- Bila Finade dibunyikan lebih dari satu kali, tuan rumah tahu bahwa keluarga yang datang membawa lebih dari satu ekor hewan.
- Sirih, pinang, dan kopi disiapkan sebagai tanda penerimaan, sesuai tradisi yang berlaku.
- Di suku Abui, moko yang paling mahal dan paling sering dipakai untuk belis bernama moko aimala.
- Osang dipercaya memiliki roh, sehingga menjualnya diyakini bisa mendatangkan kematian bagi anggota suku pemiliknya.
Daftar Isi
Tanda, dalam ilmu semiotika, adalah sesuatu yang mewakili hal lain, seperti asap yang naik mengabarkan ada orang sedang membakar sesuatu. Contoh kedua yang dipakai tiga peneliti dari Kupang lebih dekat ke telinga: lonceng gereja yang berbunyi tiga kali menandakan ibadah segera dimulai. Bagi orang Abui di Alor, Nusa Tenggara Timur, tugas semacam itu dipikul gong dan moko.
Kedua contoh itu ditulis Orista Y.D. Mone, Imanuel Letma, dan Musa Sir Olang dari Institut Agama Kristen Negeri Kupang. Artikel mereka berjudul Representasi Nilai yang Terkandung dalam Gong & Moko, Musik Tradisional Masyarakat Adat Suku Abui Kabupetn Alor di Sanggar Kenari Sikumana, terbit di Tambur: Journal of Music Creation, Study and Performance volume 3 nomor 2 tahun 2023.
Ketiganya tidak menyeberang ke Alor. Bahan mereka dihimpun di Sanggar Kenari, Jalan Air Lobang 1, Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, tempat perantau Abui berkumpul. Pemilik sanggar, yang dicatat sebagai Bapak Manimau, menuturkan bahwa izin penyelenggaraan baru terbit pada 9 September 2009, padahal sanggarnya sudah ada jauh sebelum itu.
Anggotanya waktu itu lebih dari sepuluh orang: buruh bangunan, pekerja kantoran, mahasiswa. Mereka menyambut tamu pemerintah kota dan kabupaten, juga tamu mancanegara, serta ikut dalam kegiatan gereja. Dari sanggar itulah para peneliti mencatat apa arti bunyi logam bagi orang Abui, dan mengapa benda itu dihargai melampaui sebuah alat musik.
Foking, Satu Kata untuk Gong dan Moko
Orang Abui menyebut gong dan moko dengan satu kata, Foking. Maksudnya begini. Gong dan moko tetap dua benda yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama dibuat dari logam, sehingga satu sebutan cukup untuk keduanya. Para peneliti memakai istilah organologi ketika menguraikan bahan dan bentuk kedua benda itu.
Gong berbentuk bundar dengan ukuran beragam, dan tiap ukuran punya sebutan serta nilai jual sendiri. Moko dibedakan lewat hiasannya. Tiga moko yang difoto dalam naskah tampak serupa bentuknya, tetapi bunga pada badannya berlainan, dan justru gambar itulah yang menentukan harganya.
Alor sendiri dijuluki pulau seribu moko, selain pulau kenari karena pohon kenarinya tumbuh subur. Hampir setiap warga, tulis para peneliti, menyimpan koleksi moko. Julukan itu membuat gong dan moko disebut ikon, kata yang dalam naskah berarti benda yang menggambarkan kehidupan satu kelompok masyarakat.
Dari mana logam itu datang tidak pernah jelas. Naskah menyebut gong dan moko di Alor dipercaya berasal dari Vietnam, dan diperkirakan dibawa pedagang asing dari Tiongkok yang mencari rempah di Banda dan Maluku. Dalam perjalanan pulang, mereka menukarkannya dengan biji kenari dan jagung di Pulau Alor.
