Cekricek.id — Petani padi di Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan sama-sama merasakan tekanan perubahan iklim, tetapi menempuh jalan adaptasi yang berbeda. Perbedaan itu terungkap dari riset tim Universitas Andalas yang membandingkan dua kabupaten dengan karakter agroklimat bertolak belakang.
Penelitian bertajuk Towards Climate-Resilient Farming Systems: Evaluating Vulnerability and Adaptation Options for Agriculture in West and East Indonesia itu dipimpin Prof. Dr. Ir. Rudi Febriamansyah, M.Sc. dari Universitas Andalas. Ia menggandeng Yuerlita, Ph.D. dari kampus yang sama, Dr. Sugeng Nugroho dari GWA Koto Tabang, Dr. Raza Ullah dari University of Agriculture Faisalabad, Pakistan, serta Dr. Malik Muhammad Shafi dari University of Agriculture Peshawar, Pakistan. Riset ini merupakan bagian dari Program International Research Network-EQUITY World Class University, menurut keterangan yang dimuat unand.ac.id, Rabu, 19 Agustus 2026.
Baca juga: Nilai Tukar Petani Juli 2026 Tembus 127,84, Tertinggi Sepanjang Sejarah
Dua Kabupaten dengan Iklim Berlawanan
Tim memilih Kabupaten Tanah Datar di Sumatera Barat dan Kabupaten Bulukumba di Sulawesi Selatan. Keduanya mewakili dua kutub agroklimat Indonesia, yakni wilayah barat yang relatif lebih basah dan wilayah timur yang relatif lebih kering. Dengan pembanding itu, tim dapat menguji apakah tekanan iklim dan respons petani benar-benar seragam di seluruh negeri.
Jawabannya tidak. Di Sumatera Barat, 96,2 persen petani responden merasakan perubahan variabilitas curah hujan dan 95,7 persen merasakan perubahan suhu. Sebanyak 88 persen menyebut pola curah hujan bergeser, sementara 77 persen menghadapi persoalan kekurangan air. Di Sulawesi Selatan, keluhan yang menonjol justru banjir, yang dilaporkan 58,1 persen responden — jauh di atas Sumatera Barat yang berada pada angka 27,3 persen.
“Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian tidak dapat disamaratakan. Setiap daerah memiliki karakteristik, tingkat kerentanan, dan kapasitas adaptasi yang berbeda, sehingga intervensi yang dilakukan juga harus berbasis pada kondisi lokal,” kata Rudi Febriamansyah, guru besar Universitas Andalas yang memimpin penelitian tersebut.
Barat Bertumpu pada Tanah, Timur pada Benih
Baca juga: Ghana Ubah Buah Jambu Mete yang Selama Ini Terbuang Jadi Sumber Pendapatan Baru
Perbedaan tekanan itu berlanjut menjadi perbedaan strategi. Petani Sumatera Barat lebih banyak memakai pendekatan agronomis dan pengelolaan tanah. Diversifikasi tanaman dilakukan 25,4 persen responden, rotasi tanaman 23,9 persen, dan penggunaan mulsa untuk konservasi tanah 20,6 persen.
Petani Sulawesi Selatan bergerak ke arah lain. Sebanyak 37,6 persen memakai varietas tahan iklim dan 27,1 persen memilih varietas berumur pendek. Diversifikasi tanaman ditempuh 26,7 persen responden dan agroforestri 26,2 persen. Menurut keterangan universitas, pola itu menunjukkan kecenderungan yang lebih kuat pada pendekatan teknologi dan varietas tanaman ketimbang pada pengolahan lahan.
Rudi menilai perbedaan tersebut berkaitan erat dengan kondisi lingkungan, ketersediaan air, sumber daya yang dimiliki petani, serta karakteristik sistem pertanian setempat. Kemampuan bertahan, dengan kata lain, bukan semata soal kesadaran petani, melainkan soal apa yang tersedia di sekitar mereka.
Rekomendasi bagi Kebijakan Pangan
Dari temuan itu, tim mendorong kebijakan adaptasi yang dirancang spesifik menurut karakteristik wilayah, bukan satu paket seragam untuk semua daerah. Tiga langkah yang disorot adalah penguatan layanan penyuluhan pertanian, perbaikan pengelolaan sumber daya air, dan pengembangan teknologi pertanian cerdas iklim atau climate-smart agriculture.
Baca juga: Petani di China Kehilangan Panen Wijen Setelah Menuruti Resep Pestisida dari AI
“Ketahanan pangan ke depan sangat bergantung pada kemampuan kita membantu petani beradaptasi. Karena itu, hasil riset harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan langkah nyata yang dapat memperkuat ketahanan petani menghadapi perubahan iklim,” ujarnya.
Data penelitian dikumpulkan dengan pendekatan mixed-method, memadukan survei rumah tangga, wawancara dengan informan kunci, dan observasi lapangan. Responden utamanya adalah petani padi di kedua provinsi, sehingga hasilnya berupa gambaran komparatif mengenai kerentanan dan strategi adaptasi petani pada dua kondisi agroklimat yang berbeda.
Universitas Andalas menyatakan riset ini diarahkan tidak berhenti pada pengembangan keilmuan, melainkan menjadi pijakan perumusan kebijakan pertanian berbasis bukti, sekaligus menopang pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan nomor 2 tentang tanpa kelaparan dan nomor 13 tentang penanganan perubahan iklim.















