Cekricek.id — Empat sungai terbesar Eropa — Rhine, Danube, Loire, dan Po — turun ke level air terendah yang pernah tercatat pada Agustus 2026, saat kekeringan dan gelombang panas berkepanjangan mencengkeram sebagian besar benua itu. Penyusutan air mengganggu pelayaran, pembangkit listrik, dan pertanian di banyak negara.
Dikutip dari laporan Pusat Riset Bersama (Joint Research Centre/JRC) Komisi Eropa, joint-research-centre.ec.europa.eu, Rabu (12/8/2026), sekitar 50 persen wilayah Uni Eropa dan Inggris berada dalam kondisi kekeringan dengan berbagai tingkat keparahan. Sebanyak 9 persen di antaranya sudah masuk level siaga, yang menandakan tekanan pada vegetasi dan tanaman pangan.
Sebagai perbandingan, pada tahun kekeringan luar biasa 2022 sebanyak 60 persen wilayah terdampak dengan 11 persen di level siaga, sedangkan pada 2018 sebanyak 54 persen terdampak dengan 3 persen di level siaga. Kondisi tahun ini menempatkan 2026 sebagai salah satu tahun terkering dalam catatan.
Baca juga: Hujan Rekor Rendam Chiba Jepang, Sembilan Tewas dan 400.000 Warga Mengungsi
Rekor Baru di Rhine dan Danube
Mengutip The National, Kamis (13/8/2026), debit Sungai Rhine di Jerman anjlok hingga sekitar 692 meter kubik per detik, jauh di bawah rata-rata musiman sekitar 1.900 meter kubik per detik. Ketinggian air di titik ukur Kaub sempat menyentuh sekitar 25 sentimeter, menyamai rekor terendah 2018, dan diperkirakan turun lagi mendekati level terendah sejak pencatatan dimulai pada 1880. Di Lobith, tempat Rhine memasuki Belanda, debit menyentuh angka terendah yang pernah tercatat, sementara Belanda menghadapi defisit curah hujan nasional sekitar 300 milimeter yang disebut sangat tidak biasa.
Danube juga mengalami aliran terendah di Serbia, Bulgaria, dan Rumania. Kapal pesiar sungai terganggu; sebuah kapal bahkan kandas di gosong pasir di Bulgaria. Di Rumania, otoritas menggunakan peledakan terkendali untuk mengarahkan air Danube ke sistem pendingin pembangkit listrik tenaga nuklir Cernavoda. Air yang menyusut turut menyingkap bangkai kapal perang era Perang Dunia II di Serbia.
Kombinasi Panas dan Tekanan Iklim
Kepala Informasi Iklim Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) John Kennedy menjelaskan penyebab cuaca ekstrem yang beruntun ini. Mengutip CGTN, Rabu (12/8/2026), dalam pernyataan berbahasa Inggris ia mengatakan, “What we have seen over the last few months is the combined effect of long-term warming with a persistent pattern of alternating high- and low-pressure systems stretching across the Northern Hemisphere.”
Data yang dikutip WMO menunjukkan Juli 2026 menjadi Juli terpanas kedua yang pernah tercatat secara global, dengan suhu permukaan sekitar 1,47 derajat Celsius di atas tingkat praindustri. Eropa Barat mencatat periode Juni–Juli terpanas sepanjang sejarah pengukuran, dan sejumlah negara mengalami gelombang panas keempat sejak Mei.
Baca juga: Inggris Larang Barbeku Sekali Pakai dan Kerahkan Militer
Guru besar hidrologi dari University of Birmingham, David Hannah, menautkan kondisi ini dengan pemanasan global. Dikutip dari swissinfo dalam ulasan pada awal Agustus, ia menyatakan, “Climate change intensifies this by raising baseline temperatures, making hot, dry periods more effective at drying out landscapes and reducing river flows.”
Dampak ke Energi, Pertanian, dan Kebakaran
Kekeringan turut menekan produksi listrik di sejumlah negara. Rendahnya debit sungai membatasi pasokan air pendingin bagi armada pembangkit nuklir Prancis, sementara di Hungaria satu-satunya pembangkit nuklir dilaporkan dihentikan untuk pertama kalinya dalam 44 tahun, memangkas sekitar 40 persen kapasitas listrik. Kombinasi panas ekstrem, kebakaran, dan sungai yang mengering memperlihatkan bagaimana satu musim kemarau dapat menekan banyak sektor sekaligus.
Laporan JRC mencatat perkiraan panen tanaman musim dingin turun 1 hingga 4 persen dibanding bulan sebelumnya, sedangkan jagung dan bunga matahari diperkirakan menyusut 6 hingga 7 persen. Luas lahan terbakar akibat kebakaran hutan di Uni Eropa mencapai 505.683 hektare hingga 5 Agustus 2026, jauh di atas 379.392 hektare pada periode yang sama tahun sebelumnya; sepanjang 2025 total lahan terbakar mencapai rekor 1.034.552 hektare.
Baca juga: Kasus Ebola Kongo Tembus 4.665, Africa CDC Desak Vaksinasi Segera
Pembatasan muatan kapal kargo di Rhine memaksa pengangkut mengurangi beban dan menambah jumlah pelayaran, sehingga biaya angkut naik. Organisasi Kesehatan Dunia sebelumnya melaporkan lebih dari 10.000 kematian berlebih di lima negara akibat panas. Prakiraan aliran rendah diperkirakan bertahan hingga akhir tahun jika curah hujan belum pulih.

















