- Ikbal mengambil jalur penyajian, dan karya akhirnya berupa pertunjukan solis gitar dengan tiga repertoar dari tiga zaman yang berjauhan.
- Ia berangkat dari aransemen Moch Faisal, yang lebih dulu memainkan konserto ini dalam format kuintet.
- Liriknya diambil dari syair puisi Chairil Anwar, dan lagu itu dicipta serta dipopulerkan salah satunya untuk mengenang sang penyair.
- Dua cara pukul itu dipakai untuk menirukan bunyi gendang Melayu.
Daftar Isi
Ikbal Nabawi memilih naik panggung. Di Jurusan Seni Musik Institut Seni Indonesia Padangpanjang, mahasiswa tingkat akhir boleh menempuh satu dari tiga minat karya akhir, yaitu komposisi, penyajian, atau pengkajian. Ikbal mengambil jalur penyajian, dan karya akhirnya berupa pertunjukan solis gitar dengan tiga repertoar dari tiga zaman yang berjauhan.
Pertunjukan itu ia uraikan bersama Awerman, Yusnelli, Rosmegawaty Tindaon, dan Anggra Dinata dalam Pertunjukan Solis Gitar dengan Repetoar Concerto in D Major RV93 Karya Antonio Lucio Vivaldi, Start, Selayang Pandang, yang terbit di Musica: Journal of Music volume 6 nomor 1 tahun 2026. Naskah itu ditulis dari sudut pandang penyaji, dan Ikbal menyebut dirinya dengan kata saya. “Dalam hal ini saya memilih minat penyajian,” tulisnya.
Tiga repertoar yang ia bawakan adalah Concerto in D Major RV 93 karya Antonio Lucio Vivaldi dari zaman Barok, Start karya duo gitar Jepang Depapepe, dan lagu Melayu Selayang Pandang karya Lily Suhairy. Menurut Ikbal, pilihan itu sudah mengikuti standar yang ditetapkan Jurusan Musik ISI Padangpanjang sebagai tolok ukur bagi mahasiswa minat penyajian.
Bagi Ikbal dan rekan penulisnya, pertunjukan musik bukan sekadar memainkan partitur. Mereka merujuk Djohan, yang menyebut musik sebagai produk pikiran yang diolah otak menjadi pitch, timbre, dinamika, dan tempo. “Lagu yang sama dengan partitur yang sama dimainkan oleh orang yang berbeda, akan menghasilkan interpretasi yang berbeda-beda,” tulis Ikbal Nabawi dan kawan-kawan.
Membongkar Konserto Vivaldi
Repertoar pembuka membawa Ikbal ke Venice. Naskahnya mencatat Antonio Lucio Vivaldi lahir di kota itu pada 4 Maret 1678, dijuluki il Prete Rosso atau Pastor Merah, dan dikenal sebagai maestro biola. Semasa hidupnya, Vivaldi menulis lebih dari lima ratus konserto, dan abstrak naskah menyebut Concerto in D Major dicipta sekitar tahun 1730.
Vivaldi menulis RV 93 untuk lute, alat musik petik zaman Barok, dengan iringan dua biola dan basso continuo. Menurut Ikbal, karya ini termasuk sedikit konserto Vivaldi untuk alat petik dan salah satu karya lute paling terkenal dari era Barok. Lute sendiri, catat naskah itu, mulai punah pada abad ke-18.
Ikbal tidak menyusun versinya dari nol. Ia berangkat dari aransemen Moch Faisal, yang lebih dulu memainkan konserto ini dalam format kuintet. Ikbal lalu melepas contrabass sehingga formatnya menjadi kuartet, karena ia ingin kesan musik kamar yang minimalis, lebih efisien, dan lebih hemat biaya pertunjukan.
Kesan minimalis itu, menurut Ikbal, tidak membuat musiknya lembek. Dengan format kuartet, repertoar tersebut tetap menunjukkan ketegasan sehingga karakter musik Barok bisa dipertahankan. Yang menarik baginya dari karya Vivaldi ini adalah bentuk ritornello, permainan tutti yang membuat melodi terdengar tebal dan bersemangat, serta melodi bernot 1/32 yang memberi nuansa cepat.
