Cekricek.id — Iran merombak pimpinan keamanan nasionalnya di tengah upaya diplomasi membuka kembali Selat Hormuz. Presiden Masoud Pezeshkian menunjuk Mohsen Rezaei, mantan panglima Garda Revolusi Islam (IRGC), sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi menggantikan Mohammad Bagher Zolghadr. Sebelum penunjukan ini, Rezaei tercatat pernah menjadi penasihat pemimpin tertinggi Iran.
Dikutip dari UPI, Minggu (9/8/2026), Zolghadr baru memegang jabatan itu sejak Maret 2026 setelah pendahulunya, Ali Larijani, tewas dalam serangan udara Israel. Ia kini digeser menjadi penasihat politik pemimpin tertinggi Iran. Artinya, kursi sekretaris dewan keamanan itu sudah dua kali berganti penghuni dalam kurun kurang dari enam bulan.
“Sehubungan dengan pengunduran diri Mohammad Bagher Zolghadr dari jabatan sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan penugasannya pada fungsi baru, Presiden Masoud Pezeshkian telah menunjuk Mohsen Rezaei sebagai kepala badan ini,” kata juru bicara kepresidenan Mehdi Tabatabaei, seperti dilaporkan The Times of Israel, Senin (10/8/2026).
Baca juga: Trump Beralih ke Tekanan Ekonomi atas Iran: Ini Seperti Permainan Catur
Buronan Kasus Bom AMIA
Penunjukan Rezaei, 71 tahun, langsung menyedot perhatian karena ia masuk daftar buronan Red Notice Interpol sejak 2007 atas permintaan Argentina. Ia diduga terlibat pengeboman gedung Asosiasi Mutual Israelita Argentina (AMIA) di Buenos Aires pada 18 Juli 1994 yang menewaskan 85 orang dan melukai ratusan lainnya.
“Tuduhan terhadapnya muncul dari keterlibatannya yang terbukti dalam rapat yang memutuskan pelaksanaan serangan terhadap markas AMIA,” sebut hakim federal Argentina Daniel Rafecas dalam berkas perkara yang dikutip The Times of Israel. Pengadilan Argentina dalam putusannya menyimpulkan pengeboman itu dieksekusi kelompok Hezbollah dan didanai Iran.
Tawar-menawar Selat Hormuz
Perombakan itu terjadi ketika Teheran dan Washington saling berkirim sinyal soal pembukaan kembali Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak terpenting dunia yang tertutup selama konflik. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan tidak ada perundingan langsung dengan Amerika Serikat, tetapi mengakui “pesan-pesan sedang dipertukarkan melalui perantara”, seperti dilansir kantor berita Mehr yang dikutip UPI.
Presiden AS Donald Trump menepis anggapan bahwa Washington tengah berunding serius dengan Teheran. “Kami hanya setengah bernegosiasi dengan mereka. Kami cukup mengamati Iran dengan inflasinya yang luar biasa,” kata Trump dalam wawancara dengan Axios yang dikutip UPI.
“Ini akan beres. Selalu beres. Ini seperti permainan catur,” ujar Trump.
Hingga kini belum ada jadwal resmi perundingan lanjutan, sementara kedua pihak terus bertukar pesan lewat perantara. Di tengah tarik-ulur itulah Rezaei kini mengambil alih kendali koordinasi kebijakan keamanan tertinggi Iran dari kursi barunya di Teheran.
Baca juga: Brent Tembus USD84 per Barel, Iran Tuntut Reparasi Perang untuk Buka Hormuz
Baca juga: Trump Disebut Siap Klaim Kemenangan Tanpa Kesepakatan Nuklir



















