Cekricek.id — Studi kolaboratif selama dua tahun antara Anindilyakwa Land and Sea Rangers dan ilmuwan University of Technology Sydney (UTS) menghasilkan basis data ilmiah pertama tentang kondisi karang di sekitar Groote Archipelago, Wilayah Utara Australia. Penelitian ini mendokumentasikan komposisi bentik di lima terumbu memakai wahana bawah air nirawak (ROV), dan mendapati tutupan karang berkisar 5 hingga 47 persen, didominasi karang masif yang tahan banting.
Temuan itu dipaparkan Dane P. G. Wattle, peneliti PhD di Climate Change Cluster UTS, bersama Ariel K. Pezner, Annabelle Doheny dari Anindilyakwa Land and Sea Rangers, Hadley England, dan Associate Professor Emma F. Camp, lewat artikel Benthic baselines of the Groote Archipelago’s key reefs in the wake of mass coral bleaching and Tropical Cyclone Megan dalam jurnal PLOS ONE volume 21 edisi 8, Rabu (12/8/2026).
Dikutip dari rilis University of Technology Sydney yang disiarkan EurekAlert, Rabu (12/8/2026), riset ini menjawab kesenjangan pengetahuan yang signifikan. Terumbu karang hidup di Teluk Carpentaria baru pertama kali didokumentasikan pada 2004, dan sejak itu hanya tujuh studi terumbu yang pernah dipublikasikan di kawasan tersebut.
Pekerjaan lapangan tim peneliti bertepatan dengan peristiwa tekanan panas laut pada 2024. Tim ranger yang ikut turun ke laut mengidentifikasi pemutihan karang massal di sejumlah lokasi pemantauan.
Ranger Lokal Jadi Mata dan Tangan di Lapangan
Annabelle Doheny, mantan Koordinator IPA Anindilyakwa Land and Sea Rangers, mengatakan pengalamannya menyelam di berbagai terumbu Australia tidak mengalahkan keragaman hayati di perairan Groote Archipelago.
“Saya pernah bekerja dan menyelam di Great Barrier Reef dan Ningaloo Reef, dan saya sungguh percaya inilah rangkaian kehidupan laut paling mengesankan yang pernah saya lihat, di terumbu-terumbu sekitar Groote Archipelago,” kata Doheny.
Dia menambahkan pengetahuan tradisional memberi konteks penting bagi kawasan tersebut. “Pemegang pengetahuan tradisional bisa memberi konteks untuk sebuah kawasan, menceritakan perubahan lingkungan yang mereka saksikan sepanjang waktu,” tutur Doheny. Kemitraan ini turut melatih para ranger mengoperasikan ROV dan drone.
Dane Wattle, peneliti PhD sekaligus penulis utama studi, menjelaskan pentingnya data dasar sebelum menyusun strategi konservasi jangka panjang.
“Untuk memastikan strategi konservasi berkelanjutan yang efektif dan mampu menopang terumbu di tengah perubahan lingkungan, sangat penting memahami lebih dulu apa saja yang ada di sana,” jelas Wattle. “Data satelit memberi peringatan dini, tapi hanya pemantauan langsung yang bisa menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi di terumbu.”
Terumbu Terpencil Kerap Terlupakan dalam Konservasi
Associate Professor Emma Camp, peneliti senior dalam studi ini, menegaskan terumbu-terumbu terpencil seperti di Groote Archipelago terlalu sering dianggap sebagai prioritas kesekian dalam agenda konservasi, padahal perannya besar bagi masyarakat yang bergantung padanya.
“Terumbu terpencil seperti ini terlalu sering diperlakukan sebagai renungan belakangan dalam konservasi, padahal betapa pentingnya bagi masyarakat yang bergantung padanya,” kata Camp. “Kami perlu menyatukan berbagai bentuk pengetahuan untuk lebih memahami terumbu ini dan tantangan yang mereka hadapi.”
Riset serupa pernah menyoroti ketahanan karang di Laut Merah lewat pelatihan menghadapi penyakit sebelum wabah datang. Ilmuwan KAUST: Karang Bisa Dilatih Melawan Penyakit Sebelum Wabah Datang turut menunjukkan bagaimana intervensi dini bisa memperkuat ketahanan ekosistem terumbu di tengah tekanan iklim yang meningkat.
Ancaman panas laut yang memicu pemutihan di Groote Archipelago sejalan dengan tren yang lebih luas. Gelombang Panas Laut Kini Dinilai Ancam Kesehatan Manusia, Bukan Cuma Lingkungan mencatat bagaimana anomali suhu laut kini dinilai berdampak lebih luas, tak cuma pada ekosistem bawah laut.
Baca juga: Eropa Barat Catat Juni-Juli Terpanas, El Nino Raksasa Menguat di Pasifik
Tim peneliti berharap basis data yang dihasilkan lewat kemitraan ini bisa menjadi acuan pemantauan jangka panjang, sekaligus model kolaborasi antara ilmu pengetahuan modern dan pengetahuan tradisional penjaga laut di kawasan terpencil Australia.





















