Cekricek.id — Maersk dan Hapag-Lloyd mengembalikan satu lagi layanan peti kemas Asia–Eropa ke jalur Terusan Suez, memutus rute memutar lewat Tanjung Harapan yang mereka pakai sejak gangguan keamanan di Laut Merah. Layanan yang dialihkan adalah AE19, yang menghubungkan Asia, Laut Tengah, Arab Saudi, dan Eropa.
Mengutip Euronews, Jumat (14/8/2026), perpindahan rute itu berlaku mulai pelayaran arah barat kapal Berlin Maersk pada pertengahan Agustus 2026. Hapag-Lloyd menyebut pemakaian Terusan Suez memangkas waktu tempuh sekitar empat pekan dibanding jalur memutari benua Afrika.
Selisih waktu sebesar itu berpengaruh langsung pada biaya. Rute memutar menambah ribuan mil laut, menaikkan konsumsi bahan bakar, dan menahan kapal lebih lama di laut sehingga barang lebih lambat sampai ke gudang pembeli di Eropa.
Meski begitu, kedua perusahaan menegaskan langkah tersebut bukan tanda kembalinya seluruh jaringan pelayaran ke Laut Merah. Hapag-Lloyd menyebut pengalihan AE19 sebagai penyesuaian terarah untuk satu layanan terpilih, bukan pengembalian jaringan secara menyeluruh.
Baca juga: Ekspor Nonmigas Juni Naik 8,68 Persen, Defisit Dagang Menyusut Jadi USD 0,45 Miliar
Perusahaan pelayaran besar mengalihkan armada dari Laut Merah setelah kapal-kapal dagang menjadi sasaran serangan di jalur tersebut. Sejak itu, rute Asia–Eropa yang biasanya melewati Terusan Suez dibelokkan mengelilingi ujung selatan Afrika, dan risiko keamanan di kawasan itu belum sepenuhnya hilang sampai sekarang.
AE19 sendiri bukan layanan Asia–Eropa biasa karena rutenya menyinggahi Laut Tengah dan Arab Saudi. Layanan semacam ini paling terpukul oleh jalur memutar, sebab tujuan di kawasan Timur Tengah justru berada di dekat Terusan Suez dan menjadi jauh bila kapal harus berlayar mengitari Afrika lebih dulu.
Empat Layanan Kembali, Sembilan Masih Memutari Afrika
Sejak awal Juli 2026, Maersk telah memindahkan empat layanan kembali ke Terusan Suez, yaitu AE19, AE15, MECL, dan WAF6. Pada saat yang sama, sembilan layanan lain milik perusahaan pelayaran asal Denmark itu masih menempuh rute memutari Afrika.
Perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa mayoritas kapasitas angkut Asia–Eropa milik Maersk belum kembali ke jalur pendek. Pengembalian dilakukan layanan demi layanan, bukan sekaligus untuk seluruh jaringan.
Bagi Mesir, pengalihan rute selama ini memangkas penerimaan Otoritas Terusan Suez, salah satu sumber utama devisa negara tersebut. Setiap kapal yang memilih Tanjung Harapan berarti satu pembayaran biaya lintas yang hilang dari kas otoritas.
Baca juga: Kemendag Dorong Daya Saing Produk Mamin Tembus Pasar Global
Analis Menilai Belum Ada Kembali Besar-besaran
Manajer Senior Riset Peti Kemas di konsultan maritim Drewry, Simon Heaney, menilai keputusan rute masih ditentukan situasi keamanan di Timur Tengah yang belum selesai. Dalam pernyataan berbahasa Inggris ia mengatakan, “While the latter remains unresolved, we do not expect to see a meaningful return of Asia-to-Europe loops via Suez.”
Heaney menambahkan, sekalipun keamanan pulih, perusahaan pelayaran diperkirakan kembali secara bertahap. Alasannya bersifat komersial: rute panjang menyerap lebih banyak kapal, sehingga pemendekan rute secara serentak akan melepas kapasitas besar ke pasar dan menekan tarif angkut.
“Carriers have to manage capacity wisely due to the large number of new ships being delivered. Shortening rotations en masse will see rates slide dramatically,” jelas Heaney dalam pernyataan berbahasa Inggris.
Ia mengingatkan galangan tengah mengirimkan banyak kapal baru pesanan lama, sehingga pasokan ruang angkut di pasar sudah berlimpah. Dalam kondisi seperti itu, memendekkan rotasi berarti menambah lagi kapasitas menganggur dan menjatuhkan harga jasa angkut yang menjadi sumber pendapatan perusahaan pelayaran.
Baca juga: Inggris Larang Barbeku Sekali Pakai dan Kerahkan Militer
Mesir Terus Membujuk Pelayaran Kembali
Otoritas Terusan Suez yang dipimpin Laksamana Osama Rabie terus mengajak perusahaan pelayaran memakai kembali jalur itu. Pada Juni 2026, otoritas tersebut mengedepankan waktu transit yang lebih pendek dan penghematan biaya operasi sebagai alasan utama.
Selain Maersk dan Hapag-Lloyd, perusahaan pelayaran asal Prancis CMA CGM juga mencatat aktivitas yang mulai pulih di jalur tersebut. Namun sebagian besar kapasitas rute Asia–Eropa masih berada di jalur Tanjung Harapan, sehingga pemulihan lalu lintas Terusan Suez berjalan sepotong-sepotong.
Euronews memperbarui laporannya pada Sabtu (15/8/2026). Sampai pemutakhiran itu, belum ada pengumuman baru dari Maersk maupun Hapag-Lloyd mengenai layanan berikutnya yang akan dikembalikan ke Terusan Suez.


