Ritornello, dalam penjelasan Ikbal, adalah bentuk yang mengandalkan beberapa birama awal yang kelak diulang, baik pada nada dasar yang sama maupun berbeda. Pada gerakan pertama, tema itu dibuka secara tutti, lalu disusul solo gitar dengan iringan cello. Setelah itu ritornello kembali, kali ini dimodulasikan dari D mayor ke A mayor.
Solo gitar Ikbal lalu masuk lagi dengan tema yang divariasikan. Ritornello berikutnya berfungsi sebagai jembatan, disusul solo gitar sekali lagi, sebelum gerakan ditutup ritornello yang pulang ke D mayor. Di sini penyaji terus berganti peran, dari bagian kelompok menjadi suara tunggal, lalu kembali ke kelompok.
Baca juga Rekonstruksi Kreatif Trumpet Padukan Klasik, Melayu, Latin
Gerakan kedua, Largo, dibaca Ikbal dengan cara lain. Strukturnya A-B-A’. Bagian A dibuka pada D mayor dengan nuansa lambat dan tenang, lalu bagian B berpindah ke B minor dan menjadi suram serta gelap. Ketika A kembali, bagian akhirnya diubah, sehingga Ikbal menandainya sebagai A’. Gerakan ketiga, Allegro, menutup konserto Vivaldi dengan tempo cepat pada D mayor. Menurut Ikbal, bagian ini terdengar ceria dan penuh energi. Strukturnya kembali memakai ritornello seperti gerakan pertama, tetapi lebih pendek.
Menyusun Pagi untuk Start
Dari Venice abad ke-18, Ikbal melompat ke Jepang tahun 2005. Start adalah lagu instrumental Depapepe, grup beranggotakan dua musisi yang sama-sama memainkan gitar akustik. Lagu ini masuk album pertama mereka, Let’s Go, yang dirilis pada 18 Mei 2005 di bawah label Sony Music Japan.
Ikbal mencatat Start memakai sukat 4/4 dan tanda mula A mayor. Di dalamnya ada teknik slur, arpeggio, bending, slide, pull-off, oktaf, serta modulasi. Yang memikatnya adalah pola ritme dan akor-akor yang ia sebut indah, di antaranya Asus4 dan Dsus2, ditambah banyak akor 9 dan 7.
Teknik oktaf, yakni memainkan nada yang sama pada senar dan oktaf berbeda, menurut Ikbal membuat melodi Start terasa lebih tebal. Lagu yang aslinya duet gitar akustik itu ia aransemen ulang dengan iringan kuartet gesek. Tujuannya, tulis Ikbal, menambah kesan semangat dan membuat lagu Depapepe itu lebih kompleks dan mewah. Bagi Ikbal, judul Start mencerminkan semangat memulai sesuatu yang positif. Karena itu ia menafsirkannya lewat gambaran waktu. “Penyaji membayangkan semangat di pagi hari, ini dikarenakan pagi hari adalah kegiatan memulai hari,” tulis Ikbal Nabawi dalam naskahnya.
Memukul Punggung Gitar
Repertoar ketiga membawa Ikbal pulang ke tradisi Melayu. Selayang Pandang, tulisnya, adalah lagu Melayu asli berentak joget ciptaan Lily Suhairy pada 1950, yang dipopulerkan Iyeth Bustami. Liriknya diambil dari syair puisi Chairil Anwar, dan lagu itu dicipta serta dipopulerkan salah satunya untuk mengenang sang penyair. Menurut Ikbal, Selayang Pandang berkisah tentang cinta yang tumbuh dari pandangan pertama. Melodinya lembut dan romantis, mencerminkan hati yang penuh harapan dan kerinduan. Liriknya menggambarkan betapa dalam kesan yang ditinggalkan seseorang lewat tatapan singkat, yang lalu berkembang menjadi cinta yang mendalam.
Kali ini Ikbal tidak memakai iringan gesek. Ia mengubah format lagu Lily Suhairy itu menjadi kuartet gitar klasik dan memadukan dua genre, Melayu asli dan kontemporer. “Penggunaan genre melayu dimaksudkan untuk menunjukan musik melayu yang khas, sedangkan genre kontenporer digunakan untuk mencapai klimaks lagu,” tulis Ikbal.
