Cekricek.id — Universitas Airlangga (UNAIR) melepas tim aju tanggap darurat menuju Nusa Tenggara Timur untuk membantu penanganan korban gempa pada fase akut, Senin (17/8/2026).
Dikutip dari laman resmi Universitas Airlangga, unair.ac.id, Senin (17/8/2026), pelepasan tim dilakukan di Balai RUA, Lantai 4 Kantor Manajemen, Kampus MERR-C UNAIR. Tim tersebut bergerak melalui Garda Ksatria Airlangga, unit respons kemanusiaan universitas.
Baca juga: KRI Teluk Kendari-518 Lepas Sandar Usai Semarakkan HJK Padang
Tim Awal Memetakan Kebutuhan Medis
Tim aju dipimpin dr. Teddy Wardhana, Sp.OT., selaku Koordinator Bantuan Medis Garda Ksatria Airlangga sekaligus Koordinator Program Studi Orthopedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran UNAIR. Rombongan terdiri atas tiga peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), satu dokter senior spesialis anestesi dan orthopedi, serta seorang PPDS yang merupakan putra daerah setempat, dengan dukungan perawat anestesi dan orthopedi.
Tugas awal tim adalah mengidentifikasi kondisi lapangan, memetakan kebutuhan medis, dan membantu penanganan korban pada fase akut pascagempa. Tim membawa perlengkapan operasi, anestesi, dan berbagai kebutuhan pendukung agar dapat bekerja secara mandiri selama berada di lokasi.
Rektor UNAIR Prof. Muhammad Madyan, S.E., M.Si., M.Fin., menyampaikan penerjunan tim itu merupakan wujud kepedulian sekaligus respons universitas terhadap bencana yang melanda NTT.
“Kami sebagai institusi pendidikan tinggi juga turut berbelasungkawa atas bencana yang melanda NTT. Penerjunan ini menjadi wujud kontribusi dan respons UNAIR. Kami berharap tim bisa memberi manfaat bagi penanganan pasca bencana di lokasi,” kata Prof. Muhammad Madyan, S.E., M.Si., M.Fin., Rektor Universitas Airlangga.
Baca juga: Gempa M7,7 Guncang Flores NTT, 47 Tewas dan 2.000 Warga Mengungsi
Ia mengapresiasi kesiapan tim yang berangkat dan berpesan agar seluruh anggota menjaga nama baik universitas selama memberikan pelayanan kemanusiaan. “Saya mengapresiasi tim yang siap berangkat ke lokasi bencana. Selalu jaga nama baik UNAIR di manapun. Selamat bertugas,” ujarnya.
Prioritas pada Korban Trauma
Dr. Teddy menjelaskan tim aju akan mengakses kebutuhan riil di lapangan sekaligus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan tim kesehatan setempat. Rencana awal, tim menuju rumah sakit umum yang saat ini membutuhkan perhatian.
“Prioritas kami adalah korban-korban yang membutuhkan penanganan segera. Jumlah dokter bedah dan anestesi di sana tidak banyak. Sehingga, kami berharap bisa membantu fase akut dari trauma ini,” kata dr. Teddy Wardhana, Sp.OT., Koordinator Bantuan Medis Garda Ksatria Airlangga.
Selain berkoordinasi dengan tim kesehatan daerah, UNAIR juga menjalin koordinasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia untuk memperkuat jejaring penanganan medis di wilayah terdampak.
Menyiapkan Gelombang Bantuan Berikutnya
Menurut dr. Teddy, keberangkatan pada fase akut memungkinkan tim membantu korban yang belum memperoleh penanganan medis. Selain memberikan pelayanan, tim aju juga akan mendata kebutuhan riil yang ditemukan di lapangan sebagai dasar dukungan UNAIR berikutnya.
Baca juga: FSG Lepas Saham Minoritas Liverpool ke Konsorsium Bezos
Kebutuhan itu disebut dapat mencakup berbagai aspek, termasuk dukungan psikologis bagi penyintas yang mengalami trauma pascabencana. “Harapannya, dengan adanya tim aju ini mendata dan mengidentifikasi, tim berikutnya bisa menyusul dengan kebutuhan yang komprehensif. Misalnya kebutuhan PTSD, kita bisa mengirimkan teman-teman dari Psikologi,” katanya.
Gempa yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8/2026) tercatat bermagnitudo 7,7 dengan kedalaman dangkal dan diikuti puluhan gempa susulan.
















