Cekricek.id — Tim astronom dari University of Copenhagen dan sejumlah lembaga mitra untuk pertama kalinya mengonfirmasi keberadaan aliran bintang gugus bola (globular cluster stellar stream) di luar galaksi Bima Sakti. Aliran bintang berupa jejak tipis bintang-bintang yang tercerabut dari gugus bola akibat tarikan gravitasi itu ditemukan di galaksi ultra-difus bernama UGC 9050-Dw1, lewat pengamatan Teleskop Antariksa Hubble.
Temuan itu dipaparkan Julie Kiel Holm, mahasiswa doktoral di Niels Bohr Institute, bersama Sarah Pearson, profesor madya di DTU Space, dan tim peneliti dari sejumlah lembaga lain lewat artikel Evidence for the first globular cluster stellar stream beyond the Milky Way dalam jurnal Nature pada 2026.
Selama Ini Hanya Terlihat di Galaksi Sendiri
Aliran bintang gugus bola sudah lama dipelajari astronom, tetapi selalu di dalam galaksi Bima Sakti sendiri karena posisinya yang relatif dekat sehingga jejak bintang tipis itu bisa terdeteksi. Struktur serupa di luar Bima Sakti sulit diamati karena jaraknya yang jauh membuat cahaya bintang-bintang penyusun aliran itu terlalu redup untuk ditangkap teleskop, bahkan dengan instrumen sekelas Hubble sekalipun.
“Kami menemukan aliran bintang gugus bola di galaksi lain. Ini pertama kalinya aliran semacam itu teramati di luar galaksi kita sendiri,” kata Holm.
Aliran Bintang sebagai Penggaris Materi Gelap
Bentuk dan sebaran aliran bintang sangat sensitif terhadap tarikan gravitasi di sekitarnya, termasuk gravitasi dari materi gelap yang tidak terlihat langsung tetapi memengaruhi pergerakan benda-benda di sekitarnya. Karena itu, aliran bintang sudah lama dipakai astronom sebagai semacam penggaris untuk memetakan sebaran materi gelap di dalam Bima Sakti. Dengan berhasil mengidentifikasi struktur serupa di galaksi ultra-difus UGC 9050-Dw1, tim peneliti kini bisa menerapkan metode yang sama untuk mengukur kandungan materi gelap di galaksi jenis itu.
“Ini membuka kemungkinan yang sama sekali baru. Kami mungkin juga bisa mengukur kandungan materi gelap pada lebih banyak galaksi ultra-difus,” kata Sarah Pearson, profesor madya di DTU Space.
Galaksi Ultra-Difus, Laboratorium Materi Gelap yang Sulit Dijangkau
Galaksi ultra-difus dikenal sebagai galaksi yang jumlah bintangnya sangat sedikit dibanding ukuran fisiknya, sehingga selama ini sulit dipelajari lewat teknik konvensional yang mengandalkan cahaya bintang untuk memetakan massa galaksi. Beberapa galaksi jenis ini bahkan diduga didominasi materi gelap dalam proporsi yang jauh lebih besar dibanding galaksi biasa, menjadikannya target penting untuk menguji berbagai model materi gelap yang selama ini masih diperdebatkan fisikawan.
Tim peneliti menyebut teknik pemodelan aliran bintang generatif yang mereka kembangkan berpotensi diterapkan pada galaksi ultra-difus lain yang selama ini luput dari jangkauan metode pengukuran materi gelap konvensional, membuka babak baru dalam upaya memahami salah satu misteri terbesar kosmologi modern.
Baca juga: Pembentukan Bintang di Andromeda Melambat, Galaksi Kerdil M32 Jadi Tersangka
Baca juga: DESI Rilis Peta 2D Alam Semesta Terbesar, Muat 5,6 Triliun Piksel dari 4 Miliar Objek Langit





















