Cekricek.id — Korea Utara memadukan kekuatan tembak konvensional di dekat perbatasan antar-Korea dengan sistem senjata nuklir taktis. Kawasan itu praktis berubah menjadi apa yang disebut seorang peneliti Korea Selatan sebagai “perbatasan bersenjata nuklir”.
Mengutip UPI, Minggu (9/8/2026), penilaian tersebut disampaikan Hong Min, peneliti senior di Korea Institute for National Unification, lewat laporan berjudul North Korea's Military Measures to Establish a Southern Border: Border Firepower Systems and a North Korean Border Model.
Hong menganalisis 160 aktivitas militer Korea Utara yang berlangsung antara Januari 2024 dan Juni 2026.
Lima Tahap Pengerasan Perbatasan
Menurut laporan itu, Pyongyang menjalankan proses lima tahap untuk mengubah batas selatannya menjadi garis depan militer yang mengeras.
Tahap pertama adalah mendeklarasikan konsep perbatasan yang baru. Berikutnya memutus jalur transportasi Gyeongui dan Donghae yang menghubungkannya dengan Korea Selatan. Lalu memperkuat dan mengelola perbatasan, melembagakan kebijakan itu lewat undang-undang serta arahan Partai Buruh, dan terakhir menata ulang kekuatan tembak di sepanjang garis depan.
Jangkauan 60 sampai 420 Kilometer
Perkembangan paling penting, menurut laporan tersebut, adalah penempatan senjata dengan jangkauan berbeda-beda pada korps tentara garis depan di utara Garis Demarkasi Militer.
Korea Utara belakangan mengoperasikan howitzer swagerak 155 milimeter yang baru, peluncur roket ganda 240 milimeter yang ditingkatkan, rudal jelajah taktis, rudal balistik taktis seri Hwasong-11Ra, serta peluncur roket ganda superbesar 600 milimeter.
Jangkauan sistem-sistem itu terentang dari sekitar 60 kilometer sampai sejauh 420 kilometer. Digabungkan, semuanya membentuk struktur serangan berlapis yang mampu menjangkau sasaran makin dalam di wilayah Korea Selatan.
Sistem 600 milimeter pernah dipertunjukkan secara terbuka dalam latihan yang disebut Korea Utara melibatkan kemampuan nuklir taktis. Pada Maret, Kim Jong Un menyaksikan latihan tembak yang melibatkan 12 peluncur jenis itu dan menyatakan senjata tersebut dapat mengancam sasaran dalam radius 420 kilometer.
Baca juga: Jepang Buka Perdebatan Nuklir, Penyintas Bom Atom Cemas
Pemicu Nuklir Terhubung ke Garis Depan
Laporan itu menaruh perhatian khusus pada penyatuan vertikal kekuatan konvensional dan rudal tersebut dengan struktur komando nuklir Korea Utara.
Pyongyang pernah menggelar latihan simulasi serangan balasan nuklir memakai peluncur roket superbesar 600 milimeter, sekaligus memperagakan pengoperasian sistem komando dan kendali yang mereka sebut “pemicu nuklir”. Sistem itu pertama kali dipertunjukkan pada 2024.
Korea Utara juga secara terbuka mengklaim sebagian senjata taktisnya dapat membawa hulu ledak nuklir. Menurut Hong, rangkaian perkembangan itu tampaknya dimaksudkan untuk menggambarkan perbatasan antar-Korea bukan sekadar batas militer konvensional, melainkan garis yang disokong langsung senjata nuklir taktis.
Ambang Balasan yang Menurun
Laporan tersebut juga menilai Pyongyang sedang mengembangkan doktrin pembalasan dengan ambang yang relatif rendah.
Kim pernah memperingatkan bahwa pelanggaran sekecil “0,001 milimeter” atas wilayah yang dianggap milik Korea Utara sudah merupakan provokasi. Digabungkan dengan undang-undang dan kebijakan yang menekankan wewenang negara melakukan serangan pendahuluan, retorika semacam itu dapat melahirkan apa yang disebut laporan tersebut sebagai postur garis pemicu.
Kekhawatirannya sederhana: insiden kecil di dekat perbatasan bisa membesar jauh lebih cepat apabila Korea Utara sudah menetapkan ambang balasan yang rendah, baik secara politik maupun militer.
Baca juga: Intelijen AS Ungkap Ancaman Rusia ke NATO
Ketegangan serupa, ketika insiden kecil berpotensi menyulut sesuatu yang jauh lebih besar, juga menjadi kekhawatiran di Eropa — termasuk ketika Jerman menyebut dirinya menjadi sasaran perang hibrida setiap hari.




















