Cekricek.id — Otoritas pasar modal India, Securities and Exchange Board of India (SEBI), menyiapkan perombakan aturan perdagangan yang sudah berumur puluhan tahun untuk membendung arus keluar dana asing. Rencana itu dilaporkan Reuters pada Kamis, 20 Agustus 2026, mengutip tiga sumber regulator yang meminta namanya tidak disebut karena pembahasan masih bersifat tertutup.
Perubahan yang tengah digodok mencakup penurunan kewajiban agunan pada perdagangan saham tunai, dorongan bagi kontrak derivatif bertenor lebih panjang, kemudahan melakukan penjualan pendek, serta penambahan jumlah saham yang dapat dipinjamkan dan dipinjam hingga hampir dua kali lipat. Menurut sumber-sumber itu, SEBI berencana menggelindingkan aturan baru tersebut dalam sembilan bulan setelah konsultasi dengan pelaku industri. SEBI tidak menjawab permintaan tanggapan yang dikirim Reuters pada Rabu.
Baca juga: China Diklaim Serobot Wilayah India di Arunachal Pradesh
Kepemilikan Asing di Titik Terendah 17 Tahun
Rencana itu muncul ketika kepemilikan asing atas saham India menyentuh level terendah dalam 17 tahun. Sejak Oktober 2024 hingga Juni 2026, penjualan saham India oleh investor asing melampaui US$50 miliar, berdasarkan data National Stock Exchange. Bobot India dalam indeks MSCI Emerging Markets pun turun ke bawah 12 persen, dari puncaknya 21 persen pada September 2024. Rupee India sendiri melemah sekitar 6 persen sepanjang tahun ini dan termasuk mata uang berkinerja terlemah di Asia, tertekan kekhawatiran atas tagihan impor yang membengkak dan arus modal yang lesu.
Salah satu perubahan utama yang dipertimbangkan adalah pemangkasan kewajiban agunan untuk transaksi saham berlikuiditas tinggi, langkah yang menurut dua sumber dapat menurunkan kebutuhan modal di muka sebesar 15 hingga 20 persen. SEBI juga menimbang penurunan agunan awal untuk kontrak derivatif yang jatuh tempo lebih dari satu tahun, menanggapi masukan pengelola dana luar negeri bahwa sistem yang berlaku lebih menguntungkan kontrak mingguan dan mematikan strategi lindung nilai jangka panjang.
Investor Global Menyambut, dengan Catatan
Baca juga: Mahasiswa Jharkhand Disemprot Meriam Air, Tuntut Pembatalan Ujian Rekrutmen
“Itu menunjukkan SEBI telah mendengarkan komunitas investasi institusional dan berfokus pada persoalan praktis yang dihadapi investor,” kata Chief Investment Officer Balfour Capital Group, Steve Lawrence, perusahaan asal Amerika Serikat yang mengelola aset lebih dari US$463 juta.
Tracey Wingate dari Investment Company Institute, asosiasi investor global yang berbasis di Amerika Serikat, menilai pengurangan biaya dan hambatan transaksi “akan mempermudah investor global mengubah minat terhadap India menjadi investasi jangka panjang.”
Penyedia indeks global MSCI menyatakan akan memantau reformasi tersebut dan efektivitasnya melalui masukan pelaku pasar untuk tinjauan aksesibilitas global pada masa mendatang. Menurut MSCI, langkah yang menyangkut pembentukan harga penutupan, efisiensi margin dan agunan, peminjaman saham, penjualan pendek, serta instrumen lindung nilai relevan bagi aksesibilitas pasar untuk investor institusional internasional.
Risiko Gejolak Jangka Pendek
Baca juga: Banjir Assam India Telan 100 Nyawa, Lebih dari 700 Ribu Orang Mengungsi
Sebagian rencana itu diperkirakan tidak mudah diterapkan. SEBI saat ini masih menangani dampak metode baru penghitungan harga penutupan untuk saham yang memiliki kontrak derivatif. Penerapannya yang tersendat memicu gejolak tajam pada indeks acuan Nifty 50 di pekan pertama, dengan partisipasi terbatas dari pembentuk pasar dan investor.
“Partisipasi awal dalam sesi lelang penutupan relatif moderat,” ujar ahli strategi senior State Street Investment Management, Angela Lan, yang perusahaannya mengelola aset US$6,3 triliun. Ia menambahkan bahwa dalam jangka panjang perubahan semacam itu semestinya mengurangi hambatan eksekusi transaksi, meski “kami tidak berharap langkah itu, dengan sendirinya, mendorong kenaikan berarti pada alokasi dana pasif ke India.”
Dorongan memperdalam partisipasi institusional ini menyusul upaya dua tahun SEBI menekan aktivitas perdagangan derivatif spekulatif oleh investor ritel, yang mencatat kerugian lima tahun berturut-turut. Investor ritel menyumbang lebih dari 35 persen aktivitas perdagangan di India, berdasarkan data National Stock Exchange, dibandingkan sekitar seperlima di Amerika Serikat.
















