Cekricek.id — Gelombang serangan drone Ukraina yang membakar kilang minyak dan depot bahan bakar Rusia sepanjang tahun ini merembet ke Asia Tengah. Kirgizstan, Tajikistan, dan Uzbekistan — yang selama ini bergantung pada pasokan bensin Rusia — kini berebut cadangan, mengatur harga, dan memburu pemasok baru, menurut laporan Al Jazeera, Senin (24/08/2026).
Drone Ukraina menyerang fasilitas minyak Rusia dari Krimea yang dianeksasi hingga kawasan Baltik dan Siberia bagian barat. Presiden Rusia Vladimir Putin menolak melanjutkan perundingan damai dan mengklaim pasukannya “maju di semua arah”, sementara puluhan juta warganya menghadapi kelangkaan bahan bakar dan antrean berjam-jam di stasiun pengisian.
Warga di wilayah yang berbatasan dengan Kazakhstan, termasuk deretan kota padat di sepanjang Sungai Volga, rela menempuh ratusan kilometer ke negara terkaya minyak di Asia Tengah itu hanya untuk mengisi tangki. Praktik tersebut melahirkan istilah baru di Rusia, yakni “turisme bahan bakar” dan “perburuan bensin”.
Pemerintah Kazakhstan melarang ekspor bensin sejak akhir Mei. Penjaga perbatasan melaporkan menggagalkan ratusan upaya penyelundupan bahan bakar kembali ke Rusia dalam jeriken, tangki rakitan, hingga truk tangki berukuran besar di sepanjang perbatasan darat terpanjang kedua di dunia yang membentang 7.644 kilometer. Meski begitu, harga bahan bakar di Kazakhstan tetap naik 15,6 persen sepanjang tahun ini.
Kirgizstan dan Tajikistan Paling Terpukul
Di antara negara-negara Asia Tengah, hanya Turkmenistan yang punya cadangan hidrokarbon besar, tetapi negeri itu mengisolasi diri dari kawasan sejak 1990-an. Kirgizstan dan Tajikistan, dua negara pegunungan yang miskin sumber daya, selama ini memperoleh sampai 90 persen kebutuhan bensinnya dari Rusia.
Baca juga Rusia Tembakkan 376 Rudal, Ukraina Kehabisan Pencegat
“Mereka yang paling terpukul,” kata Galiya Ibragimova, pakar Asia Tengah pada Carnegie Politika, lembaga kajian yang bermarkas di Berlin.
Kirgizstan merupakan anggota Uni Ekonomi Eurasia, blok perdagangan bebas lima bekas negara Soviet yang didominasi Rusia. Tajikistan bukan anggota, tetapi selama ini membeli bahan bakar Rusia dengan harga diskon sebagai “pembayaran atas loyalitas politik, bukan karena Putin begitu baik hati”, ujar Ibragimova.
Sumber utama bensin bagi kawasan itu adalah kilang terbesar Rusia di Kota Omsk, Siberia bagian barat daya. Kilang tersebut berhenti beroperasi setelah serangan drone Ukraina pada awal Juli merusak unit distilasi minyak mentahnya.
“Peralatan untuk kilang minyak bukan kiriman dari toko daring atau supermarket,” kata pakar energi Kirgizstan, Olzhas Baydildinov, dalam pernyataan yang disiarkan televisi. “Defisit yang datang ini akan bertahan lama.”
Subsidi, Cadangan, dan Kesepakatan dengan Iran
Kirgizstan mulai mengatur harga bensin dan meminta bantuan negara-negara bekas Soviet lain untuk menjamin pasokan bahan bakar yang berkelanjutan. Pemerintah berjanji menyediakan setidaknya separuh kebutuhan nasional, tetapi baru setelah kilang terbesar negeri itu dimodernisasi, kata Wakil Menteri Energi Kirgizstan Nasipbek Kerimov pada awal Juli. Ia tidak merinci berapa lama proses tersebut akan berlangsung. Hingga pertengahan bulan ini, otoritas Kirgizstan menyatakan telah mengeluarkan sekitar US$11,4 juta untuk mensubsidi harga bensin.
Baca juga Ekonom Utama Bank Negara Rusia Dipecat Usai Kritik Perang
Tajikistan jauh lebih rentan karena pengolahan minyak dalam negerinya hanya memenuhi 0,5 persen konsumsi bensin nasional. Pengendara di sana sudah menghadapi kelangkaan dan pembatasan pembelian 20 liter per mobil di sejumlah stasiun pengisian.
“Ada masalah, baik pada pengolahan minyak maupun pada logistik,” kata Wakil Menteri Energi Tajikistan Daler Juma pada awal Juli, saat mengumumkan pemerintah telah mengumpulkan cadangan bahan bakar yang cukup untuk “setidaknya 60 hari”.
Pada pertengahan Agustus, Juma bertolak ke Teheran dan meneken kesepakatan pengadaan 2,5 juta ton minyak, bensin, dan solar dari Iran. Dengan bantuan tenaga ahli China National Petroleum Corporation, Tajikistan juga mengintensifkan pencarian ladang minyak prospektif dan menargetkan laporan rekonesans seismik rampung pada akhir tahun ini.
“Setelah itu, kami akan memutuskan di mana kami bisa mulai mengebor,” kata kepala geolog Tajikistan, Ilhomjon Oymukhammadzoda, dalam konferensi pers awal Juli.
Uzbekistan Bentuk Cadangan Strategis
Kirgizstan dan Tajikistan selama ini juga menjual kembali bensin Rusia ke Uzbekistan, kekuatan ekonomi kawasan dengan penduduk hampir 39 juta jiwa dan setengah lusin perusahaan perakitan mobil. Uzbekistan mengolah minyaknya sendiri untuk sekitar dua pertiga kebutuhan, sedangkan sisanya biasanya datang dari Rusia. Kelangkaan baru ini memaksa pemerintah membentuk cadangan strategis.
Baca juga Iran Tutup Selat Hormuz, AS Siapkan Sanksi Ekonomi Baru
“Kami punya rencana terpisah untuk musim gugur dan musim dingin, kami sudah menyiapkan cadangan yang cukup. Saya bisa mengatakan dengan yakin bahwa cadangan kami cukup untuk dua atau tiga bulan,” kata Wakil Menteri Energi Uzbekistan, Umid Mamadaminov, awal bulan lalu.
Banyak pengemudi Uzbekistan kini bersyukur telah lebih dulu mengalihkan mesin kendaraan mereka ke bahan bakar gas alam terkompresi, meski tabung gas berukuran besar memakan hampir seluruh ruang bagasi.
China Menuai Untung dari Krisis
Pemerintah di kawasan berupaya mencari sumber minyak dan gas baru, tetapi perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mendorong harga energi global naik. Ibragimova memperkirakan negara-negara Asia Tengah akan mencari pemasok pengganti secara tergesa-gesa, namun alternatif yang mereka temukan pun akan lebih mahal.
Beijing tampak menjadi satu-satunya pihak yang diuntungkan krisis bahan bakar ini. Penjualan mobil listrik buatan China di kawasan sudah melonjak bahkan sebelum kelangkaan terjadi. Menurut Carnegie Russia Eurasia Center, penjualan mobil listrik di Kazakhstan saja tumbuh 36 kali lipat sepanjang 2022 hingga 2025.
















