Cekricek.id — Teleskop Antariksa James Webb menemukan mineral lempung pada bulan-bulan kecil di lingkar dalam Neptunus. Mineral itu hanya terbentuk bila ada air cair, sehingga menguatkan dugaan bahwa satelit-satelit mungil tersebut sebenarnya puing dunia es jauh lebih besar yang hancur miliaran tahun lalu.
Mengutip ScienceDaily, Jumat (14/8/2026), temuan itu dilaporkan Ryleigh Davis, lulusan program doktor California Institute of Technology yang kini menjadi peneliti pascadoktoral di University of California San Diego, bersama Mike Brown, Richard and Barbara Rosenberg Professor of Planetary Astronomy di Caltech. Laporan lengkap mereka terbit sebagai makalah berjudul Neptune’s Inner Moons and Rings Are Exposed Icy Body Interiors di jurnal Science Advances edisi 2026, bersama Matthew Belyakov dan Zachariah Milby dari Caltech serta Ian Wong dari Space Telescope Science Institute.
Baca juga: Prilly Latuconsina Bocorkan Proyek Delapan Bulan: There is Something Coming
Mineral yang Hanya Lahir Bersama Air
Tim mengarahkan Webb ke tiga bulan di lingkar dalam Neptunus — Larissa, Galatea, dan Proteus — serta ke sistem cincin planet itu. Spektrum inframerah yang terkumpul memperlihatkan tanda filosilikat kaya magnesium, kelompok mineral mirip lempung yang di Bumi terbentuk ketika batuan bersentuhan dengan air cair dalam waktu lama.
Yang membuat hasil itu janggal, permukaan bulan-bulan tersebut justru tidak memperlihatkan es air. Padahal mineral lempung semacam itu mestinya lahir jauh di dalam benda langit yang jauh lebih besar, tempat panas dan air cair bisa bertahan.
“Filosilikat belum pernah terdeteksi di mana pun di tata surya luar melampaui Jupiter, jadi itu tidak ada dalam daftar hal yang kami cari,” kata Ryleigh Davis, peneliti pascadoktoral University of California San Diego.
Baca juga: Bos NASA Yakin Artemis 3 Meluncur 2027, Uji Dua Pendarat Bulan di Orbit
Jejak Bencana Saat Triton Ditangkap
Penjelasan yang diajukan tim bertumpu pada riwayat kelam sistem Neptunus. Triton, bulan terbesar planet itu, mengorbit berlawanan arah rotasi Neptunus — tanda kuat bahwa ia bukan lahir di sana, melainkan benda dari sabuk Kuiper yang tertangkap gravitasi Neptunus.
Penangkapan sebesar itu tidak berlangsung damai. Bulan-bulan asli yang sudah ada lebih dulu diperkirakan saling bertabrakan dan tercabik, lalu sisanya berkumpul kembali menjadi satelit-satelit kecil dan cincin yang kita lihat sekarang.
“Jika Neptunus dulu punya sistem bulan yang mirip dengan yang kita lihat di Uranus hari ini, kami memperkirakan sistem itu akan hancur total oleh proses penangkapan Triton,” ujar Davis.
Isi Perut Dunia Es yang Terbuka
Bila skenario itu benar, bulan-bulan kecil Neptunus memberi astronom sesuatu yang biasanya mustahil diraih: akses langsung ke material yang semula terkubur jauh di bawah kerak es sebuah dunia. Bencana purba itu, dalam istilah tim peneliti, membalik bagian dalam bulan-bulan tua ke permukaan.
Baca juga: Teleskop James Webb Temukan Debu dan Air Bertahan di Dekat Lubang Hitam Pusat Bima Sakti
“Kadang dalam sains kita sedang mencari bukti untuk menguji satu hipotesis tertentu, dan kadang sesuatu yang sama sekali tidak kita pikirkan justru menampar wajah kita,” kata Mike Brown, Richard and Barbara Rosenberg Professor of Planetary Astronomy di Caltech.
Menurut keterangan Caltech, penelitian ini didanai NASA melalui Space Telescope Science Institute. Neptunus sendiri belum pernah dikunjungi wahana antariksa sejak Voyager 2 melintas pada 1989, sehingga pengamatan jarak jauh seperti ini menjadi satu-satunya cara memeriksa komposisi permukaan bulan-bulannya. Tim menyatakan langkah berikutnya adalah memburu tanda mineral serupa pada benda-benda lain di tata surya luar untuk menguji apakah pola itu umum atau khas Neptunus.















