Cekricek.id — Kekambuhan rheumatoid arthritis kerap terasa datang tanpa aba-aba. Sebuah penelitian di Seoul, Korea Selatan, kini mengaitkan nyeri dan bengkak pada persendian itu dengan polusi udara yang melintas di luar jendela.
Hasilnya dipaparkan Eun Bong Lee, peneliti utama dari Seoul National University, lewat artikel Effects of air pollution on disease activity in patients with rheumatoid arthritis dalam jurnal Annals of the Rheumatic Diseases pada 2026.
Mengutip Earth.com, Minggu (9/8/2026), studi tersebut mengikuti 1.070 pasien sepanjang 12.583 kunjungan rawat jalan antara 2021 dan 2024. Pembacaan polusi yang lebih tinggi sejalan dengan aktivitas penyakit yang lebih tinggi pula, serta peluang kambuh yang lebih besar.
Dari enam polutan yang diukur, partikel halus — jelaga, debu, dan asap yang dikenal sebagai PM2.5 — paling menonjol. Kaitannya paling kuat ketika udara kotor bertahan lebih dari dua pekan.
Pertanyaan yang Belum Pernah Diajukan
Rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun kronis ketika sistem kekebalan menyerang persendian. Dampaknya melampaui sendi dan menimpa sekitar 0,5 sampai 1 persen orang dewasa di seluruh dunia. Genetika, perubahan imun, dan paparan lingkungan sama-sama berperan, dengan merokok sebagai faktor risiko yang paling mapan. Debu silika, suhu, dan kelembapan juga pernah dikaitkan.
Penelitian sebelumnya sudah menghubungkan polusi udara dengan munculnya rheumatoid arthritis. Tim Seoul mengajukan pertanyaan berbeda: apakah polusi menggerakkan penyakit itu pada orang yang sudah menyandangnya.
Kohortnya berasal dari Rumah Sakit Universitas Nasional Seoul. Aktivitas penyakit dan peristiwa kambuh dicatat pada setiap kunjungan rawat jalan selama empat tahun.
Tim mencocokkan kunjungan itu dengan kadar bulanan enam polutan: sulfur dioksida, nitrogen dioksida, ozon, karbon monoksida, serta partikel berukuran di bawah 10 mikron dan di bawah 2,5 mikron. Model perhitungannya disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin, status antibodi darah, penggunaan obat, faktor sosial ekonomi, dan cuaca.
Analisis kedua memakai pembacaan harian dari hari-hari sebelum tiap kunjungan, dan membandingkan setiap pasien dengan catatannya sendiri. Rancangan itu menyingkirkan perbedaan tetap antarindividu seperti genetika atau tempat tinggal.
Partikel kasar maupun halus sama-sama sejalan dengan peristiwa kambuh. Ozon sejalan dengan jumlah sendi yang bengkak. Namun sinyal terkuat dan paling konsisten datang dari PM2.5.
“Studi kami menemukan konsentrasi PM2.5 yang lebih tinggi berkaitan dengan meningkatnya aktivitas penyakit dan risiko kambuh, terutama paparan berkepanjangan pada PM2.5 tinggi selama lebih dari dua pekan,” kata Eun Bong Lee.
Baca juga: Penelitian Ungkap Peran Bakteri Usus dalam Mengubah Triptofan Jadi Pemicu Radang Sendi
Lebih Kecil daripada Sel Darah Merah
Partikel PM2.5 berukuran lebih kecil daripada sel darah merah. Ukuran itulah persoalannya, sebab partikel dapat menyelinap melewati lapisan paru-paru dan masuk ke aliran darah.
Begitu beredar, partikel tersebut mencapai organ yang jauh dari saluran napas. Para peneliti sudah lebih dulu mengaitkannya dengan penyakit jantung, bahkan pada kadar di bawah ambang regulasi Amerika Serikat saat ini.
Di dalam jaringan, partikel mendorong sel memproduksi spesies oksigen reaktif secara berlebihan. Molekul tak stabil itu menekan sel, merusak DNA, dan memicu peradangan. Mekanisme luas yang sama bekerja ketika partikel halus dikaitkan dengan kanker paru pada orang yang tidak pernah merokok.
Pada sendi yang sudah disiapkan oleh autoimunitas, dorongan peradangan baru punya tempat untuk mendarat.
Peringatan yang Perlu Didengar
Jeffrey A. Sparks dari Brigham and Women's Hospital dan Harvard Medical School menulis editorial yang menyertai makalah tersebut. Ia tidak termasuk dalam tim peneliti.
“Ini salah satu studi terbesar yang memakai metode kokoh untuk menghubungkan polutan udara dengan aktivitas penyakit rheumatoid arthritis,” kata Sparks. “Mengingat kadar polutan udara yang terus meningkat, hasil ini punya implikasi klinis, biologis, dan kesehatan masyarakat yang berarti.”
Ia juga melihat manfaat praktis bagi pasien yang kekambuhannya selama ini tidak masuk akal. Menurutnya, temuan ini membuka jalan menurunkan risiko kambuh dengan menghindari udara berkualitas buruk, sekaligus memberi penjelasan yang mungkin atas kekambuhan yang tampak serampangan.
Josef Smolen dari Medical University of Vienna, yang menyunting jurnal tersebut untuk EULAR, menyebut makalah itu “peringatan penting: lingkungan kemungkinan besar merupakan penyumbang mendasar bagi rasa nyeri dan peradangan pada pasien yang kami rawat”.
Namun Smolen juga mengingatkan batas jangkauan temuannya. “Kita harus sadar bahwa pengamatan ini berlaku untuk populasi Korea yang diteliti, dengan latar genetik tertentu dan dalam keadaan lingkungan tertentu,” katanya.
Studi ini bersifat observasional, sehingga menunjukkan keterkaitan, bukan pembuktian sebab. Pasien tidak ditempatkan pada kondisi udara bersih atau kotor, dan kohortnya berasal dari satu rumah sakit di satu negara — keadaan yang membuat pencatatannya konsisten sekaligus membatasi seberapa jauh angkanya bisa digeneralisasi.
Baca juga: Mengapa Pasien Penyakit Autoimun Perlu Perhatian Kesehatan Mental?
Gaya hidup juga tetap berperan, sebagaimana ditunjukkan studi yang menyebut 150 menit olahraga sepekan ternyata belum cukup.





