Untuk sisi Melayu, Ikbal meniru gendang Melayu. Ia mempelajari ritme yang sering dipakai para pemain gendang, lalu memindahkannya ke tubuh gitar dengan memukul bagian belakang gitar memakai pergelangan dan telapak tangan. Dua cara pukul itu dipakai untuk menirukan bunyi gendang Melayu.
Sebagai solis, Ikbal merasa harus tampil menonjol dibanding pemain lain. Karena itu ia mengambil seluruh melodi utama, memainkan bagian solo, sekaligus menabuh iringan perkusi yang menirukan gendang. Pada bagian kontemporer, dinamika dinaikkan secara signifikan untuk mencapai klimaks lagu Lily Suhairy tersebut. Tafsir Ikbal atas Selayang Pandang karena itu punya dua arah. Arah pertama menuju nuansa khas Melayu dengan cengkok dan suara gendangnya. Arah kedua menuju kontemporer yang, dalam kata-kata naskah, bernuansa minor dan kasar.
Baca juga Dendang Sirukam Maelo Kayu Digubah Jadi Karya Folk Ranah Berlagu
Menimbang Panggung Sendiri
Di bagian kesimpulan, Ikbal dan rekan penulisnya menyebut pertunjukan ini tahap akhir bagi mahasiswa musik peminatan pertunjukan sekaligus syarat kelulusan strata satu. Biasanya, tulis Ikbal, ia hanya tampil di pertunjukan kecil, dan kali ini ia berkesempatan menunjukkan sisi musisinya kepada khalayak umum.
Ikbal juga menegaskan bahwa yang penting dalam pertunjukan bukan hanya musiknya. Ada manajemen waktu, panggung, dan latihan. Menurut naskah itu, pertunjukan sebelumnya banyak diwarnai kesalahan manajemen, dan para pemain sering kurang persiapan karena jam latihan dan efisiensi latihan yang kurang. Dari situ Ikbal menarik satu keyakinan. “Jika ada peningkatan dalam hal latihan, maka penyaji yakin kualitas sebuah pertunjukan akan lebih baik,” tulis Ikbal Nabawi dan kawan-kawan. Kalimat itu lahir dari pengalaman penyaji, bukan dari pengukuran.
Catatan untuk Pembaca Naskah
Naskah Ikbal Nabawi pada dasarnya uraian penyaji atas karyanya sendiri. Ia tidak mencatat tanggal atau tempat pementasan, jumlah penonton, maupun penilaian dari pihak luar, sehingga mutu pertunjukan tidak bisa ditimbang dari naskah ini. Nama pemain pengiring dalam kuartet pun tidak disebutkan.
Beberapa hal dalam naskah bisa diperiksa pembaca. Selayang Pandang disebut diciptakan Lily Suhairy pada 1950 dan dipopulerkan Iyeth Bustami juga pada 1950, sementara abstrak menulis nama penyanyinya Lyeth Bustami. Formasi asli RV 93 di pendahuluan tertulis dua biola, viola, dan basso continuo, sedangkan bagian pembahasan hanya menyebut dua biola dan basso continuo.
Letak pukulan gendang juga berbeda. Pendahuluan menyebut Ikbal memukul bodi depan dan bodi samping gitar, sedangkan pembahasan menyebut bagian belakang. Abstrak mendaftar teknik tirando dan apoyando yang tidak muncul lagi di badan naskah, dan kalimat klimaks Selayang Pandang menyebut penyanyi padahal formatnya kuartet gitar.
Kepala halaman naskah Ikbal juga berganti-ganti antara volume 5 nomor 2 tahun 2025 dan volume 6 nomor 1 tahun 2026. Subbagian Proses Pertunjukan diakhiri kalimat tahapan berikut tanpa rincian, dan satu entri video cover Selayang Pandang oleh Putra Sibolga di daftar pustaka memuat alamat yang belum lengkap.
Baca juga Fantasia Begambang: Dua Wajah Tradisi Musik Muaro Jambi
Pada akhirnya, naskah ini mencatat bagaimana Ikbal Nabawi menjahit Vivaldi, Depapepe, dan Lily Suhairy ke dalam satu panggung. Mahasiswa yang memilih jalur penyajian itu memilih kuartet ketimbang kuintet, pagi hari untuk Start, dan telapak tangan di punggung gitar untuk gendang Melayu.














