Cekricek.id — Astra Space, perusahaan roket asal California yang pernah kehilangan hampir seluruh nilainya, tengah menggalang dana 250 juta dolar AS pada valuasi 1 miliar dolar AS. Penggalangan itu diperkirakan rampung pada kuartal berjalan dan menjadi upaya paling serius perusahaan untuk kembali ke bisnis peluncuran.
Mengutip laporan Reuters yang ditulis Joey Roulette, Jumat (14/8/2026), rencana itu disampaikan langsung oleh Chief Executive Officer Astra Space, Chris Kemp. Dengan kurs perkiraan Rp16.300 per dolar AS, dana yang dicari setara sekitar Rp4,1 triliun, sementara valuasi 1 miliar dolar AS setara sekitar Rp16,3 triliun.
Jatuh dari 2 Miliar Dolar ke 11 Juta Dolar
Angka valuasi itu menjadi menarik bila ditaruh berdampingan dengan riwayat perusahaan. Astra melantai di bursa pada 2021 dan sempat dihargai lebih dari 2 miliar dolar AS. Rentetan kegagalan peluncuran membuat kepercayaan investor rontok. Pada 2024 perusahaan dibawa kembali menjadi perusahaan tertutup dengan nilai hanya 11,25 juta dolar AS, atau sekitar Rp183 miliar.
Roket generasi pertama perusahaan hanya berhasil dua kali dari enam upaya peluncuran sebelum akhirnya dihentikan. Tahun lalu Astra menghimpun 80 juta dolar AS, tetapi dana itu sebagian besar habis untuk biaya hukum dan penyelesaian gugatan pemegang saham, bukan untuk pengembangan kendaraan peluncur.
Baca juga: Rompi Antiradiasi AstroRad Diuji di Misi Artemis I, Pangkas Paparan hingga 60 Persen
Kegagalan itu terjadi ketika Astra menjanjikan sesuatu yang belum pernah dilakukan siapa pun, yakni peluncuran harian dengan roket kecil berbiaya rendah. Janji tersebut menarik dana besar pada masa penawaran umum lewat perusahaan cek kosong, tetapi tidak pernah terbukti di landasan. Nilai sahamnya anjlok, perdagangan dihentikan, lalu perusahaan ditarik dari bursa oleh pendirinya sendiri.
Bertaruh pada Roket Sekali Pakai
Dana baru akan dipakai untuk memperbesar program peluncuran bergerak dan bisnis pendorong satelit. Astra sedang mengembangkan Rocket 4, kendaraan peluncur berukuran lebih besar yang dirancang sekali pakai dan ditargetkan terbang pada 2027. Harga jual yang dibidik sekitar 5 juta dolar AS per peluncuran, atau sekitar Rp81,5 miliar.
Pilihan itu bertolak belakang dengan arah industri. SpaceX, Blue Origin, dan Rocket Lab berlomba menyempurnakan roket yang bisa dipakai berulang kali demi menekan biaya per kilogram muatan. Astra justru memilih kendaraan sekali pakai yang murah, ringan, dan bisa dikirim ke mana saja, dengan pasar utama satelit militer yang harus diluncurkan cepat pada waktu yang tidak bisa direncanakan jauh hari.
Kemp menggambarkan keunggulan itu dalam pernyataan berbahasa Inggris kepada Reuters. Ia menyebut sistem peluncuran bergerak membuat lokasi tembak tidak lagi terikat pada landasan tetap yang bisa dipantau lawan. “I can have hundreds of spaceports, and you don’t even know where they are, nor does China,” kata Kemp.
Baca juga: LG Gandeng Nvidia Bangun Robot Humanoid dan Pusat Data AI
Perbedaan pendekatan itu bertumpu pada asumsi yang berbeda soal siapa pembelinya. Roket yang bisa dipakai ulang menguntungkan bila muatannya besar dan jadwalnya padat. Roket kecil sekali pakai baru masuk akal bila pembeli bersedia membayar mahal untuk kepastian waktu dan lokasi, dan sejauh ini pembeli seperti itu paling banyak datang dari kalangan pertahanan.
Pendorong Satelit Jadi Penyangga
Di luar roket, Astra menjalankan bisnis sistem propulsi satelit yang selama ini menjadi penyangga pendapatan. Perusahaan telah menjual ratusan pendorong kepada operator satelit, produk yang dipakai untuk menjaga orbit dan mengubah posisi wahana setelah lepas dari kendaraan peluncur. Berbeda dengan bisnis peluncuran yang menuntut modal besar dan bertaruh pada satu peristiwa, penjualan pendorong menghasilkan arus kas yang lebih stabil.
Minat investor terhadap perusahaan antariksa memang sedang tinggi. Kebutuhan konstelasi satelit komunikasi, penginderaan jauh, dan proyek pertahanan mendorong permintaan akses ke orbit rendah bumi, sementara jumlah penyedia peluncuran yang benar-benar operasional masih terbatas. Kondisi itu yang membuka ruang bagi pemain yang pernah gagal untuk mencoba lagi.
Baca juga: Google Rilis Pixel 11 dengan Tensor G6 dan Zoom 120 Kali
Meski begitu, valuasi 1 miliar dolar AS masih harus dibuktikan dengan penerbangan yang berhasil. Rocket 4 belum pernah terbang, dan tenggat 2027 memberi perusahaan waktu kurang dari dua tahun untuk menuntaskan pengembangan, pengujian statis, hingga perizinan dari otoritas penerbangan Amerika Serikat. Astra belum mengumumkan nama investor yang ikut dalam putaran pendanaan ini.

















