Banjir dan Longsor Landa China, 76 Tewas; Xi Serukan Perbaikan Mitigasi

Jalan dan bangunan terendam banjir

Ilustrasi jalan yang terendam banjir. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Sedikitnya 76 orang tewas akibat rangkaian banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah China dalam beberapa hari terakhir. Di tengah bencana itu, Presiden Xi Jinping menyerukan perbaikan kemampuan negara dalam mencegah dan menanggapi bencana alam, sebagaimana dimuat jurnal resmi Partai Komunis China.

Mengutip laporan Reuters melalui Asharq Al-Awsat, Sabtu (15/8/2026), longsor di Provinsi Gansu di barat laut menewaskan 25 orang, sedangkan longsor di Chongqing di barat daya menewaskan 51 orang. Cuaca ekstrem turut merusak kawasan ibu kota Beijing dan sebagian Provinsi Zhejiang yang sempat diterjang Topan Dolphin pada awal bulan.

China setiap musim panas menghadapi hujan deras yang memicu banjir bandang dan longsor, terutama di wilayah pegunungan di barat dan barat daya. Musim monsun tahun ini kembali membawa curah hujan tinggi yang mengempas sejumlah provinsi secara beruntun, menewaskan puluhan orang dan merusak rumah, jalan, serta lahan pertanian.

Seruan Xi Jinping

Seruan Xi termuat dalam sebuah artikel yang diterbitkan jurnal Qiushi pada Sabtu (15/8/2026), yang memuat pidatonya pada sesi belajar Politiburo. Xi mengaitkan meningkatnya frekuensi bencana dengan pemanasan global yang memperparah dampak cuaca ekstrem.

Dalam pernyataan berbahasa Inggris yang dikutip Reuters, Xi mengatakan, “As global warming continues, extreme weather events and disasters such as torrential rains, floods, typhoons, and droughts are increasing significantly, exacerbating their destructive impact.” Ia menegaskan China akan terus, dalam kata-katanya, “continuously improve our ability and level of prevention and response to various natural disasters, and effectively safeguard the lives and property of the people and social stability.”

Baca juga: Hujan Rekor Rendam Chiba Jepang, Sembilan Tewas dan 400.000 Warga Mengungsi

Qiushi merupakan jurnal teoretis utama Partai Komunis China yang kerap dipakai untuk menyampaikan arahan pemimpin tertinggi kepada aparat di seluruh negeri. Pemuatan pidato Xi tentang mitigasi bencana bertepatan dengan puncak musim bencana, ketika berbagai daerah tengah bergulat menangani banjir dan longsor.

Musim Hujan yang Mematikan

Pihak berwenang mengerahkan tim penyelamat, membuka posko pengungsian, dan mengeluarkan peringatan cuaca di sejumlah provinsi yang paling terdampak. Longsor di daerah pegunungan kerap terjadi tiba-tiba dan menimbun rumah warga, sehingga proses pencarian korban berlangsung lambat dan berbahaya.

Sebelumnya, Topan Dolphin memaksa evakuasi lebih dari satu juta warga di China timur pada awal bulan ini, menyebabkan pembatalan penerbangan dan penutupan sekolah. Rangkaian bencana ini menambah tekanan pada sistem tanggap darurat di berbagai daerah yang sudah kewalahan menangani dampak cuaca ekstrem sepanjang musim panas.

Baca juga: Gempa M7,7 Guncang Flores NTT, 47 Tewas dan 2.000 Warga Mengungsi

Fokus pada Infrastruktur Tahan Bencana

Pemerintah China dalam beberapa tahun terakhir mendorong pembangunan infrastruktur pengendali banjir, sistem peringatan dini, dan penataan permukiman di kawasan rawan longsor. Meski demikian, curah hujan yang makin ekstrem dan tak menentu berulang kali menguji ketahanan sistem tersebut, khususnya di kota-kota padat dan lembah-lembah sungai.

Bencana hidrometeorologi menjadi tantangan berulang bagi China, negara dengan wilayah luas yang membentang dari kawasan kering di barat laut hingga pesisir di timur. Banjir sungai besar, banjir bandang di perkotaan, dan longsor di dataran tinggi kerap terjadi bersamaan selama musim monsun yang berlangsung dari Juni hingga Agustus.

Para ahli iklim menyebut pemanasan global membuat pola hujan makin ekstrem, dengan curah hujan sangat tinggi yang turun dalam waktu singkat sehingga melampaui kapasitas saluran drainase dan bendungan. Kerugian ekonomi akibat banjir dan longsor setiap tahun ditaksir mencapai miliaran dolar, mencakup kerusakan rumah, lahan pertanian, jalan, dan jaringan listrik.

Provinsi Gansu dan wilayah Chongqing termasuk daerah bertopografi berbukit dengan lereng curam dan tanah yang mudah jenuh air, sehingga rentan terhadap longsor ketika hujan turun terus-menerus. Curah hujan yang memicu bencana kali ini disebut termasuk yang tertinggi dalam beberapa tahun di sejumlah titik.

Baca juga: Kasus Ebola Kongo Tembus 4.665, Africa CDC Desak Vaksinasi Segera

Otoritas setempat menyatakan operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di lokasi longsor di Gansu dan Chongqing, sementara jumlah korban berpotensi bertambah seiring evakuasi warga yang terjebak di kawasan terpencil. Badan cuaca China memperingatkan hujan lebat masih berpotensi turun di sejumlah wilayah dalam beberapa hari ke depan.

Baca Juga

Seseorang mengenakan setelan jas
Presiden Korsel Lee Ajak Korut Akhiri Perang Korea di Hari Kemerdekaan
Menara pendingin pembangkit listrik tenaga nuklir
IAEA: PLTN Zaporizhzhia Kini Bergantung pada Satu Saluran Listrik
Karangan bunga dalam upacara peringatan
PM Jepang Takaichi Absen dari Yasukuni di Peringatan 81 Tahun Akhir Perang
Kobaran api dan asap membumbung
Ukraina Gempur Moskow dengan Ratusan Drone, Enam Tewas di Rusia
Kendaraan militer dengan latar gedung-gedung kota di Taiwan
Parlemen Taiwan Sahkan Anggaran 93 Miliar Dolar Usai Buntu 266 Hari
Anjungan pengeboran lepas pantai di tengah laut
BP Raih Lisensi Gas Loran Fase Dua di Venezuela Bersama Mitra Teluk