar Lepore.
Baca juga: Agen AI Kabur dari Sandbox, Uji Keamanan Jadi Ancaman
Cermin yang Menipu di Media Sosial
Lepore juga menyoal anggapan bahwa lini masa media sosial mewakili suara publik. Ia menunjuk data bahwa hanya satu dari lima warga Amerika Serikat yang memiliki akun Twitter, sementara lebih dari 90 persen cuitan politik dibuat oleh kurang dari 10 persen pengguna.
“Twitter adalah representasi dari kalangan paling ekstrem, paling aktif secara politik, dan paling hiperpartisan di antara warga Amerika,” tutur dia.
Menurut Lepore, akar pergeseran ini bisa dilacak sampai Undang-Undang Telekomunikasi 1996 dan gelombang futurisme libertarian pada dekade yang sama, yang membentuk cara industri teknologi memandang perannya terhadap negara jauh sebelum pemilihan umum 2016.
Baca juga: King's Cross London Berubah dari Kawasan Lampu Merah Jadi Pusat AI Dunia
Beban pada Alam dan Suara Warga
Kontradiksi paling tajam, kata Lepore, terletak pada kebutuhan fisik infrastruktur digital. “Negara buatan akan menghancurkan dunia alami, padahal ia membutuhkan sumber daya dunia alami itu untuk berjalan,” jelas dia.
Penolakan warga terhadap pembangunan pusat data di Salt Lake City, yang ditentang lebih dari 70 persen responden, menjadi contoh bagaimana beban itu dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
Meski begitu, Lepore tidak menawarkan resep tunggal. “Saya tidak punya buku panduan di sini, kecuali rekomendasi bahwa kita hidup di dalam demokrasi tempat keputusan harus diambil melalui konsultasi dengan yang diperintah,” kata sejarawan itu.
Baca juga: Pola Ini Bikin Kamera Pengawas Gagal Mengenali Anda




















