Cekricek.id — Kawasan King’s Cross di London pernah menyandang reputasi paling buruk di ibu kota Inggris: daerah lampu merah sekaligus pasar narkoba. Empat dekade berselang, sudut kota yang sama menjelma menjadi salah satu pusat kecerdasan buatan tersibuk di dunia, kerap disejajarkan dengan San Francisco dan Beijing.
Dikutip dari TechCrunch, Minggu (9/8/2026), perubahan itu berlangsung cepat dan kasatmata. “Pada era 1980-an, crack dan heroin menjadikan kawasan ini pasar narkotika utama,” kata Hussein Kanji, investor di Hoxton Ventures. Menurut dia, wilayah yang sama kini menjadi sarang AI Britania Raya.
Bermula dari Kepindahan DeepMind
Titik baliknya bermula pada 2016, ketika DeepMind memindahkan kantornya ke King’s Cross setelah diakuisisi Google. Perusahaan lain menyusul satu per satu. Kini OpenAI, Meta, Anthropic, Isomorphic Labs, Cusp AI, Wayve, dan Synthesia sama-sama menempati kawasan itu, membentuk kerumunan laboratorium dan perusahaan rintisan yang saling berjarak beberapa menit berjalan kaki.
Skalanya terbaca dari angka pendanaan. London kini menampung sekitar 3.600 perusahaan rintisan AI. Dari total 14,8 miliar dolar AS pendanaan yang mengalir ke perusahaan rintisan di kota tersebut hingga akhir Juli 2026, sebanyak 12,1 miliar dolar AS di antaranya masuk ke perusahaan AI. Sejak Juni 2026 saja, perusahaan-perusahaan AI menyewa lebih dari satu juta kaki persegi ruang kantor.
Nik Sharma, salah satu pendiri BioCorteX, menggambarkan suasananya dengan singkat. “Banyak hal terjadi di London saat ini. Banyak hyperscaler yang masuk,” tutur dia.
Baca juga: SK hynix Gelontorkan Investasi Besar demi Memori AI
Sewa Melonjak, Ruang Kantor Nyaris Habis
Ledakan permintaan itu menekan pasar properti setempat. Harga sewa kantor kelas atas di King’s Cross naik 18 persen dalam tiga tahun terakhir, sementara tingkat kekosongan kantor tersisa 0,9 persen. “Permintaan sudah melampaui pasokan,” ujar Chris Dunn, Commercial Insight Associate di Knight Frank.
Tekanan serupa terasa di pasar tenaga kerja. Anthropic, yang menempati kantor seluas 158.000 kaki persegi, memasang kisaran gaji 260.000 hingga 630.000 pound sterling bagi insinyur pembelajaran mesin. Rata-rata gaji untuk posisi sejenis di London berada di angka 102.000 pound sterling.
Baca juga: Agen AI Kabur dari Sandbox, Uji Keamanan Jadi Ancaman
Eropa dan Soal Kemandirian Teknologi
Bagi sebagian investor, kepadatan itu bukan sekadar kabar baik bagi pasar properti. Saul Klein dan Robin Klein, dua pendiri firma modal ventura Phoenix Court, membacanya sebagai peringatan agar Eropa tidak menyerahkan kemampuan AI-nya kepada pihak lain. “Sebaiknya kita mengurus diri sendiri,” kata Saul Klein. Robin Klein menyebut situasi sekarang sebagai pengingat kecil tetapi tajam bahwa Eropa tidak bisa sekadar menyewa kemampuan AI-nya.
Para pendiri di kawasan itu merasakan pergeseran yang sama. “Sepuluh tahun lalu, membangun perusahaan AI garis depan dari London terasa seperti pilihan yang tidak lazim. Sekarang terasa seperti pilihan yang wajar,” ujar Alex Kendall, pendiri Wayve. Simon Kohl, pendiri Latent Labs, menilai suasananya kini terasa kurang seperti London yang berusaha mengejar ketertinggalan dan lebih seperti London yang menjadi salah satu tempat baku untuk mendirikan perusahaan AI serius.
Faktor geografi ikut menolong. “Lokasinya sangat dekat dengan bandara, sangat dekat dengan tempat banyak investor berada,” tutur Laura Gonzalez Florez, Chief of Staff sekaligus Head of People di Synthesia. Ia menyebut posisi London memudahkan perekrutan lintas negara, dari Slovenia sampai Portugal.
Meski begitu, ukuran keberhasilan kawasan ini belum tuntas. “Ujian sesungguhnya adalah apakah lebih banyak perusahaan AI berskala global didirikan, didanai, dan dibesarkan dari Inggris,” kata Zain Ali, pendiri perusahaan hukum berbasis AI, Centuro.
Baca juga: Daftar Pekerjaan yang Hilang dan Tumbuh Cepat di Era AI 2025




















