Mahasiswa Jharkhand Disemprot Meriam Air, Tuntut Pembatalan Ujian Rekrutmen

A A

Ilustrasi aksi unjuk rasa. [Foto: Pexels/Airamdphoto]

Cekricek.id — Ribuan mahasiswa dan pencari kerja bergerak menuju gedung Dewan Legislatif Negara Bagian Jharkhand, India timur, pada Senin (10/8/2026). Polisi antihuru-hara menyemprotkan meriam air dan memasang barikade berlapis untuk menghentikan mereka, dalam unjuk rasa yang menuntut pembenahan ujian rekrutmen pegawai negara bagian.

Baca juga: Banjir Assam India Telan 100 Nyawa, Lebih dari 700 Ribu Orang Mengungsi

Aksi di Ranchi, ibu kota Jharkhand, itu merupakan lanjutan dari rangkaian protes yang menguat sejak akhir bulan lalu. Pemicunya adalah dugaan kecurangan pada ujian rekrutmen dinas publik negara bagian, termasuk kebocoran soal. Pengunjuk rasa menuntut perombakan sistem ujian, pembatalan sejumlah tes, serta penyerahan penyelidikan kepada kepolisian federal.

Jharkhand merupakan negara bagian di kawasan timur India yang dibentuk pada 2000. Ranchi, tempat unjuk rasa berlangsung, adalah pusat pemerintahan sekaligus lokasi gedung Dewan Legislatif yang menjadi tujuan pawai. Ujian rekrutmen yang dipersoalkan merupakan jalur utama untuk mengisi jabatan pegawai pemerintahan di negara bagian tersebut, sehingga kebocoran soal berdampak langsung pada peluang kerja peserta yang jumlahnya besar.

Meriam Air, Drone, dan Barikade Berlapis

Ratusan polisi menjaga gedung dewan dari balik barikade kawat berduri berlapis dan menerbangkan drone pengawas. Penjagaan seketat itu dipasang setelah perundingan berulang antara perwakilan mahasiswa dan pemerintah negara bagian gagal menyelesaikan perselisihan.

Aparat menembakkan meriam air ketika pengunjuk rasa mulai memanjat barikade di dekat Jagannath Mandir, sekitar tiga kilometer dari kompleks dewan. Massa tetap bertahan di sekitar titik itu hingga pawai terhenti.

Sedikitnya enam pengunjuk rasa masih menjalani mogok makan tanpa batas waktu. Salah satunya Devendra Nath Mahto, 33 tahun, pemimpin mahasiswa yang ikut berada di barisan depan pawai Senin di atas tandu setelah sembilan hari tidak makan.

Baca juga: 13 Perguruan Tinggi Bersatu dalam Konsorsium Peduli Kependudukan untuk Pembangunan Berkelanjutan 2030

“Meski sedang mogok makan, kawat berduri tidak akan sanggup menghentikan kami,” kata Devendra Nath Mahto, dikutip dari Al Jazeera.

Sebagian Tuntutan Dikabulkan, Aksi Tetap Jalan

Pemerintah Jharkhand pada Minggu malam menyetujui pembatalan ujian pendahuluan Komisi Pelayanan Publik Jharkhand (JPSC) ke-14 beserta dua tes rekrutmen tunggakan. Tiga anggota dewan JPSC mengundurkan diri setelah menjalani pemeriksaan oleh penyidik negara bagian. JPSC merupakan lembaga yang menyelenggarakan seleksi pegawai untuk jabatan pemerintahan di negara bagian tersebut.

Konsesi yang diumumkan pada malam sebelum pawai itu tidak menghentikan aksi para pengunjuk rasa. Kelompok mahasiswa menyatakan protes berlanjut sampai pemerintah membatalkan pula ujian Combined Graduate Level dan menyerahkan penyelidikan kebocoran soal kepada Central Bureau of Investigation, badan penyidik tingkat federal.

Baca juga: Pemprov Riau Akan Buka Pendaftaran Beasiswa untuk Mahasiswa dari Semua Jenjang Pendidikan

Protes di Jharkhand berlangsung dua pekan setelah gerakan serupa yang dimotori kalangan muda di New Delhi memaksa Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan mengundurkan diri. Gerakan yang menamakan diri Cockroach Janta Party itu berunjuk rasa selama 36 hari menyusul kebocoran soal ujian masuk sekolah kedokteran tingkat nasional, sebelum Pradhan akhirnya melepas jabatannya.

Enam pengunjuk rasa yang mogok makan menjadi penanda bahwa perselisihan ini sudah berjalan berminggu-minggu, bukan sehari dua hari. Perundingan yang berkali-kali gagal membuat aksi berpindah dari meja pembicaraan ke jalanan, dan pemerintah negara bagian menjawabnya dengan barikade serta konsesi sebagian pada malam sebelum pawai Senin digelar.

Sampai Senin malam, pemerintah negara bagian belum mengumumkan pertemuan lanjutan dengan perwakilan mahasiswa.

Bagikan

Baca Juga

Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara
Mabuk-Menyetir Pasif, Konsep Baru dari Data Bengaluru
Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Lampu Kelas Xinjiang Diduga Perlambat Miopia Anak Uighur
Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025