Cekricek.id — Sepanjang 1 sampai 18 Juli 2021, tim peneliti membuka dua belas kotak gali di dalam tembok bagian dalam Situs Candi Koto Mahligai, Muarajambi. Dari salah satu kotak, U21T3, keluar temuan yang tidak biasa untuk sebuah situs percandian: 71 butir serbuk sari dan 23 spora tumbuhan. Setelah diidentifikasi di laboratorium, sebagian besar di antaranya berasal dari tanaman berkhasiat obat — ekor kucing, kenari, jeruk, ganitri, gambir, teratai, waru, sampai biji bersayap yang lazim dipakai untuk malaria.
Temuan itu menjadi tulang punggung kajian yang dipaparkan Asyhadi Mufsi Sadzali, Agus Aris Munandar, dan Ali Akbar dari Departemen Arkeologi Universitas Indonesia bersama Retno Purwanti dan Wahyu Rizky Andhifani dari Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN Jakarta, lewat artikel Healthy living behavior of residents of The Muarajambi Temple Compound in The 7th To 11th Centuries AD, yang terbit dalam jurnal Berkala Arkeologi Vol. 45 No. 2 pada 2025.
Pertanyaan yang mereka ajukan sederhana tetapi jarang diajukan pada situs percandian: bagaimana penghuni kompleks percandian itu menjaga kesehatan mereka. Untuk menjawabnya, Sadzali dan rekan-rekannya memakai metode arkeologi K. Dark dan teori keterjalinan manusia-benda (entanglement) Ian Hodder, lalu menyilangkan data ekskavasi Candi Koto Mahligai dan Candi Kedaton dengan catatan perjalanan biksu Tiongkok I-Tsing dari abad ke-7 serta catatan Xuanzang dari masa yang sama.
Kawasan 3.981 Hektare di Tepi Batanghari
Kawasan Percandian Muarajambi membentang seluas 3.981 hektare di antara tujuh desa di Kecamatan Maro Sebo dan Taman Rajo. Arca Buddha, lempeng logam bertulis, penanggalan karbon, dan data pendukung dari masa Dinasti Tang hingga Song menunjukkan situs ini berkembang antara abad ke-7 dan ke-12 Masehi. Dokumentasi arkeologis di kawasan tersebut sudah dimulai sejak S.C. Crooks mencatat wilayah itu pada 1820, dan sampai kini belasan candi telah dipugar, mulai dari Gumpung, Tinggi, Kembar Batu, Astano, Gedong, Teluk, Kedaton, Koto Mahligai, Sialang, Parit Duku, hingga Menapo Alun-Alun.
Ada dua tafsir besar tentang fungsi kawasan ini: sebagai pusat pembelajaran ajaran Buddha atau mahavihara, dan sebagai kota pelabuhan sungai yang mencakup permukiman, pendidikan, keagamaan, perdagangan, serta pemerintahan. Kawasan ini ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional lewat Keputusan Nomor 259/M/2013 dan masuk daftar sementara warisan dunia dengan nomor 5465. Pandangan bahwa Muarajambi merupakan pusat pendidikan pertama kali dilontarkan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Sumatera Selatan dalam diskusi ilmiah pada 2012, lalu diperdalam dengan membandingkannya terhadap situs Nalanda di Bihar, India — tempat Raja Balaputradewa dari Sriwijaya membangun asrama bagi pelajar dari Swarnadwipa.
Ekskavasi Retno Purwanti di Candi Kedaton pada 2008 hingga 2014 menemukan banyak perkakas kehidupan sehari-hari: mangkuk porselen, kendi tanah liat, dan tempayan besar. Sebuah bejana perunggu berdiameter 100 sentimeter memperkuat dugaan bahwa Kedaton berfungsi sebagai asrama. Bentuk hunian penghuninya diduga rumah panggung, berdasarkan temuan bata yang memuat penggambaran berbagai bentuk rumah panggung, mirip tradisi masyarakat Jambi yang tinggal di tepi sungai. Situs semacam ini masih terus ditelusuri lewat kegiatan penelusuran jalur budaya di sepanjang Sungai Batanghari.
