Cekricek.id — Para ilmuwan menangkap pusaran plasma yang belum pernah terlihat sebelumnya di permukaan Matahari. Sebagian di antaranya hanya selebar 20 kilometer — struktur terkecil yang pernah berhasil diurai dari bintang kita.
Mengutip ScienceDaily, Minggu (9/8/2026), temuan ini berasal dari kerja sama peneliti National Solar Observatory Amerika Serikat, Max Planck Institute for Solar System Research di Jerman, dan High Altitude Observatory. Hasilnya terbit di jurnal Nature.
Sekeping Koin Dilihat dari 180 Kilometer
Tim menggabungkan pengamatan Teleskop Surya Daniel K. Inouye — teleskop surya terbesar di dunia yang dibangun dan dioperasikan di Hawaii — dengan simulasi komputer canggih. Kamera pencitra pita lebar yang dipakai disediakan Max Planck Institute for Solar System Research.
"Untuk mendeteksi pusaran itu, kami perlu mengurai struktur berukuran sekitar 20 kilometer di permukaan Matahari. Itu berada di batas kemampuan teleskop surya terbesar di dunia sekalipun, dan juga simulasi tercanggih," kata Michiel van Noort, ilmuwan MPS yang ikut menangani pengamatan sekaligus pengolahan dan pemulihan citranya.
Sebagai perbandingan, mengamati objek sekecil itu di Matahari kira-kira setara dengan mengenali sekeping koin satu euro dari jarak 180 kilometer.
Riak di Tepi Granula
Pusaran itu muncul di batas-batas struktur yang disebut granula, pola yang memenuhi permukaan tampak Matahari. Satu granula biasanya berukuran 500 hingga 2.000 kilometer.
Bersama-sama granula membentuk granulasi Matahari, pola yang terus berubah menyerupai gelembung dalam cairan mendidih. Perumpamaan itu tepat, karena granulasi memang dihasilkan plasma yang bergerak: plasma panas naik dari bagian dalam Matahari, mendingin di dekat permukaan, lalu turun kembali.
Untuk pertama kalinya, ilmuwan berhasil mengurai struktur berumbai yang sangat halus di sepanjang tepi granula tersebut. Struktur itu berulang kali membentuk gerakan berpusar yang menyerupai ombak laut ketika mulai pecah.
Para peneliti meyakini aliran berpusar ini merupakan bukti ketidakstabilan Kelvin-Helmholtz, gejala yang lazim dalam dinamika fluida. Ketidakstabilan itu muncul ketika dua fluida bergerak berdampingan dengan kecepatan berbeda, sehingga timbul gaya geser di batas pertemuannya. Gangguan kecil di batas itu kemudian tumbuh menjadi gelombang atau pusaran.
Proses dasar yang sama terjadi di banyak tempat dan pada skala yang sangat berbeda-beda — di permukaan danau, pada ombak laut, dalam pembentukan awan, di atmosfer planet gas raksasa seperti Jupiter dan Saturnus, hingga pada interaksi angin surya dengan magnetosfer planet.
Kunci Teka-teki Medan Magnet
Pusaran plasma ini berpotensi menjawab pertanyaan lama tentang cara Matahari menyimpan dan melepaskan energi dalam medan magnetnya, termasuk lewat semburan radiasi mungil yang disebut nanoflare.
Teori yang berlaku menyebutkan energi magnet menumpuk saat garis-garis medan magnet Matahari terpuntir dan menggulung — mirip energi mekanik yang tersimpan dalam pegas logam yang dipilin rapat. Semakin kuat puntirannya, semakin besar energi yang tersimpan dan semakin tidak stabil susunannya. Energi itu akhirnya dilepaskan lewat proses rekoneksi magnetik, ketika garis medan yang terpuntir putus lalu tersambung kembali dalam susunan berbeda.
Pertanyaan besar yang belum terjawab adalah apa yang membuat garis medan itu terpuntir sejak awal. Karena pusaran-pusaran kecil ini muncul terus-menerus di mana pun medan magnetnya cukup kuat, mereka bisa menjadi mekanisme pemuntir yang bekerja tanpa henti.
Analisis tim juga menunjukkan pusaran mini itu sangat efektif mencampur plasma bermagnet dan tak bermagnet di permukaan Matahari. Percampuran tersebut membantu medan magnet bergerak cepat dari permukaan naik ke atmosfer Matahari — sesuatu yang selama ini sulit dijelaskan model yang ada, padahal siklus aktivitas Matahari berulang sekitar sebelas tahun sekali, tergolong sangat cepat dalam ukuran kosmis.
"Pusaran plasma yang baru ditemukan ini memperlihatkan secara mengesankan bagaimana proses-proses terkecil, yang berada di batas kemampuan kita menguraikannya dengan segala teknik yang tersedia, sangat menentukan sifat bintang kita," kata Sami K. Solanki, Direktur MPS sekaligus salah satu penulis publikasi tersebut.
Temuan ini dilaporkan David Kuridze, Friedrich Woger, Michiel van Noort, Matthias Rempel, Robert Cameron, Thomas Rimmele, Sami K. Solanki, dan rekan-rekannya dalam artikel berjudul Ubiquitous Kelvin-Helmholtz instabilities driving plasma mixing on the Sun, terbit di jurnal Nature tahun 2026.




















