Cekricek.id — Selama lebih dari tiga abad dodo dikenang sebagai burung gemuk yang kikuk dan lamban berpikir. Pindaian tomografi komputer beresolusi tinggi atas tengkorak burung itu kini menyodorkan gambaran yang jauh berbeda. Dodo memiliki kemampuan membaui yang tajam untuk ukuran kerabat merpati, ujung paruh atas yang sarat saraf peraba, serta rongga mata yang menyiratkan ia beraktivitas sampai ke waktu remang menjelang fajar dan senja.
Baca juga: Dinosaurus Bisa Jadi Raksasa, Tapi Kenapa Tak Pernah Mungil?
Temuan itu dipaparkan Peter Andrew Hosner, profesor madya sekaligus kurator burung pada Natural History Museum of Denmark, University of Copenhagen, bersama sepuluh peneliti lain lewat artikel The sensory world of the Dodo and Solitaire revealed by endocast and skull anatomy dalam jurnal Zoological Journal of the Linnean Society volume 207 nomor 4 pada 2026.
Dikutip dari sciencedaily.com, Sabtu (8/8/2026), tim memindai tengkorak dodo langka yang tersimpan di Natural History Museum of Denmark serta Oxford University Museum of Natural History. Dari data pindaian itu mereka membangun model tiga dimensi rongga tengkorak, lalu mencetak bentuk otak yang dulu mengisinya. Hasilnya dibandingkan dengan otak merpati dan dara yang masih hidup, kelompok yang menjadi kerabat terdekat dodo.
Petunjuk dari Rongga Otak
Perbandingan itu menunjukkan bagian otak dodo yang mengurus penciuman berukuran lebih besar daripada dugaan sebelumnya. Pada burung, wilayah tersebut umumnya menyusut karena penglihatan lebih diandalkan. Ukuran yang menonjol pada dodo mengarah ke burung yang mencari makanan di lantai hutan dengan membaui buah masak dan bahan yang membusuk.
"Dodo adalah salah satu hewan punah yang paling mudah dikenali di dunia, tetapi sangat sedikit yang benar-benar kita ketahui tentang bagaimana ia hidup," kata Hosner.
Petunjuk kedua datang dari ujung paruh atas. Tulang di bagian itu berlubang-lubang halus, jalur bagi berkas saraf yang membawa sinyal rabaan. Susunan serupa dijumpai pada burung yang mengorek tanah dan lumpur untuk mencari makan, dan pada dodo susunan itu tampak berkembang baik. Bentuk rongga mata serta ukuran struktur pengolah cahaya membuat tim menduga burung ini tidak sepenuhnya menghindari cahaya redup.
Baca juga: Anjing Purba 30 Juta Tahun Ternyata Bukan Pelari
Kerabat dari Pulau Rodrigues
Pemindaian yang sama dikenakan pada solitaire Rodrigues, burung besar tak bisa terbang dari pulau tetangga Mauritius yang juga sudah punah. Kedua burung menunjukkan pola indra yang mirip, meski tidak seragam betul. Kesamaan itu menguatkan dugaan bahwa nenek moyang keduanya sudah membawa perangkat indra tersebut sebelum keduanya terpisah di pulau masing-masing.
"Meneliti hewan yang sudah punah agak mirip pekerjaan detektif," ujar Christy Anna Hipsley, profesor madya pada Natural History Museum of Denmark yang ikut menyusun studi.
Yang Masih Menggantung
Dodo punah pada akhir abad ke-17 dan tidak menyisakan jaringan lunak yang utuh, sehingga otak aslinya tidak pernah bisa diperiksa langsung. Seluruh kesimpulan tim disusun dari cetakan rongga tengkorak dan pembanding pada kerabat yang masih hidup, cara kerja yang memberi gambaran fungsi indra tetapi berhenti sebelum sampai pada perilaku harian burung itu. Tim juga bekerja dengan jumlah spesimen yang sangat terbatas, karena tengkorak dodo yang layak dipindai hanya tersisa segelintir di dunia.
Baca juga: Kehidupan Tak Terduga Ditemukan di Tubuh Mumi Otzi Berusia 5.300 Tahun
Hosner menyebut hewan itu masih menyimpan banyak teka-teki meski namanya telanjur menjadi lambang kepunahan. Tim menyatakan langkah berikutnya adalah memperluas pembandingan ke lebih banyak jenis merpati pulau, termasuk yang kini terancam, untuk melihat apakah pola indra serupa muncul pada burung yang hidup terisolasi.



















