Cekricek.id — Kebanyakan kuman yang mendarat di kulit manusia musnah dalam hitungan hari. Candida auris melakukan sesuatu yang lebih ganjil: jamur kebal obat itu justru merekrut sistem kekebalan kulit untuk membantunya bertahan.
Cara kerjanya diuraikan Eric Dean Merrill, Ari B. Molofsky, dan Suzanne M. Noble dari University of California, San Francisco, lewat artikel The fungal pathogen Candida auris exposes chitin to trigger IFNγ and persist in hair follicles dalam jurnal Science pada 2026.
Mengutip StudyFinds, Minggu (9/8/2026), jamur ini menempel langsung pada rambut dan bersarang di folikel, sehingga jauh lebih sulit dibersihkan dari kulit dibanding kerabat dekatnya.
Penjajahan yang Berlangsung Berbulan-bulan
Candida auris pertama kali diidentifikasi di Jepang pada 2009 dan menyebar terus ke rumah sakit serta fasilitas perawatan jangka panjang di seluruh dunia.
Berbeda dari banyak jamur berbahaya lain, ia tidak langsung membuat orang sehat tampak sakit. Sebaliknya, ia bisa hidup di kulit seseorang selama berbulan-bulan, kadang tanpa batas waktu. Penjajahan yang diam-diam itulah salah satu jalur utama penularan antarmanusia.
Bagi orang dengan kekebalan yang lemah, akibatnya bisa berat. Studi klinis terdahulu yang dikutip sebagai latar dalam makalah melaporkan angka kematian pada infeksi aliran darah berkisar 30 sampai 70 persen — rentang yang mencerminkan variasi antarpopulasi pasien, bukan kepastian pada satu kasus.
Dalam praktik klinis sampai kini, belum ada metode yang terbukti andal membersihkan C. auris dari kulit.
Tiga Puluh Kali Lebih Lengket pada Rambut
Untuk melihat bagaimana hal itu terjadi, para peneliti membandingkan C. auris secara berhadapan dengan Candida albicans, kerabat dekat yang juga hidup di tubuh manusia tetapi jauh lebih mudah dibersihkan dari kulit.
Kedua spesies dioleskan ke kulit tikus. Tim lalu melacak ke mana jamur menyebar, berapa lama bertahan, dan bagaimana sistem kekebalan merespons.
Candida albicans lenyap dalam hitungan hari. C. auris masih ada pada akhir masa pengamatan 30 hari.
Sebagian penyebabnya bersifat fisik. Dalam uji laboratorium, C. auris menempel pada rambut manusia kira-kira 30 kali lebih mudah dibanding C. albicans. Pada tikus, jamur ini bergerombol di sekitar folikel rambut, kerap menetap di mulut folikel atau lebih dalam lagi. Hewan dengan bulu lebih sedikit membawa jamur lebih sedikit, dan yang berbulu lebat membawa lebih banyak.
Baca juga: Kehidupan Tak Terduga Ditemukan di Tubuh Mumi Otzi Berusia 5.300 Tahun
Alarm yang Justru Membuka Pintu
Yang lebih menentukan adalah reaksi sistem kekebalan sesudahnya.
Candida albicans memancing respons yang diperantarai molekul pemberi sinyal interleukin-17A. Respons itu bekerja seperti sistem keamanan yang berfungsi baik: menebalkan lapisan pelindung kulit, memanggil bala bantuan, dan membunuh jamurnya.
Candida auris memicu sesuatu yang lain, yaitu respons yang didominasi interferon-gamma. Molekul ini biasanya berguna melawan infeksi yang lebih dalam, tetapi di lapisan luar kulit ia melakukan nyaris kebalikan dari yang dibutuhkan. Alih-alih memperkuat penghalang, ia menekan program pertahanan antimikroba kulit — dengan kata lain, menurunkan penjagaan.
Kitin, Kunci Pengelabuan
Para peneliti melacak pengalihan itu sampai ke selubung luar jamur. Dinding sel jamur tersusun dari beberapa lapis bahan, salah satunya kitin — zat liat yang sama dengan penyusun cangkang serangga dan kerangka luar kepiting.
Kitin ternyata menjadi pemicu utama respons yang tidak membantu itu. Ketika ditumbuhkan pada kondisi yang meniru kulit manusia — asin, miskin nutrisi, dan bersuhu tubuh — C. auris mengubah dinding selnya dan memajang lebih banyak kitin di permukaan dibanding pada kondisi laboratorium biasa. Candida albicans dalam lingkungan yang sama justru memajang komponen dinding lain yang memicu respons pelindung.
Sejumlah percobaan memperkuat peran kitin. Menyuntikkan partikel kitin murni ke kulit tikus, tanpa jamur sama sekali, memunculkan respons keliru yang sama. Galur C. auris hasil rekayasa yang memajang lebih sedikit kitin memancing reaksi lebih lemah dan menjajah kulit lebih sedikit; galur yang memajang lebih banyak kitin menghasilkan sebaliknya.
Pengamatan mikroskop memperlihatkan tempat semua itu berlangsung. Sel-sel kekebalan yang diaktifkan C. auris secara alami berkumpul di sekitar folikel rambut, persis tempat jamur memusat. Sinyal yang dilepaskan sel-sel itu bekerja pada sel kulit yang melapisi folikel, mematikan gen yang seharusnya memproduksi senyawa pembunuh kuman. Ketika para peneliti merekayasa tikus yang sel kulitnya tidak dapat menerima sinyal tersebut, jamurnya menjajah lebih sedikit.
Celah pada Satu Tempat Saja
Ada satu lipatan menarik. Sinyal kekebalan yang sama, yang memungkinkan C. auris bertahan di kulit, tetap bersifat melindungi pada infeksi aliran darah dan jaringan dalam. Jamur ini pada dasarnya menemukan celah: memanfaatkan sinyal yang biasanya membantu, tepat di satu tempat yang justru membuatnya menekan pertahanan antijamur.
Keempat garis keturunan genetik utama C. auris yang beredar secara global menghasilkan efek pemiringan kekebalan yang sama, meski dengan intensitas berbeda.
Sebagian besar penelitian ini dikerjakan pada model tikus dan kultur sel manusia. Dalam percobaan terpisah, tim memakai kultur keratinosit manusia tiga dimensi — model laboratorium yang dibangun dari sel kulit manusia, bukan jaringan pasien — dan mendapati sel-sel itu merespons sinyal interferon-gamma serupa kulit tikus. Hasil tersebut menunjukkan arah, tetapi belum memastikan mekanisme yang sama menggerakkan ketahanan C. auris pada pasien manusia.
Bagi pengendalian infeksi, temuan ini menjelaskan mengapa upaya membersihkan jamur dari kulit pasien rumah sakit terus gagal: folikel rambut menjadi tempat berlindung yang sulit dijangkau sekaligus lemah pertahanannya.
Menunjuk pemajangan kitin sebagai tuas utama membuka kemungkinan pengobatan baru, entah dengan menghalangi kemampuan jamur merombak dinding selnya di kulit, atau dengan mengarahkan respons kekebalan ke jenis yang benar-benar membersihkannya.
Baca juga: Vitamin C Bisa Melawan Kanker, Tapi Bukan dengan Cara yang Diduga Selama Ini
Lingkungan sekitar juga makin diakui berperan pada penyakit, seperti terlihat pada kaitan polusi udara dengan kekambuhan rheumatoid arthritis.





















