Cekricek.id — Rangkaian pertemuan Utusan Khusus Amerika Serikat Jared Kushner di Timur Tengah berakhir tanpa terobosan berarti. Israel dan Washington justru menegaskan satu syarat yang sama, yaitu Hamas harus melucuti senjatanya lebih dulu sebelum pembangunan kembali Jalur Gaza boleh dimulai.
Mengutip Euronews, Senin (17/8/2026), Kushner yang juga menantu Presiden Donald Trump lebih dulu menemui Kepala Biro Politik Hamas Khalil al-Hayya, sebelum bertolak menemui Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Agenda kedua pertemuan itu sama, yakni peta jalan perdamaian Gaza berisi 15 poin yang disusun Trump dan ditolak Netanyahu secara terbuka pada awal bulan ini.
Baca juga: Serangan Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 15 Orang
Peta jalan tersebut menawarkan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza. Sebagai imbalannya, Hamas harus menyerahkan senjata dan melepaskan kendali pemerintahan atas wilayah itu. Hamas sudah menyatakan menerima usulan tersebut, sementara Netanyahu mengaitkan penarikan pasukan dengan syarat Hamas benar-benar melucuti diri.
Jenderal Amerika Diusulkan Mengawasi Penyerahan Senjata
Seorang pejabat senior Israel yang tidak bersedia disebut namanya mengatakan kepada AFP bahwa kedua pihak sepakat tidak akan ada penempatan ulang pasukan maupun rekonstruksi di Jalur Gaza sebelum Hamas dilucuti di seluruh wilayah itu. Langkah pertama demiliterisasi, menurut pejabat tersebut, adalah mewajibkan Hamas menyerahkan senjatanya untuk dinonaktifkan di bawah pengawasan seorang jenderal Amerika Serikat.
Kantor Netanyahu menyebut pertemuan itu berlangsung mendalam dan konstruktif. Israel dan pemerintahan Trump disebut sama-sama bertekad bahwa pelucutan senjata serta demiliterisasi Gaza harus berjalan cepat dan rampung sebelum rekonstruksi dimulai. Dari pertemuan itu lahir dua kelompok kerja, masing-masing menangani urusan pelucutan senjata dan kesehatan publik.
Baca juga: Anthony Fauci Terancam Penjara jika Terbukti Menghina Kongres Amerika Serikat
Kushner memberi perkiraan yang jauh lebih optimistis saat berbicara kepada Fox News. “We could be seeing progress in as little as 30 days, hopefully starting to take some of the weapons out,” kata Jared Kushner, Utusan Khusus Amerika Serikat. Ucapan itu berarti kemajuan bisa terlihat hanya dalam 30 hari, dengan sebagian senjata mulai ditarik keluar.
Delapan Menteri Luar Negeri Bersuara Bersama
Penolakan Netanyahu terhadap peta jalan itu memicu reaksi keras dari negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim. Delapan menteri luar negeri dari Turki, Mesir, Indonesia, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab menerbitkan pernyataan bersama pada Minggu (16/8/2026).
Dalam pernyataan itu, kedelapan menteri menilai penolakan terhadap peta jalan sama dengan penolakan eksplisit untuk melanjutkan pelaksanaan rencana komprehensif yang sudah disepakati sebelumnya. Sikap Israel, menurut mereka, secara langsung mengancam menggagalkan upaya besar yang dikerahkan Trump untuk mengakhiri perang di Gaza.
Baca juga: Pemimpin Hamas ke Kairo Jelang Lawatan Utusan AS Kushner
Dua Kelompok Kerja Jadi Satu-satunya Hasil
Sampai Kushner meninggalkan kawasan, belum ada kesepakatan mengenai kapan pasukan Israel mulai ditarik dan siapa yang akan mengelola Gaza setelah Hamas menyerahkan kekuasaan. Dua kelompok kerja yang baru dibentuk menjadi satu-satunya hasil konkret dari pembicaraan tersebut.
Gencatan senjata di Gaza mulai berlaku sejak Oktober lalu, namun operasi militer Israel tidak berhenti sepenuhnya. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 1.250 orang tewas di Jalur Gaza sejak kesepakatan penghentian pertempuran itu diteken.















