Cekricek.id — Pada 1996, di tahun-tahun terakhir Orde Baru, sejumlah karya patung berukuran besar milik Heri Dono dipamerkan di Museum of Modern Art Oxford dengan tajuk “Blooming in Arms”. Karya-karya itu menyindir program penghijauan pemerintah Indonesia. Buntutnya panjang: Kedutaan Besar Republik Indonesia di London mengirim surat kepada David Elliot, direktur museum tersebut, dan Gilane Tawadros dari Institute of International Visual Arts London, yang mempersoalkan apa yang disebutnya ketidakcocokan, ketidakakuratan, dan informasi menyesatkan tentang keadaan politik Indonesia dalam katalog pameran itu, serta meminta katalognya ditarik dari peredaran. Dono menarik katalog tersebut. Karya-karyanya sendiri dimusnahkan begitu kembali masuk ke Indonesia.
Salinan surat itu baru dilihat publik seperempat abad kemudian, ketika dipajang dalam sebuah pameran arsip di Yogyakarta. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bahan artikel “Commoning” the artist-led archive; Sharing Heri Dono’s private archive with a public audience karya Eliza O’Donnell dari The University of Melbourne dan Agni Saraswati dari University of Southampton, yang terbit dalam jurnal Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 27 No. 2 pada 2026. Keduanya menelusuri arsip pribadi Dono di Studio Kalahan, Yogyakarta, bersandar pada wawancara O’Donnell dengan Dono pada 2018, 2024, dan 2025 serta dengan Saraswati pada 2018.
Istilah yang mereka pakai adalah commoning. Bentuknya kata kerja, bukan kata benda, dan maksudnya kurang lebih perbuatan membuka simpanan yang semula milik pribadi supaya bisa dipakai bersama, sambil menolak menjadikannya dagangan atau menyerahkan kendalinya kepada negara. Mengikuti rumusan Melani Budianta yang mereka kutip, commoning adalah tindakan menciptakan atau memproduksi ulang akses bebas atas suatu sumber daya. Dalam kasus Dono, yang dibuka bukan tanah atau uang, melainkan tumpukan buku harian, kliping koran, foto, kaset video, katalog, surat, dan benda-benda sisa kerja studio yang ia kumpulkan sejak 1976.
Rumah Bekas Polisi Kolonial yang Dinamai Kalahan
Studio Kalahan berdiri pada 2001 di Patukan, Sleman, sebelah barat Yogyakarta, mula-mula sebagai studio pribadi Dono lalu juga menjadi tempat tinggalnya. Riwayat bangunannya berlapis-lapis: pada 1933 pernah menjadi kediaman polisi kolonial Belanda, kemudian studio produksi keramik, lalu sekolah dasar, dan kemudian rumah Mahatmo Siswoyo, kerabat Sultan Hamengku Buwono VII. Nama Kalahan, yang berarti kurang lebih pihak yang kalah, diambil dari dua rujukan sekaligus: Salon des Refusés pada 1863, pameran karya-karya yang ditolak juri Salon resmi Paris, dan tokoh Harry Callahan dalam film Dirty Harry tahun 1971, polisi yang bekerja dengan aturannya sendiri.
Pilihan nama itu, tulis O’Donnell dan Saraswati, sejalan dengan letak studio tersebut di luar pagar lembaga resmi. Mereka menempatkannya dalam garis panjang kerja bersama di dunia seni Indonesia: tradisi sanggar sejak masa akhir kolonial, berdirinya Persatuan Ahli Gambar Indonesia pada 1938, lalu ruang-ruang seni alternatif yang bermunculan sejak akhir 1980-an. Yang pertama adalah Cemeti di Yogyakarta, didirikan pada 1988 oleh Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo. Dalam catatan ulang tahun ke-15 Cemeti pada 2003 yang dikutip kedua peneliti, Jaarsma menulis bahwa ketiadaan infrastruktur seni yang mapan membuat perupa bekerja relatif otonom, tidak terlalu terjerat kriteria museum, kurator, media, dan dukungan pemerintah, tetapi keadaan itu justru menimbulkan kebutuhan mendesak akan inisiatif swasta. Sesudah 1998 menyusul KUNCI di Yogyakarta, ruangrupa dan Gudskul di Jakarta, serta Common Room di Bandung. Jejak kerja kolektif itu juga terlihat pada perupa lain, misalnya pada seniman yang memakai karyanya untuk melawan kekerasan.
Studio Kalahan dibuka untuk umum pada 2016, dipicu undangan mengikuti program Yogyakarta Open Studio yang tahun itu bertema arsip seniman. Undangan tersebut mendorong Dono dan Saraswati, yang menjadi manajer studio pada 2016 sampai 2024, membenahi arsip itu secara resmi dan membukanya. Setahun kemudian digelar pameran tunggal sebulan penuh “The Secret Code of Heri Dono” di studio yang sama, lengkap dengan bincang seniman, diskusi, lokakarya, dan kunjungan studio. Sejak itu ratusan lokakarya, kuliah, pameran, dan kunjungan diterima di sana. Bagi Dono, seperti dikatakannya kepada O’Donnell pada 2025, studio itu adalah simpul untuk menemukan wacana baru yang tidak berorientasi tunggal dan tidak berkonsep tunggal. Sejak 2024, pengelolaannya diresmikan menjadi Studio Kalahan Art Foundation untuk mengamankan warisan dan lokasinya dalam jangka panjang.
