Cekricek.id — Institut Teknologi Sepuluh Nopember menghadirkan sistem pendampingan bagi calon wirausaha dan perusahaan rintisan melalui CEO Talk 2026. Forum tersebut digelar di Ruang Sidang Lantai 1 Gedung Rektorat ITS, Sabtu (15/8/2026), dan menjadi bagian dari target kampus mendorong tujuh persen lulusannya berkarier sebagai wirausahawan pada 2027.
Dikutip dari laman resmi Institut Teknologi Sepuluh Nopember, its.ac.id, Minggu (16/8/2026), CEO Talk telah berjalan sejak 2020. Pada edisi tahun ini forum itu memperluas perannya melalui program Mentoring System, skema pendampingan bagi calon wirausaha dan perusahaan rintisan yang terafiliasi dengan ITS. Penjelasan tersebut disampaikan Kepala Pusat Studi Pengembangan Industri dan Kebijakan Publik ITS, Dr Ir Arman Hakim Nasution MEng.
Wirausaha Mumpuni Dinilai Bantu Selesaikan Persoalan Bangsa
“Melalui kualitas wirausahawan yang mumpuni, berbagai persoalan bangsa diharapkan dapat lebih terdukung dan terpecahkan bersama,” kata Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian ITS, Prof Ir Agus Muhamad Hatta ST MSc PhD, saat membuka CEO Talk 2026.
Baca juga: Pakar ITB Ingatkan Jangan Tanam Massal Pascakebakaran Bromo
Penekanan pada mutu itu membedakan pendekatan tahun ini dari sekadar menambah jumlah lulusan yang membuka usaha. Lewat Mentoring System, pendampingan tidak berhenti pada satu sesi bicara, melainkan berlanjut sebagai pengawalan terhadap usaha rintisan yang tumbuh dari lingkungan kampus.
Forum yang berlangsung di kompleks kampus ITS Surabaya itu menempatkan kewirausahaan sebagai jalur karier yang disiapkan sejak masa studi. Sejak 2020, CEO Talk dipakai kampus untuk mempertemukan mahasiswa dengan praktisi usaha, dan pada 2026 pertemuan tersebut disambung dengan pendampingan berkelanjutan lewat Mentoring System bagi perusahaan rintisan yang terafiliasi dengan ITS.
Investor Mencari Talenta yang Bisa Didampingi
Forum itu menghadirkan pembicara dari kalangan investor dan pendiri perusahaan rintisan. Direktur Brighsun Group and Technological Innovator Investment Liaison, Philip Tam, memaparkan cara pemodal membaca peluang pada usaha tahap awal.
Baca juga: Inovasi UGM Jadi SNI Pertama Kewirausahaan Gotong Royong
“Investor juga mencari talenta muda yang dapat dikembangkan dan didampingi dengan baik,” tutur Philip Tam.
Peringatan datang dari Founder Yieldra Protocol, Simon Zhang, yang menyoroti sebab kegagalan paling lekas menimpa usaha rintisan. “Perusahaan rintisan dapat gagal dengan cepat ketika tidak memahami kebutuhan pasar,” tegas Simon Zhang.
Menopang Target Tujuh Persen Lulusan
Melalui pendampingan dan perluasan jejaring kewirausahaan, target tujuh persen lulusan sebagai wirausahawan tidak hanya diarahkan pada peningkatan jumlah, tetapi juga kesiapan dalam mengembangkan usaha. Upaya tersebut sekaligus disebut menopang Sustainable Development Goals poin ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pembangunan ekosistem kewirausahaan yang berkelanjutan.
Baca juga: USU Dorong Kawasan Konservasi Perairan Pulau Pandang Batu Bara
Kehadiran pembicara asing pada forum di Surabaya itu memberi mahasiswa gambaran langsung mengenai ukuran yang dipakai pemodal lintas negara, mulai dari kesiapan tim hingga pemahaman atas kebutuhan pasar yang hendak disasar.















