Banjir Assam India Telan 100 Nyawa, Lebih dari 700 Ribu Orang Mengungsi

Permukiman terendam banjir dilihat dari udara

Permukiman terendam banjir dilihat dari udara. Ilustrasi. [Foto: Pexels/Pok Rie]

Cekricek.id — Korban tewas akibat banjir besar di Negara Bagian Assam, timur laut India, mencapai 100 orang. Pejabat negara bagian melaporkan dua kematian baru terjadi dalam semalam, sementara sejumlah sungai besar masih mengalir di atas batas bahaya. Tambahan korban itu menandakan angka kematian masih bisa terus bergerak meski permukaan air mulai surut di sebagian wilayah.

Dikutip dari ABC News, Senin (10/8/2026), banjir dipicu hujan monsun deras yang membuat banyak sungai meluap sekaligus, termasuk Brahmaputra. Otoritas Penanggulangan Bencana Negara Bagian Assam memperingatkan ketinggian air yang belum surut di sejumlah titik meningkatkan risiko banjir baru.

Brahmaputra merupakan salah satu sungai terbesar di Asia. Berhulu di Tibet, sungai raksasa itu mengalir sekitar 900 kilometer membelah Assam sebelum melanjutkan perjalanannya ke arah hilir.

Baca juga: Topan Dolphin Mendarat di Zhejiang, 388 Penerbangan Batal

Krisis yang berlangsung sejak bulan lalu itu telah mengusir lebih dari 700.000 orang dari rumah mereka. Hampir 300.000 warga sempat dipindahkan ke kamp-kamp pengungsian yang dikelola pemerintah, meski sebagian mulai pulang seiring surutnya air. Hingga kini sekitar 49.000 orang masih bertahan di 125 kamp pengungsian dan pusat distribusi bantuan.

Rumah Terkubur Lumpur

Kerusakan yang ditinggalkan banjir tidak ringan. Lahan pertanian terendam luas dan jalan-jalan rusak di berbagai daerah terdampak. Kematian ternak yang sangat besar memunculkan kekhawatiran wabah penyakit di komunitas perdesaan. Kerugian pertanian dan ternak itu pula yang kini menjadi salah satu fokus utama pendataan pemerintah negara bagian.

Keluarga-keluarga yang kembali ke kampung halamannya mendapati rumah mereka terkubur endapan lumpur tebal, sehingga proses pemulihan diperkirakan berlangsung lama.

Pendataan Kerusakan Dikebut

Menteri Pertanian dan Irigasi Assam Pijush Hazarika mengatakan pemerintah negara bagian tengah mempercepat pendataan kerusakan agar bantuan rehabilitasi bisa segera disalurkan.

“Kami telah memerintahkan para pejabat untuk menyelesaikan penilaian kerusakan secepat mungkin sehingga pemerintah dapat memberikan bantuan keuangan untuk rehabilitasi mereka,” kata Hazarika.

Ia menambahkan kompensasi tahap awal sudah mengalir ke sebagian besar korban. “Sekitar 500.000 warga terdampak telah menerima kompensasi tunai sementara,” ujarnya.

Monsun yang Kian Sulit Ditebak

Hujan yang makin ganas itu, menurut para ahli, bukan kebetulan semata. Mereka mengaitkan monsun Asia Selatan yang semakin intens dengan perubahan iklim akibat ulah manusia. Pola musiman yang dulu relatif teratur kini kerap datang dalam semburan-semburan hujan ekstrem yang sulit diprediksi.

Sementara itu, otoritas bencana Assam terus memantau ketinggian sungai dan meminta warga di bantaran tetap waspada terhadap banjir susulan selama air belum turun dari garis bahaya.

Baca juga: Eropa Barat Catat Juni-Juli Terpanas, El Nino Raksasa Menguat di Pasifik

Baca juga: Kebakaran Spokane Mereda, Puluhan Ribu Pengungsi Mulai Pulang

Baca Juga

Deretan meja dan kursi kayu di ruang kelas dengan papan tulis hijau
Korban Tewas Penembakan Sekolah di Thailand Jadi Delapan, Siswi 12 Tahun Meninggal
Reruntuhan bangunan batu kuno dengan latar bentang alam hijau
Penjaga Situs Berusia 86 Tahun Ini Belajar Sendiri Membaca Aksara Urartu
Gedung Putih di Washington DC dilihat dari sisi depan dengan halaman dan air mancur
Trump Tunjuk Will Scharf sebagai Penasihat Hukum Gedung Putih
Petugas pemadam kebakaran bekerja di tengah asap dan api kebakaran hutan
Kebakaran Spokane Mereda, Puluhan Ribu Pengungsi Mulai Pulang
Permukaan tanah yang retak-retak akibat kekeringan panjang
Eropa Barat Catat Juni-Juli Terpanas, El Nino Raksasa Menguat di Pasifik
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenakan setelan dan dasi
Trump Beralih ke Tekanan Ekonomi atas Iran: Ini Seperti Permainan Catur