Ekor Kucing, Gambir, dan Biji Bersayap
Analisis polen dilakukan atas sampel tanah dari spit 2, sekitar 25 sampai 50 sentimeter di bawah permukaan, masing-masing seberat 500 gram. Sampel pertama dan kedua menghasilkan 22 butir polen dan 16 spora, sementara sampel lain dengan berat sama memberi 98 butir polen dan 36 spora, yang diuji di laboratorium LIPI dan BATAN.
Pada kotak U21T3, jenis yang paling banyak muncul adalah elaeocarpus dan rubiaceae, masing-masing 18,48 persen, disusul acalypha sp. 11,36 persen dan ficus sp. 9,32 persen. Ketika daftar itu diterjemahkan ke fungsi pengobatan, susunannya berbicara: acalypha atau ekor kucing dipakai sebagai antiradang, obat sakit gigi, dan antiinfeksi; rutaceae atau jeruk sebagai sumber vitamin C; elaeocarpus atau ganitri sebagai pereda nyeri dan antidepresan sekaligus bahan tasbih; rubiaceae yang mengarah pada gambir untuk obat memar; teratai untuk diare, radang, dan perdarahan; waru untuk demam, batuk, dan radang; akar kusu untuk sakit mata, muntah, bengkak, dan bisul; rumput kawat untuk keracunan dan memar; serta hyptage atau biji bersayap untuk malaria dan peradangan.
Di sekitar sebaran polen itu ditemukan kurang dari dua puluh artefak yang ditafsirkan berkaitan langsung: struktur bata dengan atap genteng berglasir yang diduga gudang penyimpan bahan obat, kendi bertutup untuk menyimpan dan merebus ramuan, mangkuk porselen sebagai wadah pengolahan, wadah tanah liat bertutup untuk penyimpanan, serta tempayan berukuran sedang dan besar sebagai wadah air bersih. Struktur di situs itu sendiri berupa lima unit mandapa berdenah persegi dari bata — satu bangunan utama dan empat bangunan pengiring. Mandapa ketiga yang lebih kecil dan berlantai berundak diduga tempat menaruh arca, sementara empat fragmen alat pukul logam di sana ditafsirkan sebagai penanda waktu dan siklus kegiatan.
Aturan Harian yang Ditulis I-Tsing
Sisi tekstualnya datang dari I-Tsing, yang singgah enam bulan di Muarajambi untuk mempelajari sabdawidya atau tata bahasa Sanskerta dalam perjalanannya ke Nalanda. Catatan itu memuat kebiasaan harian pelajar di vihara: mencuci tangan dan mulut dengan air bersih sebelum dan sesudah makan memakai kendi dan wadah cuci tangan; makan pada waktu yang telah ditentukan pagi, siang, dan sore; meminum air bersih dari tempayan; memeriksa penampungan air dari serangga setiap pagi; menggosok gigi dengan batang pembersih atau dantakhastha; melakukan pradaksina enam kali sehari; mandi teratur pagi dan petang; tidur dengan aturan waktu dan kain penutup; serta berjalan kaki pada pagi hari sebelum pukul sebelas dan pada sore hari di sepanjang selasar.
Sebagian aturan itu punya padanan di tanah. Sumur di dalam Candi Kedaton dengan kualitas air bersih mencapai pH 7, kolam tandon Telago Rajo di dekat Candi Tinggi, pecahan tempayan, kendi berbentuk labu berlubang kecil dan bertutup, serta jaringan kanal dan parit keliling candi dibaca sebagai penopang kebiasaan mencuci tangan, minum, dan mandi. Fragmen lonceng logam di Koto Mahligai dan gong perunggu di Candi Kembar Batu dikaitkan dengan penanda jadwal makan. Struktur balai terbuka dari bata dan area melingkar di Kedaton ditafsirkan sebagai tempat berjalan kaki pagi dan sore.
Yang Tidak Ditemukan di Dalam Tanah
Yang membuat kajian ini tidak terjebak menjadi daftar kecocokan adalah pengakuan atas hal-hal yang tidak ditemukan. Untuk kebiasaan menggosok gigi dengan dantakhastha, penulisnya menulis tidak ada bukti material. Untuk aturan tidur dan menjaga kebersihan kamar, juga tidak ada bukti arkeologis. Untuk penggunaan ruang kecil berair mengalir dan pembersihan badan dengan bubuk biji lerak, Muarajambi belum menghasilkan bukti apa pun yang berkaitan dengan jamban, termasuk data tentang sabun atau bahan alami penggantinya. Ajaran menghormati guru dan orang tua untuk menghindari penyakit hati pun tidak meninggalkan jejak benda.
