Stok Patriot AS Menipis, Pertahanan Asia Timur Cemas

A A

Prajurit dan warga sipil mengamati sistem rudal darat ke udara MIM-104 Patriot dalam peragaan statis di Katterbach Army Airfield, Ansbach, Jerman, 15 Agustus 2019. [Foto: Charles Rosemond/U.S. Army]

Cekricek.id — Pemakaian besar-besaran rudal pencegat Patriot dan sistem canggih lain selama perang dengan Iran menyusutkan tajam persediaan Amerika Serikat. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran atas kesiapan pertahanan udara di Korea Selatan dan kawasan Asia Timur Laut.

Mengutip UPI, Minggu (9/8/2026), sejumlah laporan dan analisis pertahanan Amerika memperkirakan persediaan pencegat Patriot turun sekitar 65 persen sejak perang Iran dimulai.

Center for Strategic and International Studies pada akhir Juli memperkirakan Amerika Serikat menyisakan kurang dari 1.000 pencegat Patriot dan sekitar 250 pencegat untuk sistem Terminal High Altitude Area Defense atau THAAD.

Perkiraan lain yang disusun berdasarkan persediaan sebelum perang dan laporan pemakaian menempatkan sisa Patriot di bawah 827 unit dan THAAD di bawah 278 unit. Angka pasti persediaan militer AS bersifat rahasia dan perkiraan-perkiraan itu belum dikonfirmasi Pentagon.

Seribu Pencegat pada Fase Awal Perang

Penyusutan itu mencerminkan kecepatan luar biasa penggunaan senjata canggih selama konflik dengan Iran.

Para analis memperkirakan pasukan Amerika menembakkan ratusan rudal jelajah Tomahawk dan lebih dari 1.000 pencegat Patriot serta THAAD pada fase awal perang, ditambah rudal balistik taktis dalam jumlah besar. Amerika Serikat juga menguras persediaan senjata berpemandu presisi jarak jauhnya.

Laporan terbaru menyebut sekitar 65 persen persediaan Patriot dan 38 persen persediaan THAAD kemungkinan sudah terpakai sejak pertempuran dengan Iran pecah.

Baca juga: Trump Disebut Siap Klaim Kemenangan Tanpa Kesepakatan Nuklir

Pencegat THAAD Dipindahkan dari Korea

Kebutuhan pencegat yang membesar di Timur Tengah ikut memengaruhi pasukan Amerika yang ditempatkan di Asia Timur Laut.

Jenderal Xavier Brunson, Panglima Pasukan Amerika Serikat di Korea, menyampaikan kepada Komite Angkatan Bersenjata Senat pada April bahwa pencegat THAAD sedang dipindahkan dari Korea Selatan ke Timur Tengah. Sistem THAAD-nya sendiri diperkirakan tetap berada di Semenanjung Korea.

Pemindahan perlengkapan Patriot yang lebih dulu terjadi di Pangkalan Udara Osan juga memicu kekhawatiran di Korea Selatan bahwa sebagian aset pertahanan udara Amerika bisa dialihkan ke Timur Tengah.

Pejabat Korea Selatan menyatakan aliansi kedua negara masih memiliki kemampuan memadai untuk menggentarkan Korea Utara. Meski begitu, perpindahan tersebut menghidupkan kembali perdebatan tentang apakah konflik Timur Tengah yang berkepanjangan akan menekan pertahanan udara di Asia Timur Laut.

Pencegat Patriot PAC-3 merupakan bagian dari jaringan pertahanan rudal berlapis yang dipakai pasukan Korea Selatan dan Amerika menghadapi ancaman rudal balistik Korea Utara. Jaringan itu juga mencakup THAAD yang bekerja di ketinggian lebih tinggi serta pencegat Cheongung-II buatan dalam negeri Korea Selatan.

Baca juga: Korea Utara Ubah Perbatasan Jadi Garis Bersenjata Nuklir

2.200 Marinir dari Okinawa Ikut Bergeser

Perpindahan pasukan Amerika tidak berhenti pada sistem pertahanan rudal. Lebih dari 2.200 marinir yang tergabung dalam 31st Marine Expeditionary Unit berbasis Jepang diperintahkan bergerak dari kawasan Indo-Pasifik ke Timur Tengah seiring memanasnya konflik dengan Iran.

Satuan itu biasanya beroperasi dari Okinawa dengan kapal amfibi berpangkalan di Jepang, dan menjadi kekuatan tempur yang dapat digerakkan cepat untuk berbagai kemungkinan di Indo-Pasifik.

Penempatan tersebut menambah kekhawatiran bahwa konflik Timur Tengah yang berlarut dapat mengikat pasukan yang semestinya tersedia untuk situasi darurat di Semenanjung Korea atau Taiwan.

Seorang pejabat pemerintah Amerika yang berbicara tanpa bersedia disebut namanya menyatakan pengalihan aset pengawasan dan pertahanan udara ke Timur Tengah dapat membuat pasukan Amerika di Korea Selatan lebih rentan bila terjadi konflik dengan Korea Utara.

Kekhawatiran serupa mengenai kesiapan persenjataan juga muncul di Eropa, sebagaimana tergambar dalam penilaian intelijen Amerika tentang ancaman Rusia ke NATO.

Bagikan

Baca Juga

Balochistan dan Gilgit-Baltistan, Dua Wajah Gizi Pakistan
Disabilitas Vietnam: Divaksin Setara, Jalan ke Sana Tak Setara
Remaja Keluarga Bercerai di Cina Lebih Rentan Kecanduan Internet
Lampu Kelas Xinjiang Diduga Perlambat Miopia Anak Uighur
Dua Puluh Satu Tahun Diare Menular Beijing dan Ramalan 2025
Indeks Bahaya Balita Melonjak Saat Panel VOC Diperluas