Cekricek.id — Jutaan orang di Eropa dan Amerika Utara akan menyaksikan gerhana matahari pada Rabu, 12 Agustus 2026. Sebuah koridor sempit yang membentang dari Greenland hingga Spanyol timur laut akan mengalami gerhana matahari total, sementara sebagian besar Eropa kebagian gerhana sebagian yang dalam.
Mengutip laporan Live Science yang ditulis Jamie Carter, Sabtu (8/8/2026), jalur totalitas gerhana ini selebar sekitar 290 kilometer dan melewati Greenland timur, Islandia barat, serta Spanyol timur laut. Di dalam jalur itu, bulan akan menutup penuh wajah matahari hingga 2 menit 18 detik — langit meredup seperti senja, bintang dan planet terang bisa muncul di siang hari, dan korona matahari yang menyerupai untaian cahaya akan terlihat.
Menit demi Menit di Jalur Totalitas
Totalitas menyapa Scoresby Sund di Greenland pada pukul 16.35 waktu setempat dengan durasi hingga 2 menit 17 detik, lalu Reykjavik, Islandia pukul 17.48 GMT selama sekitar 60 detik. Di Spanyol, Leon mengalaminya pukul 20.28 waktu setempat (1 menit 45 detik), disusul Soria dan S'Arenal di Mallorca. Semakin dekat ke garis tengah jalur, semakin lama kegelapan berlangsung — dan batas jalurnya tegas: Madrid yang hanya terpaut sedikit di luar jalur cuma kebagian gerhana sebagian 99,9 persen tanpa totalitas sama sekali.
Eropa Kebagian Dalam, Amerika Utara Tipis
Sebagian besar Eropa dan ujung barat laut Afrika akan menyaksikan gerhana sebagian yang dramatis: Barcelona 99,8 persen, Aljir 96 persen, Nice 95 persen, Lisabon dan Dublin 94 persen, Paris 92 persen, serta London 91 persen. Di Amerika Utara gerhananya lebih tipis — Iqaluit di Kanada 61 persen, St. John's 53 persen, Fairbanks 37 persen, sementara New York hanya 9 persen.
Satu hal yang terus diingatkan: kacamata gerhana bersertifikat wajib dipakai sepanjang seluruh fase gerhana sebagian. Satu-satunya momen aman melepasnya hanyalah saat totalitas penuh.
Bisakah Disaksikan dari Indonesia?
Gerhana kali ini tidak melintasi Indonesia, tetapi pencinta langit Tanah Air tetap bisa menontonnya lewat siaran langsung yang disiapkan sejumlah lembaga antariksa, termasuk NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA). Fenomena langit memang tak pernah kehabisan kejutan — seperti rencana reaktor nuklir di Bulan pada 2035 yang pernah kami ulas.
Baca juga: Misteri Situs Pemakaman Manusia Purba di Spanyol Berusia Ribuan Tahun


















