Cekricek.id — Perdebatan soal pembatasan media sosial bagi anak dan pengetatan aturan senjata api menguat di Filipina setelah penembakan maut di Ateneo de Zamboanga University, Kota Zamboanga. Dikutip dari rappler.com, otoritas pada Kamis, 20 Agustus 2026, masih berupaya memahami bagaimana seorang siswa yang oleh para gurunya disebut berprestasi akademik tinggi bisa menyiarkan langsung aksi penembakan di sekolahnya sebelum menembak dirinya sendiri.
Penembakan terjadi pada Selasa, 18 Agustus 2026, dan menewaskan dua siswa, termasuk pelaku. Dua orang lain terluka. Ini serangan kedua semacam itu di Filipina dalam kurang dari dua bulan, di negara yang sebenarnya jarang mengalami penembakan di lingkungan sekolah. Peristiwa tersebut mendorong anggota parlemen membahas berbagai usulan, mulai dari pembatasan media sosial sampai regulasi senjata api yang lebih ketat.
Baca juga: Penembakan Sekolah di Zamboanga Filipina, Dua Siswa Tewas
Menteri Pendidikan: guru tidak melihat tanda bahaya
Menteri Pendidikan Filipina Sonny Angara menyatakan siswa itu tidak pernah dianggap bermasalah oleh para guru di sekolahnya. Pernyataan tersebut menggambarkan sulitnya sekolah dan keluarga mengenali tanda peringatan sebelum serangan semacam ini terjadi.
“Yang membuat ini sangat menyedihkan adalah kami tidak pernah membayangkan hal seperti ini bisa terjadi karena siswa itu punya prestasi akademik yang tinggi,” kata Angara saat mengunjungi Ateneo de Zamboanga University. “Ketika kami bertanya kepada guru-gurunya, mereka bilang dia tidak dianggap sebagai siswa bermasalah.”
Angara menilai pencegahan kekerasan di sekolah membutuhkan lebih dari sekadar pagar, kamera pengawas, detektor logam, dan perangkat keamanan lain. “Semua itu penting, tetapi penting juga bagi komunitas kita, dimulai dari komunitas sekolah, untuk menjangkau para siswa,” ujarnya. “Apa yang bagi kita tampak seperti intervensi kecil bisa berdampak besar bagi anak-anak muda kita.”
Usulan larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun
Baca juga: China Buka Jalur Kapal Arktik Ningbo ke Inggris 20 Hari
Otoritas menyebut pelaku menyiarkan langsung serangannya memakai kamera yang dikenakan di badan. Fakta itu menghidupkan kembali seruan pembatasan akses anak di bawah umur ke media sosial. Ketua Senat Filipina Sherwin Gatchalian mendorong pengesahan undang-undang yang melarang anak di bawah 16 tahun menggunakan media sosial. Menurut dia, penyebaran cepat rekaman siaran langsung dan gambar grafis berisiko menormalkan kekerasan di kalangan anak muda.
Kepolisian masih menyusun rangkaian peristiwa menjelang serangan, termasuk menetapkan motif, melakukan pemeriksaan forensik atas perangkat elektronik pelaku, dan memastikan bagaimana ia bisa mengakses senjata api milik ayahnya. Salah satunya pistol kaliber .40 yang dikeluarkan oleh Biro Bea dan Cukai Filipina. Polisi menyatakan bukti di lokasi menunjukkan pelaku mengakhiri hidupnya sendiri.
Menteri Dalam Negeri Filipina Jonvic Remulla mendesak parlemen memperberat sanksi bagi pemilik senjata api yang senjatanya sampai bisa diakses anak di bawah umur, sekaligus meninjau ulang undang-undang yang mengatur peredaran senjata api tidak terdaftar.
Kecemasan orang tua dan tuntutan pengaturan konten
Baca juga: MA Pakistan Perintahkan Imran Khan Dirawat di Rumah Sakit
Kecemasan juga menjalar di kalangan orang tua siswa. Claire, ibu seorang mahasiswa tingkat pertama di kampus Ateneo de Zamboanga yang berbeda dan meminta hanya nama depannya yang disebut, menuturkan gambar serta video grafis dan laporan yang saling bertentangan menyebar cepat di media sosial maupun grup percakapan sehingga menambah kebingungan para orang tua.
“Kita punya sistem klasifikasi untuk televisi dan film. Kita juga perlu mencari cara melakukan hal yang sama melalui media sosial dan platform daring lainnya,” kata Claire.
Sebelum perdebatan itu bergulir di parlemen, Pemerintah Kota Zamboanga lebih dulu menetapkan hari berkabung dan menghentikan seluruh kegiatan belajar di wilayahnya setelah penembakan tersebut.
