Sadzali dan rekan-rekannya juga menahan diri pada tingkat tafsir. Mereka menyebut hasil penelitian di Situs Candi Koto Mahligai pada 2021 belum cukup rinci untuk sampai pada penafsiran akhir, dan seluruh butir kesimpulan mereka disusun sebagai kemungkinan, bukan kepastian. Sebaran polen menunjukkan tanaman obat pernah ada di sekitar bangunan, tetapi tidak membuktikan siapa yang meraciknya, seberapa sering, dan untuk siapa. Dalam kerangka Hodder yang mereka pakai, hubungan itu dibaca dua arah: manusia menentukan benda, benda menentukan manusia. “Penerapan aturan bagi penghuni mahavihara bukan hanya untuk melatih spiritualitas menuju pencerahan, tetapi juga untuk kesehatan fisik dan mental,” tulis mereka dalam tabel analisis.
Rawa, Banjir, dan Pola Penyakit
Lingkungan menjadi kunci penjelasan. Kawasan percandian membentang dari sisi timur Sungai Batanghari, berupa daerah rawa belakang, dengan rawa payau Payo Gajah Mati di sebelah utara dan hutan rawa di sekelilingnya. Dalam kosmologi Buddha, kondisi semacam itu justru dipandang ideal: air mengalir dan bersirkulasi seperti cakra, dan pada musim air tinggi bangunan candi yang berdiri di lahan kering tampak seperti teratai mengambang di atas kolam raksasa.
Sisi lain dari lanskap yang sama adalah risiko. Muka air naik pada musim hujan, terutama Desember dan April, membuat Batanghari meluap dan menggenangi kanal serta parit di sekitar struktur mandapa; pada musim kemarau sebagian saluran itu justru mengering. “Kondisi lingkungan ini sangat rentan terhadap beberapa jenis serangan penyakit, terutama yang disebabkan oleh serangga dan bakteri di air,” tulis para penulisnya. Deretan penyakit yang mereka sebut — demam, malaria, diare, gatal, infeksi, mual, keracunan, dan peradangan — sejajar dengan fungsi tanaman obat yang polennya ditemukan di kotak U21T3.
Kesimpulannya, praktik hidup sehat penghuni Muarajambi dibentuk tiga hal: ajaran Buddha Mahayana yang menekankan keseimbangan tubuh, pikiran, dan jiwa; kebiasaan hidup di vihara sebagaimana digambarkan I-Tsing dan Xuanzang; serta faktor lingkungan yang menentukan jenis penyakit dan karena itu juga jenis obatnya. Perbandingan dengan Nalanda menunjukkan kemiripan sekaligus perbedaan — di Muarajambi penghuni terbiasa mandi di air terbuka yang mengalir seperti sungai dan kanal, sementara sumur di dalam vihara dipakai untuk minum dan upacara. Kesamaan pola pemanfaatan tumbuhan obat itu juga tercermin pada kajian etnobotani Try Susanti dan rekan-rekannya terhadap jenis tumbuhan di situs Muarajambi.
Kawasan ini tetap dibaca sebagai bagian dari peradaban Melayu kuno yang jejaknya juga dirawat lewat koleksi museum di pesisir timur Sumatera, dan berdiri sejajar dengan situs keagamaan lain seperti kompleks percandian di tepi Sungai Kampar Kanan. Statusnya kini sebagai objek yang dilindungi undang-undang cagar budaya membuat setiap kotak gali baru harus melewati prosedur panjang. Di bagian saran, Sadzali dan rekan-rekannya menyebut kajian tentang kegiatan sehari-hari penghuni Muarajambi masih sangat sedikit dan berencana melanjutkannya ke arah hubungan sosial antara pelajar atau biksu dengan penduduk serta pedagang yang beraktivitas di sekitar kawasan percandian.















