Api Biru Papandayan Kian Sering Muncul Seiring Suhu Fumarol Naik

A A

Api biru menyala di rekahan fumarol kawasan Gunung Papandayan pada malam hari. [Foto: IPB University]

  • Suhu fumarol Papandayan naik dari sekitar 150 menjadi 300 sampai 400 derajat Celsius
  • Pada suhu itu gas hidrogen sulfida terbakar spontan tanpa perlu disulut dari luar
  • Nyala biru hanya tampak saat gelap total, sekitar pukul 02.00 sampai 05.00 WIB

Cekricek.id — Api biru Papandayan makin sering tertangkap kamera pendaki bukan karena kebetulan, melainkan karena suhu di rekahan kawahnya naik.

Penjelasan itu disampaikan lewat keterangan tertulis IPB University, Rabu (30/09/2026), setelah rekaman nyala biru di kawasan Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, beredar luas di media sosial.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, S.Si., M.Si., merujuk catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Pada periode 2022–2026 terjadi kenaikan fluks gas sulfur dioksida disertai naiknya gempa vulkanik dangkal, dan suhu fumarol bergerak dari sekitar 150 menjadi 300–400 derajat Celsius.

“Pada suhu tersebut, gas H₂S dapat terbakar secara spontan tanpa perlu disulut, sehingga kemunculan api menjadi lebih sering terlihat,” jelasnya.

Mekanisme Nyala Biru di Rekahan Kawah

Yang terbakar sebenarnya gas belerang yang keluar dari perut gunung. Magma melepaskan hidrogen sulfida dan sulfur dioksida melalui rekahan fumarol atau solfatara, lalu gas itu bertemu oksigen di udara.

“Mekanisme blue fire adalah ketika magma di bawah Papandayan melepaskan gas hidrogen sulfida (H₂S) dan sulfur dioksida (SO₂) bersuhu sekitar 200–600 derajat Celsius melalui rekahan fumarol atau solfatara,” kata Sonni.

Reaksi itu menghasilkan sulfur dioksida, uap air, panas, dan nyala berwarna biru. “Pembakaran gas belerang inilah yang menghasilkan nyala api berwarna biru elektrik, dengan suhu api dapat mencapai sekitar 600 derajat Celsius,” ujarnya.

Nyala itu sangat redup dibanding cahaya matahari sehingga hanya tampak saat gelap total, terutama sekitar pukul 02.00–05.00 WIB, di area fumarol aktif seperti Blok Mas dan kawasan Golden Sunrise.

Fenomenanya pun bukan hal baru. Sonni menyebut api biru sudah muncul sejak sekitar 2002, setelah erupsi November tahun itu membuka jalur fumarol dan rekahan baru di Kawah Mas, Kawah Baru, dan Nangklak.

“Setelah erupsi 2002, banyak rekahan baru terbuka. Gas yang sebelumnya menyebar kemudian menjadi lebih terpusat pada celah-celah sempit dengan tekanan yang lebih tinggi. Ketika bercampur dengan udara, gas tersebut dapat terbakar dan menghasilkan blue fire,” katanya.

Ia mengingatkan pengunjung tidak mendekati titik api. Gas sulfur dioksida berbahaya bagi pernapasan dan tanah di sekitar fumarol rapuh.

“Jika melakukan pengamatan pada malam hari, keselamatan harus menjadi prioritas. Masker kain biasa tidak cukup untuk menghadapi paparan gas vulkanik. Jangan mendekati lubang fumarol karena selain gasnya beracun, struktur tanah di sekitarnya juga dapat rapuh,” pungkasnya.

Peringatan serupa pernah muncul untuk gunung lain. Seorang dosen UGM menyebut erupsi freatik Sinabung nyaris tanpa tanda awal, dan enam gunung api meletus bersamaan dinilai hanya soal waktu.

Di sisi kesiapsiagaan, pakar UNAIR menilai mitigasi bencana di Indonesia masih bersifat reaktif.

Bagikan

Baca Juga

Monetisasi Konten Anak Punya Tiga Pola, Temuan Riset UGM
Virus Tumbuhan Ditularkan Serangga, Panen Bisa Anjlok 80 Persen
Talenta AI Indonesia Dituntut Mampu Mengevaluasi Keluaran Mesin
Nanofluida Nikel Ferit Paling Stabil Berkat Asam Sitrat
Shinta Kamdani: Riset Kampus Perlu Jawab Kebutuhan Industri
UGM dan NUST Namibia Jajaki Penanaman Padi Gamagora