Krokodilian Raksasa Penguasa Rantai Makanan Miosen Amerika Selatan

Ilustrasi seekor buaya berjemur di tepi sungai.

Ilustrasi seekor buaya berjemur di tepi sungai. [Foto: Pexels]

Cekricek.id — Puncak rantai makanan di Amerika Selatan pada Kala Miosen tampaknya tidak dikuasai mamalia pemangsa, melainkan krokodilian raksasa yang berburu di perairan luas yang dahulu menutupi sebagian besar benua itu. Kesimpulan tersebut disusun tim yang dipimpin peneliti Universitas Helsinki setelah menelusuri bekas gigitan pada fosil hewan herbivora yang tersimpan di koleksi museum.

Dikutip dari siaran Universitas Helsinki yang dimuat Mirage News, miragenews.com, Senin (17/8/2026), temuan itu diterbitkan di jurnal Journal of Vertebrate Paleontology. Rentang waktu yang diteliti berkisar 10,5 sampai 16 juta tahun lalu, ketika danau dan rawa raksasa membentang di wilayah yang kini menjadi kawasan Amazon dan sekitarnya.

Alih-alih menyimpulkan dari ukuran tubuh atau bentuk gigi semata, tim peneliti mencari bukti yang lebih langsung, yakni jejak gigi dan bekas gigitan yang tertinggal di tulang mangsa. Bekas semacam itu diperlakukan sebagai rekaman fisik pertemuan antara pemangsa dan hewan yang dimakannya, sehingga peta pemangsa dan mangsa dapat disusun ulang dari koleksi fosil yang sudah lama tersimpan.

Baca juga: Riset Australia: Kadar CO2 dalam Darah Manusia Naik Seiring Iklim Memanas

Tujuh Meter dan 1.800 Kilogram

Pemangsa terbesar yang teridentifikasi adalah Purussaurus neivensis, krokodilian dengan panjang tubuh sekitar tujuh meter dan berat diperkirakan mencapai 1.800 kilogram. Frekuensi bekas gigitan yang sesuai dengan hewan ini membuat peneliti menempatkannya sebagai pemangsa utama di ekosistem tropis tersebut.

“Frekuensi bekas yang kemungkinan dibuat Purussaurus menunjukkan bahwa hewan ini merupakan pemangsa penting di ekosistem tropis itu,” kata Oscar Wilson, peneliti pascadoktoral di Universitas Helsinki.

Baca juga: WHO Dorong Uji Fase 3 Vaksin Ebola Saat Wabah Kongo Tembus 4.500 Kasus

Daftar hewan herbivora yang hidup pada masa itu cukup panjang. Ada sloth tanah raksasa, glyptodont bercangkang tebal, serta berbagai ungulata yang sebagian berbobot lebih dari satu ton. Pemangsa lain juga menghuni lanskap yang sama, di antaranya anaconda, mamalia bergigi pedang, burung pemangsa berukuran besar yang dikenal sebagai burung teror, dan kelompok reptil pemangsa sebecid.

Mangsa Terlalu Banyak untuk Mamalia

Menurut Wilson, kelimpahan mangsa di kawasan itu justru menjadi kunci penjelasannya. “Mangsa yang tersedia begitu banyak sehingga mamalia pemangsa tidak mungkin menghabiskan semuanya,” ujar Wilson. Ruang yang tersisa itulah yang terisi oleh krokodilian bertubuh besar yang mampu bertahan lama tanpa makan dan menyerang dari air.

Peneliti menilai tekanan pemangsaan dari krokodilian sebesar Purussaurus cukup kuat untuk memengaruhi jumlah populasi hewan herbivora di sekitarnya. Artinya hewan ini bukan sekadar penghuni berukuran besar, melainkan ikut mengatur keseimbangan ekosistem perairan tropis purba tersebut.

Baca juga: Bos NASA Yakin Artemis 3 Meluncur 2027, Uji Dua Pendarat Bulan di Orbit

Metode bekas gigitan sendiri punya batas yang perlu dicatat. Jejak gigi pada tulang membuktikan adanya kontak antara gigi pemangsa dan tubuh hewan lain, tetapi tidak selalu dapat memisahkan perburuan aktif dari kebiasaan memakan bangkai. Karena itu hasilnya dinyatakan sebagai kemungkinan yang didukung sebaran bekas gigitan, bukan kepastian tentang perilaku tiap individu. Rekaman fosil dari kawasan tropis juga tidak pernah lengkap, sehingga gambaran rantai makanan Miosen masih dapat berubah bila koleksi baru diperiksa dengan cara serupa.

Baca Juga

Petugas melakukan pendinginan area bekas kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Api Bromo Terkendali, Kemenhut Lanjutkan Tahap Pendinginan
Ilustrasi mahasiswa berjalan bersama membawa buku catatan.
Mahasiswa UGM Kembangkan Polpay, Bayar Cukup dengan Sidik Jari
Pendiri dan CEO Thrive Capital Joshua Kushner dalam sebuah forum.
Bos Thrive Capital Kritik Euforia Investasi AI Silicon Valley
Petugas Kementerian Kehutanan memeriksa papan peringatan larangan membakar lahan di areal perusahaan kehutanan di Kalima
Kemenhut Sidak Empat Perusahaan Kehutanan Kalbar Cegah Karhutla
Guru Besar Ekologi SITH ITB Endah Sulistyawati menyampaikan paparan di Institut Teknologi Bandung.
Pakar ITB Ingatkan Jangan Tanam Massal Pascakebakaran Bromo
Suasana sidang paripurna di Kompleks Parlemen, Jakarta.
KLH Kawal Registrasi Karbon dan RUU Perubahan Iklim