Baca juga Canang Kuantan Singingi, Satu Nada E yang Membawa Kabar Adat
Finade, Pukulan yang Mengabarkan Tamu Datang
Di sinilah contoh lonceng gereja tadi menemukan padanannya. Bedanya begini: Foking membawa kabar yang berlainan menurut pola ritme, yakni susunan pukulan yang dimainkan. Pola itu diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga warga lain yang mendengarnya mudah mengerti apa yang sedang terjadi.
Para peneliti merumuskannya dalam satu kalimat. “Ketika salah satu dari benda itu dibunyikan maka secara spontan membangun pemahaman pikiran masyarakat bahwa akan atau sudah terjadi sesuatu di tempat dimana benda itu dibunyikan,” tulis Orista Y.D. Mone, Imanuel Letma, dan Musa Sir Olang dalam naskah mereka. Kalimat itu mengoreksi anggapan bahwa gong sekadar pengiring tari. Bunyinya adalah kabar.
Finade adalah nama salah satu pola itu, dan para peneliti menerjemahkannya sebagai bentuk komunikasi antara satu kelompok masyarakat dan kelompok lain. Pola ini mengabarkan bahwa serombongan tamu sedang menuju tempat kegiatan, entah pesta perkawinan, pembangunan rumah adat, entah dukacita. Jumlah gongnya tidak ditetapkan; berapa yang tersedia saat itu, sebanyak itulah yang dipukul.
Tuan rumah yang mendengarnya langsung bergerak. Sirih, pinang, dan kopi disiapkan sebagai tanda penerimaan, sesuai tradisi yang berlaku. Persiapan itu dilakukan secara spontan, tulis para peneliti, begitu suara Foking terdengar.
Pola yang sama juga bisa berhitung. Bila Finade dibunyikan lebih dari satu kali, tuan rumah tahu bahwa keluarga yang datang membawa lebih dari satu ekor hewan. Hewan itu berupa babi atau kambing, yang akan dijadikan sesaji di tempat kegiatan berlangsung.
Tambur Tatabuong, Sebelas Gong Penghibur Kerja
Tambur tatabuong adalah pola kedua yang dicatat, dan tugasnya lain: menghibur. Pola ini dimainkan sebelas gong, ditambah moko yang jumlahnya tidak ditentukan, biasanya satu. Enam di antaranya gong kecil, yang disebut foking kiding, dan lima sisanya gong besar pasangannya, foking foka.
Satu tambur ikut dimainkan sebagai pemandu tempo. Tambur menentukan kapan pukulan dipercepat, kapan diperlambat, dan kapan seluruh gong dan moko berhenti bersama. Meski begitu, tambur tidak membuka permainan. Yang mengawali adalah gong nomor satu, yang disebut king kong.
Pola ini terdengar saat tamu disambut, saat tari cakalele dan tari perang diiringi, dan saat warga bergotong royong mengerjakan sesuatu. Pembangunan rumah ibadah dan gedung pemerintahan termasuk di dalamnya. Para peneliti mencatat bahwa benda modern untuk menghibur orang bekerja sudah banyak, tetapi warga tetap menyediakan gong dan moko.
Kebiasaan itu mereka golongkan sebagai nilai vital, satu dari lima nilai yang dirumuskan. Empat lainnya adalah nilai sosial, ekonomi, representasi simbolik, dan estetis. Nilai sosial paling mudah dibayangkan: ketika gong berbunyi, warga merasa terpanggil datang dan ikut dalam pekerjaan apa pun yang sedang dilakukan.
Baca juga Baleganjur Nusa Agung Berpindah dari Bapak ke Pemuda
Aimala, Moko Termahal untuk Belis Abui
Belis, atau mahar bagi pihak perempuan, adalah salah satu kegunaan moko yang paling sering disebut dalam naskah. Di suku Abui, moko yang paling mahal dan paling sering dipakai untuk belis bernama moko aimala. Namanya penting, sebab harga moko tidak berlaku sama di seluruh Kabupaten Alor.