Sejak 1976, Warisan Kebiasaan Ibunya
Dono, kelahiran 1960, dikenal lewat seni instalasi yang memadukan unsur gerak, bunyi, bayangan, dan perangkat elektronik, dan bekerja lintas medium dari lukisan sampai pertunjukan wayang kulit. Minatnya pada arsip, tulis kedua peneliti, ia warisi dari ibunya, Suwarni. Sejak 1976 ia menyimpan buku harian, buku sketsa, jurnal, kliping koran, buku, katalog pameran, rekaman video, berbagai benda, sampai surat dari lembaga pemerintah dan cendera mata dari residensi serta pameran di luar negeri.
Perpindahan berkali-kali menjadi ujian pertama. Ketika pindah dari Jakarta ke Ronodigdayan, Yogyakarta, untuk kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia pada 1980, ia harus memilih apa yang bisa dibawa karena keterbatasan tempat dan bagasi. Satu yang ia bawa adalah katalog pameran “Karya Seni Seniman Muda Rasela” tahun 1979, pameran pertama yang menampilkannya sebagai peserta, dan sampai kini menjadi dokumen tertua dalam arsipnya. Sesudah itu ia berpindah-pindah rumah kontrakan: Langenastran Kidul pada 1993 sampai 1995, Sonopakis pada 1995 sampai 1998, Potrowangsan pada 1998 sampai 2000, sebelum menetap di Patukan.
Ujian kedua datang dari iklim. Kelembapan tinggi, suhu yang naik turun, jamur, dan rayap adalah musuh lama pengelola koleksi budaya di Indonesia dan Asia Tenggara, ditambah masalah klasik berupa keterbatasan dana, bahan, tenaga, dan keterampilan. Saraswati menyebut tiga tantangan utama dalam pengarsipan mereka: perpindahan bahan dan risiko hilang, kerusakan akibat iklim, serta terbatasnya sumber daya dan pengelolaan. Sebelum 2016, Dono mengurus sendiri arsipnya. Hampir sepuluh tahun kemudian, ia mempekerjakan dua asisten dan seorang manajer arsip. Persoalan merawat benda tua di iklim tropis ini serupa dengan yang dihadapi pengelola benda-benda warisan budaya di banyak daerah.
Salinan yang Boleh Dipegang
Bagian yang paling khas dari cara kerja Studio Kalahan adalah penggandaan. Sebagian besar bahan berbasis kertas yang bisa dilihat pengunjung sebenarnya replika cetak bermutu tinggi, sementara dokumen aslinya disimpan aman dalam lemari. “Kami punya dua jenis arsip: satu yang asli dan kami punya salinannya, saya mendigitalkannya dan kami juga menerjemahkan sebagian bukunya,” kata Saraswati kepada O’Donnell. Sebagian bahan diterjemahkan dari bahasa Indonesia ke Inggris dan Jepang untuk pengunjung asing.
Konsekuensinya berbeda dari lembaga arsip pada umumnya. Pengunjung boleh memegang, memotret, dan mempelajari salinan-salinan itu secara langsung, tanpa kaca pembatas, sarung tangan putih, atau pengawasan. Penataannya pun sengaja menyalahi kelaziman: terbitan, album foto, dan dokumen dijajar di atas meja dan rak dengan sampul menghadap ke atas, disusun menurut urutan waktu, agar orang bisa langsung menyentuhnya. Arsipnya kini tersebar di dua ruang, yang kedua dibangun pada 2024. Dono mengenang bahwa dulu arsipnya cuma tergeletak di atas meja, sedangkan sekarang, dengan basis data di komputer, apa pun bisa dicari dengan cepat.
Isinya tidak melulu dokumen pameran. Ada album foto keikutsertaannya dalam Asia Pacific Triennial pertama di Queensland Art Gallery pada 1993 dan pertunjukan Kuda Binal di Alun-Alun Utara Yogyakarta pada 1992, buku harian bertajuk “Selamat Pagi Indonesia 1986 Art Diary” dari masa sekolah seninya, surat-surat dari 1980-an dan 1990-an, sampai boneka dan komponen mata boneka dari sebuah rumah sakit boneka di Basel, Swiss, pada 1990. “Saya berharap data arsip saya bukan hanya tentang data benda-benda yang ada di dunia seni, tetapi juga tentang psikologi saya,” kata Dono. Baginya, kata kedua peneliti, arsip itu dimaksudkan untuk membuat terlihat hal-hal yang biasanya tak terlihat: jalan pikiran dan sisi tak berwujud dari praktik berkaryanya. Sebagian dokumen yang menyangkut informasi pribadi tetap dibatasi aksesnya, dan kunjungan ke arsip fisiknya hanya bisa dilakukan di tempat dengan janji temu.
