Cekricek.id — Kesejahteraan petani Indonesia, yang diukur dari perbandingan antara harga yang mereka terima dan harga yang harus mereka bayar, tercatat di titik tertinggi sepanjang sejarah pencatatan. Nilai Tukar Petani atau NTP pada Juli 2026 berada di level 127,84.
Angka itu berasal dari Badan Pusat Statistik dan dikutip Kementerian Pertanian, Selasa (11/8/2026). Kementerian menyebut capaian tersebut sebagai rekor tertinggi yang pernah dicatat Indonesia dan menempatkannya sebagai hasil dari rangkaian kebijakan yang menyasar biaya produksi dan harga jual panen sekaligus.
Membaca Angka 127,84
Nilai Tukar Petani bukan ukuran pendapatan, melainkan perbandingan. Indeks ini menimbang harga yang diterima petani dari hasil panennya terhadap harga yang dibayar petani, baik untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari maupun untuk biaya bertani seperti pupuk, benih, dan upah. Ketika angkanya berada di atas 100, harga jual panen bergerak lebih kencang ketimbang harga barang yang harus dibeli petani. Semakin jauh di atas 100, semakin lebar jarak itu.
Karena berbentuk perbandingan, NTP bisa naik lewat dua jalan: harga panen yang membaik, atau ongkos produksi yang mengendur. Kementerian Pertanian menyebut kebijakan yang dijalankan sejak tahun lalu bekerja di kedua sisi tersebut.
Pupuk Lebih Murah, Harga Gabah Dijaga
Pada sisi biaya, pemerintah menata ulang tata kelola pupuk bersubsidi melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 yang memangkas rantai penyalurannya. Harga pupuk bersubsidi ikut diturunkan sekitar 20 persen: urea dari Rp2.250 menjadi Rp1.800 per kilogram, dan NPK dari Rp2.300 menjadi Rp1.840 per kilogram.
Pada sisi harga jual, pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah untuk gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram. Angka itu berfungsi sebagai lantai harga saat panen raya, momen ketika pasokan melimpah dan harga di tingkat petani biasanya jatuh. Kementerian Pertanian juga menyebut perbaikan jaringan irigasi dan bantuan mesin pertanian sebagai bagian dari paket yang sama.
Baca juga: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen pada Triwulan II 2026
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menempatkan kesejahteraan petani sebagai syarat, bukan akibat, dari swasembada pangan.
“Bapak Presiden Prabowo menugaskan kepada kami agar swasembada pangan segera terwujud. Namun yang lebih penting, swasembada itu harus menghadirkan kesejahteraan bagi petani. Kalau petani sejahtera, produksi akan meningkat, masyarakat juga mendapatkan pangan dengan harga yang stabil,” kata Amran.
“Petani harus memperoleh keuntungan yang layak. Negara harus hadir mulai dari penyediaan pupuk, air, mekanisasi, sampai memastikan hasil panennya terserap dengan harga yang baik. Kalau petani untung, pertanian akan terus tumbuh,” tegas Mentan Amran.
Yang Dirasakan di Sawah
Di lapangan, perubahan yang paling sering disebut petani adalah frekuensi tanam. Ardiansyah, pemimpin BP Masseddi di Sulawesi Selatan, menyatakan lahan yang dulu hanya bisa ditanami sekali setahun kini bisa digarap dua sampai tiga kali.
“Dulu kami hanya bisa menanam satu kali dalam setahun karena keterbatasan alat dan kondisi lahan. Sekarang, dengan bantuan combine harvester, traktor, rotavator, serta dukungan pemerintah lainnya, kami bisa menanam dua sampai tiga kali. Produksi meningkat, biaya lebih efisien, dan tentu pendapatan petani juga ikut bertambah. Inilah yang benar-benar kami rasakan dari kebijakan pemerintah yang berpihak kepada petani,” ujar Ardiansyah.
Jarwanto, petani di Boyolali, Jawa Tengah, menyoroti sisi harga. “Sekarang harga gabah basah sudah bisa mencapai sekitar Rp7.500 per kilogram. Itu jauh lebih menguntungkan bagi petani. Kami juga lebih mudah mendapatkan pupuk, biaya usaha tani lebih ringan, dan air untuk sawah lebih terjamin. Saya benar-benar merasakan perhatian pemerintah kepada petani,” ujar Jarwanto.
Baca juga: Nilai Tukar Petani di Riau Meningkat Tipis Jadi 156,59
Kekhawatiran lama petani padi adalah harga yang anjlok tepat ketika panen tiba. Marjoko, Ketua Gabungan Kelompok Tani Margo Mulyo, menyebut kecemasan itu berkurang.
“Sekarang harga gabah sudah menguntungkan petani. Kami tidak lagi khawatir harga turun saat panen karena pemerintah hadir menjaga harga. Ini membuat petani lebih semangat untuk terus meningkatkan produksi,” katanya.
Ia juga menyinggung bantuan alat yang diterima kelompoknya. “Bantuan alsintan yang kami terima, terbaru satu unit rotavator, sangat membantu pekerjaan petani. Pengolahan lahan menjadi lebih cepat, biaya bisa ditekan, dan pekerjaan menjadi lebih efisien. Bantuan seperti ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh anggota kelompok tani,” ungkapnya.
NTP adalah indeks nasional yang merangkum banyak komoditas dan banyak daerah sekaligus, sehingga rekor pada Juli 2026 tidak otomatis berarti setiap petani di setiap subsektor mengalami perbaikan yang sama. Yang ditunjukkan angka itu adalah arah rata-ratanya.
Baca juga: Petani Milenial Padang Capai 800 Orang dengan Beragam Komoditas Pertanian




