Di Pulau Pantar, moko termahal justru yang disebut tujuh anak panah, dan sebutan itu tidak berlaku di Abui. Akibatnya nyata. Seorang laki-laki Abui yang hendak memperistri perempuan Pantar harus membeli moko menurut ukuran di sana. Bagi para peneliti, itu menunjukkan bahwa tiap moko dinilai menurut suku tempat ia dipakai.
Nilai ekonomi kedua benda itu memang, tulis mereka, sedikit berbeda dari alat musik lain. Gong dan moko bisa dijual, tetapi juga dipakai membayar denda dan ditukar dengan uang sejumlah yang disepakati kedua pihak. Barter juga lazim: gong atau moko ditukar dengan babi atau kambing, atau dipakai menyewa lahan untuk digarap.
Perselisihan pun bisa diselesaikan dengannya. Bila timbul masalah antarsuku, penyerahan gong dan moko dari pihak yang bersangkutan menjadi jalan keluarnya. Dibandingkan moko, gong lebih sering dipakai dalam kehidupan warga karena lebih mudah ditemui, meski warga tetap berusaha mengoleksi keduanya.
Osang, Pusaka yang Tidak Boleh Dijual
Osang adalah kebalikan dari semua transaksi tadi. Kata dalam bahasa masyarakat Abui itu menunjuk gong dan moko yang disimpan sebagai benda pusaka suku, tidak diperjualbelikan, dan ditaruh di rumah tua atau rumah suku. Benda itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Alasannya bukan soal harga. Osang dipercaya memiliki roh, sehingga menjualnya diyakini bisa mendatangkan kematian bagi anggota suku pemiliknya. Inilah yang dinamai para peneliti nilai representasi simbolik: logam yang sama, yang di tempat lain menjadi mahar atau alat barter, di rumah suku tidak boleh berpindah tangan.
Nilai kelima, estetis, justru yang paling singkat diuraikan. Gong dan moko disebut punya nilai itu karena perannya sebagai pengiring, sebagai hiburan, dan sebagai sumbangan seni musik. Tari lego-lego, yang bersama gong dan moko disebut sebagai ciri khas orang Alor, termasuk yang diiringinya.
Baca juga Rumah Adat Sabu, Ammu Ae Nga Rukoko yang Berasal dari Perahu
Batas Catatan dari Satu Sanggar di Kupang
Semua keterangan itu dihimpun dari satu sanggar perantau di Kupang, bukan dari kampung orang Abui di Alor, dan narasumber yang disebut namanya hanya pemilik sanggar. Para peneliti sendiri mengakui bahwa sejarah masuknya gong dan moko tidak begitu jelas. Naskah juga hanya mencatat dua pola ritme, Finade dan tambur tatabuong.
Beberapa hal dalam naskah bisa diperiksa pembaca. Judulnya memuat salah ketik pada kata kabupaten, yang tercetak Kabupetn. Nomor gambar 4.4 dipakai dua kali, untuk foto moko dan untuk pola ritme tambur tatabuong. Pendahuluan menguraikan semiotika Charles Sanders Peirce, sedangkan kesimpulan menyebut Roland Barthes dan Ferdinand de Saussure.
Para peneliti juga menyimpulkan bahwa nilai-nilai itu tidak begitu diketahui secara akademik oleh sebagian warga, yang tetap memegang erat gong dan mokonya. Kepada Sanggar Kenari, mereka menitipkan satu harapan, yaitu regenerasi, supaya sanggar itu bertahan di tengah perkembangan zaman.
Tanda, kalau begitu, memang kata yang pas untuk Finade, yang bekerja seperti lonceng tiga kali di awal tulisan ini. Tetapi istilah itu berhenti di pintu rumah suku. Osang tidak dibunyikan untuk mengabarkan kedatangan siapa pun; ia disimpan, diwariskan, dan dipercaya memiliki roh.















