Cekricek.id — Fruktosa selama ini dikenal sekadar sebagai gula buah, pemanis yang lazim ada di meja makan. Sebuah penelitian baru menunjukkan zat itu punya peran lain yang jauh lebih gelap di dalam tubuh penderita kanker: melonggarkan rekatan antarsel tumor sehingga sel-sel ganas lebih mudah terlepas dari induknya dan mengembara ke organ lain.
Temuan itu dipaparkan Aidan R. Cole bersama koleganya lewat artikel The chemotherapy-induced senescence-associated secretome promotes cell detachment and metastatic dissemination through metabolic reprogramming dalam jurnal Nature Aging pada 2026. Dikutip dari ScienceAlert, Senin (10/8/2026), riset itu berangkat dari kenyataan pahit bahwa sekitar 90 persen kematian akibat kanker berkaitan dengan kekambuhan, bukan dengan tumor yang pertama kali ditemukan.
Sel yang Pensiun tapi Masih Bersuara
Titik berangkat penelitian ini adalah sel senescent, yaitu sel yang berhenti membelah karena rusak atau tertekan namun tidak ikut mati. Kemoterapi justru memproduksi sel semacam itu dalam jumlah besar. Tim Wistar membuat sel kanker ovarium di laboratorium menjadi senescent memakai cisplatin, obat kemoterapi berbasis platinum, lalu memanen molekul-molekul yang disekresikan sel-sel tersebut.
Ketika cairan hasil panen itu disiramkan ke sel kanker yang belum pernah tersentuh obat, sel-sel tadi melepaskan diri dari gumpalan tumor bulat yang disebut sferoid. Pelepasan itulah langkah pertama metastasis, penyebaran kanker ke jaringan yang jauh dari lokasi awalnya.
“Studi kami termasuk yang pertama menunjukkan bahwa sebuah nutrisi — dalam hal ini fruktosa — dapat bertindak sebagai salah satu sinyal itu,” kata Aidan Cole, biolog molekuler di The Wistar Institute, Philadelphia.
Baca juga: Ragam Sayuran Dunia Menyusut, Gizi Manusia Ikut Terancam
Kolesterol Membran yang Menipis
Analisis metabolik menyingkap perilaku ganjil sel-sel senescent itu: mereka melahap glukosa, tetapi yang mereka keluarkan justru fruktosa dalam kadar tinggi. Ketika peneliti menambahkan fruktosa murni pada konsentrasi yang wajar ditemui di tubuh, efek pelepasan sel itu terulang persis.
Jalur kerjanya berujung pada kolesterol. Fruktosa mengubah metabolisme mitokondria, pembangkit tenaga di dalam sel, sehingga produksi kolesterol menurun. Kolesterol pada membran sel berfungsi seperti perekat yang menjaga sel tetap menempel pada tetangganya. Begitu kadarnya menipis, jangkar antarsel melemah dan sel kanker punya peluang lebih besar untuk kabur.
Kaitan antara paparan lingkungan dan perjalanan penyakit kronis memang makin sering muncul dalam riset belakangan ini, seperti terlihat pada laporan Polusi Udara PM2.5 Terkait Kekambuhan Rheumatoid Arthritis.
Bukti dari Tubuh Tikus
Pengujian tidak berhenti di cawan petri. Tikus yang ditanami kanker ovarium lalu diberi sekresi sel senescent mengembangkan tumor metastatik jauh lebih banyak ketimbang pembandingnya. Tikus yang diberi pakan tinggi fruktosa juga menunjukkan penyakit metastatik yang lebih berat dibandingkan tikus yang diberi glukosa.
“Sepanjang yang kami tahu, ini pertama kalinya ada yang menunjukkan, dalam model praklinis dan bukan sekadar di dalam cawan, bahwa molekul yang dilepaskan sel-sel ini — bukan selnya sendiri — yang mendorong penyebaran kanker,” ujar Cole.
Seluruh bukti itu masih berasal dari sel laboratorium dan hewan pengerat. Fruktosa dalam menu sehari-hari tidak dengan sendirinya membuat kanker ovarium pada manusia menyebar, dan tim menyatakan rangkaian temuan ini perlu ditelusuri lebih jauh. Dalam laporannya para peneliti menulis bahwa fruktosa boleh jadi memainkan peran yang selama ini kurang diperhitungkan dalam mengatur perilaku sel tumor, sehingga membatasi asupannya terbuka untuk diuji sebagai intervensi pendamping pengobatan. ScienceAlert mencatat sepertiga remaja di Amerika Serikat memperoleh 15 persen atau lebih kalori hariannya dari gula.
Baca juga: Jamur Candida auris Bersembunyi di Folikel Rambut



















