Cekricek.id — Dua mahasiswa Departemen Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada membawa pulang medali dari International Mathematics Competition (IMC) 2026 di Bulgaria, meski sempat tidak memiliki kepastian apakah Indonesia akan berangkat dan hanya menerima informasi seleksi sekitar tiga hari sebelum pelaksanaannya.
Dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada, ugm.ac.id, Selasa (18/8/2026), Muhammad Hanif meraih medali perunggu atau Third Prize, sedangkan Fajar Arif Shodiqin memperoleh Honorable Mention. Kompetisi berlangsung di Blagoevgrad, Bulgaria, pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 dan diikuti 447 mahasiswa dari 48 negara.
Baca juga: UNP Gelar Sertifikasi Kompetensi Barista, Baker, dan Butcher Mahasiswa
Indonesia mengirimkan lima mahasiswa sebagai delegasi, dua di antaranya berasal dari UGM. Dari lima wakil tersebut, dua mahasiswa meraih medali perunggu dan tiga lainnya memperoleh Honorable Mention.
Belajar Tanpa Kepastian Berangkat
Hanif menuturkan, ia menyiapkan diri secara mandiri sambil menunggu kepastian keikutsertaan Indonesia. Ketiadaan informasi membuat semangat belajarnya naik turun.
“Tantangannya tetap konsisten belajar. Pada saat itu belum ada kejelasan dari panitia apakah Indonesia berangkat IMC atau tidak. Jadi, mencari semangat belajarnya naik turun karena tidak ada informasi mau berangkat atau tidak,” kata Muhammad Hanif, mahasiswa Departemen Matematika FMIPA UGM peraih medali perunggu IMC 2026.
Kondisi itu memangkas waktu persiapan. Informasi mengenai seleksi IMC ia terima sekitar tiga hari sebelum seleksi digelar. Setelah dinyatakan lolos, ia bersama peserta terpilih menjalani pembinaan intensif secara daring dan luring selama kurang lebih dua pekan. “Kalau pembinaan luring berlangsung di Departemen Matematika FMIPA UGM,” tuturnya.
Keduanya bukan pendatang baru di kompetisi matematika. Hanif merupakan peraih medali emas Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (ONMIPA) 2025, sedangkan Fajar menyabet medali emas ONMIPA 2026. Capaian itu menjadi bekal menuju seleksi IMC 2026.
Baca juga: Thailand Tekuk Singapura 3-1 di Leg Pertama Semifinal ASEAN Cup 2026
Soal Berbahasa Inggris Jadi Kendala
Perbedaan paling terasa dibandingkan ONMIPA adalah penggunaan bahasa Inggris pada naskah soal. Keduanya mengaku lebih terbiasa mengerjakan soal berbahasa Indonesia. Dari sisi materi, Hanif menilai tingkat kesulitan IMC lebih tinggi.
“Perbedaannya mungkin karena soalnya pakai bahasa Inggris, jadi perlu membiasakan diri lagi karena biasanya mengerjakannya pakai bahasa Indonesia. Kalau dari materi mungkin ada perbedaan sedikit, lebih sulit,” jelasnya.
IMC 2026 menjadi pengalaman pertama keduanya mengikuti kompetisi matematika di luar negeri. Berhadapan dengan peserta dari puluhan negara membuat mereka membutuhkan waktu beradaptasi. “Baru pertama kali kompetisi internasional, apalagi lawannya juga orang luar. Jadi masih belum terbiasa. Sedikit merasa tertekan, tidak percaya diri kalau di ONMIPA,” tuturnya.
Fajar merasakan tekanan serupa, termasuk saat harus berkomunikasi dengan bahasa asing bersama pengawas maupun peserta negara lain. “Tidak terbiasa juga, mungkin ngobrolnya belum terlalu lancar kalau mau ngobrol sama pengawas dan orang-orang lain,” kata Fajar Arif Shodiqin, mahasiswa Departemen Matematika FMIPA UGM peraih Honorable Mention IMC 2026.
Target Setelah Bulgaria
Hanif membuka kemungkinan kembali mengikuti IMC apabila memperoleh kesempatan. Ia juga berencana mencoba kompetisi Consortium for Mathematics and Its Applications (COMAP) jika berhasil membentuk tim. “Kalau diundang IMC lagi, mungkin belajar untuk IMC lagi. Selain itu, ada kompetisi COMAP yang mungkin mau saya coba ikuti lagi kalau ada tim,” ujarnya.
Baca juga: 16 Ribu Mahasiswa Baru Undip Ikuti Puncak ODM 2026 di Stadion
Sementara Fajar memusatkan perhatian pada penyelesaian studi. Ia tengah mengerjakan tugas akhir dan menargetkan rampung sebelum melanjutkan ke jenjang magister. “Kalau dari saya kurang lebih sama, tapi mungkin ada tambahan, karena lagi mengejar kelulusan. Mungkin sekarang fokus mengerjakan tugas akhir dulu,” jelasnya.
Kepada mahasiswa yang ingin menempuh jalur serupa, Hanif menyarankan memperbanyak latihan dan membangun lingkungan belajar yang mendukung. “Banyak belajar, bisa mencari teman yang frekuensinya sama untuk belajar. Kalau tidak ada, bisa belajar secara mandiri. Manfaatkan teknologi yang sudah ada seperti AI dan sebagainya,” jelasnya. Fajar menambahkan pentingnya motivasi sebagai pengingat ketika persiapan terasa berat. “Cari motivasi kenapa ingin ikut. Kalau sudah dapat motivasinya, selalu ingat itu terus,” pungkasnya.