Pameran yang Membuka Surat Lama
Arsip itu keluar dari studio lewat pameran “Phantasmagoria of Science and Myth: The Art and Archive of Heri Dono” di galeri Srisasanti Syndicate, Yogyakarta, dari Oktober 2021 sampai Januari 2022. Selain lukisan dan instalasi, pameran itu menampilkan 200 dokumen dan foto dari arsip Studio Kalahan — seluruhnya berupa reproduksi digital, buah kerja pendigitalan yang dimulai Saraswati pada awal 2016. Programnya melebar menjadi tiga belas video berdurasi panjang, terbitan, lokakarya, kuliah performatif, dan seminar publik, yang disusun mengikuti tiga sumbu: pernyataan, warisan, dan pelestarian. Di sanalah salinan surat kedutaan tentang katalog Oxford 1996 itu ditunjukkan kepada publik untuk pertama kalinya. Reproduksi karya-karya yang dimusnahkan kini bisa dilihat di Studio Kalahan.
Dono sendiri berulang kali menyebut arsip sebagai sesuatu yang nilainya setara dengan karyanya. “Seniman tidak hidup selamanya. Ketika masih hidup, mereka bisa mengadakan bincang seniman. Tetapi setelah mereka meninggal, biarkan arsipnya yang berbicara,” katanya dalam sebuah wawancara yang dikutip kedua peneliti. Cara memandang studio sebagai museum yang hidup, bukan museum yang kaku dan berjarak dari orang, juga berbeda dari museum daerah yang menata koleksinya di balik kaca.
Instagram dan Perburuan Lukisan Palsu
Lapis terakhir adalah media sosial. Dono masuk ke media sosial pada 2015, dan sejak 2016 akun @studiokalahan dipakai menyebarkan dokumentasi kegiatan, karya, dan agenda hariannya. Sampai 30 November 2025 pengikutnya sekitar 15.600. Yang menarik, akun itu juga dipakai untuk hal yang biasanya hanya beredar di jaringan tertutup pedagang dan kurator: memperingatkan beredarnya lukisan palsu yang dicatut atas nama Dono. Unggahan pertama semacam itu muncul pada 3 Desember 2017, dan sejak itu lebih dari dua puluh unggahan serupa diterbitkan. Salah satunya pada 12 Mei 2019, memuat gambar tiruan karya “The Last Sarimin” yang ditawarkan lewat lapak daring tak terverifikasi, padahal karya aslinya pernah dipamerkan dalam pameran “Nobody’s Land” di Galeri Nasional Indonesia pada 2008. Teksnya singkat: “Rekan-rekan sekalian, harap berhati-hati dan hubungi kami langsung bila menemukan lukisan palsu Heri Dono. (Dan ini salah satunya).” Unggahan terbaru yang dicatat kedua peneliti bertanggal 25 November 2025.
Mekanismenya dua arah. Kolega dan orang awam mengirimkan foto karya yang mencurigakan lewat Instagram dan WhatsApp, lalu arsip fisik dipakai untuk memeriksanya. “Kami menyimpan arsip karena kadang orang bertanya lewat internet, atau lewat WhatsApp atau media sosial, tentang orang yang menawari mereka lukisan, apakah itu palsu atau bukan. Lalu, karena kami punya arsipnya, dalam beberapa menit kami bisa melihat dan menjawab,” kata Dono. Dengan begitu pengikut akun berubah dari penonton menjadi peserta yang ikut menjaga keaslian rekam jejak seorang seniman.
Kedua penulisnya tidak menyembunyikan sisi yang berat sebelah dari model ini. Instagram dimiliki Meta, perusahaan swasta yang bisa mengubah algoritma, kebijakan, dan syarat akses kapan saja, sehingga keterbukaan yang dinikmati Studio Kalahan bergantung pada infrastruktur yang justru mengambil untung dari pertukaran itu. Mereka juga menegaskan bahwa yang berlangsung adalah commoning yang dikelola dan diotorisasi: Dono membuka akses bagi peneliti, mahasiswa, dan khalayak luas, tetapi tetap memegang kepemilikan dan kendali atas apa yang dibagikan, kapan, dan dengan cara apa. Keterbatasan penelitiannya pun mereka akui sendiri — Saraswati adalah orang dalam yang membangun arsip itu selama delapan tahun, sehingga kedekatannya bisa memengaruhi cara praktik tersebut digambarkan, dan mereka mengimbanginya dengan bukti dokumenter serta jarak analitis O’Donnell sebagai orang luar. Temuan ini juga bertumpu pada satu arsip satu seniman, bukan gambaran umum arsip seniman di Indonesia. Studio Kalahan hari ini beroperasi dengan dua ruang arsip, dua asisten, seorang manajer arsip, dan sebuah yayasan yang dibentuk untuk menjaga kelanjutannya.















