Cekricek.id — Jepang memperingati 81 tahun pengeboman atom Hiroshima dan Nagasaki di tengah dorongan para pemimpinnya untuk membuka kembali perdebatan tentang senjata nuklir — sesuatu yang menantang pendirian pasifis yang dipegang negara itu selama puluhan tahun.
Mengutip France 24 yang memuat laporan AFP, Minggu (9/8/2026), konstitusi Jepang menolak penggunaan kekuatan militer ofensif, dan pemerintahan yang berganti-ganti selama ini mempertahankan janji untuk tidak memiliki senjata nuklir, tidak memproduksinya, dan tidak mengizinkannya masuk ke wilayah Jepang.
Tiga Prinsip Nonnuklir yang Mulai Digoyang
Komitmen yang dikenal sebagai tiga prinsip nonnuklir dan berlaku sejak 1967 itu kini berada di bawah tekanan. Penyebabnya, negara-negara tetangga di Asia Timur — terutama Tiongkok — terus memperkuat kemampuan militernya, sementara keraguan atas keandalan Amerika Serikat sebagai penjamin keamanan tidak kunjung reda.
Perdana Menteri Sanae Takaichi menolak menjelaskan apakah ia akan mempertahankan ketiga prinsip tersebut. Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi bahkan menyerukan "diskusi tanpa tabu" mengenai soal itu bulan lalu.
Pada Desember, seorang pejabat senior pemerintahan yang tidak disebutkan namanya menyampaikan kepada media lokal dalam sesi tertutup bahwa Jepang seharusnya memiliki senjata nuklir. Pernyataan itu diberitakan luas oleh media besar Jepang, termasuk penyiar nasional NHK dan Asahi Shimbun, dan memicu kritik publik.
Suara Penyintas
Satoshi Tanaka, penyintas serangan Hiroshima 1945 yang kini berusia 82 tahun dan aktif berkampanye, menyuarakan kecurigaannya kepada AFP.
"Kalau saya melihatnya secara sinis, saya tidak bisa tidak berpikir bahwa mungkin dia memang ingin mengubahnya," kata Tanaka, merujuk komitmen antinuklir Jepang.
Serangan Agustus 1945 oleh Amerika Serikat menewaskan lebih dari 210.000 orang, termasuk banyak korban akibat paparan radiasi. Itu satu-satunya kali senjata atom digunakan dalam peperangan, dan menjadi salah satu tindakan besar terakhir Perang Dunia II. Jepang memperingati 81 tahun pengeboman Hiroshima pada Kamis, dan pada Minggu memperingati serangan atas Nagasaki.
Jumlah penyintas terus menyusut. Hingga Maret, Jepang mengakui sedikit lebih dari 91.000 penyintas serangan Hiroshima dan Nagasaki, turun dari lebih dari 164.000 satu dekade lalu. Usia rata-rata mereka 86,7 tahun. Meski memenangi Nobel Perdamaian 2024 atas perjuangan mereka, kelompok penyintas kini menimbang apakah asosiasi nasional mereka masih bisa dilanjutkan seiring bertambahnya usia anggota.
Tuduhan "Militerisme Baru"
Pemerintahan Takaichi tengah melakukan pemutakhiran besar strategi pertahanan nasional tahun ini, menghadapi ambisi militer Tiongkok yang terus membesar. Sang perdana menteri sudah mencabut larangan ekspor senjata yang selama ini diberlakukan Jepang sendiri, memperbesar anggaran pertahanan, dan mendorong amendemen konstitusi.
Kebijakan-kebijakan itu menuai teguran dari Tiongkok, yang menuduh Jepang menjalankan "militerisme baru" dan menyebut Takaichi tunduk pada kehendak kelompok sayap kanan jauh.
Perdebatan kini terpusat pada klausul ketiga. Pendukung Takaichi berargumen bagian terakhir itu perlu diubah agar Amerika Serikat dapat membawa senjata nuklir ke Jepang demi memastikan penangkalan di kawasan. Argumen serupa — bahwa penangkalan hanya bekerja bila payungnya nyata — juga mengemuka dalam pembentukan pakta pertahanan baru di dunia Islam.
Hirofumi Yoshimura, Ketua Partai Inovasi Jepang yang menjadi mitra koalisi pemerintahan Takaichi, menyatakan prinsip itu layak dibicarakan dalam konteks aliansi keamanan Jepang-Amerika Serikat.
"Tentu saja kita perlu bekerja menuju dunia tanpa senjata nuklir," kata Yoshimura kepada wartawan pada peringatan pengeboman Hiroshima. "Tetapi ketika mempertimbangkan bagaimana memastikan efektivitas penangkalan nuklir yang diperluas dalam kerangka aliansi kita dengan Amerika Serikat, saya percaya kita harus tetap berpegang pada prinsip tidak memiliki dan tidak memproduksi senjata nuklir. Adapun soal tidak mengizinkannya dibawa masuk, saya rasa masih ada ruang untuk didiskusikan."
Jawaban yang Tidak Menjawab
Seusai menghadiri upacara tahunan di Hiroshima pada Kamis, Takaichi duduk dalam pertemuan yang disiarkan televisi bersama para penyintas. Ketika didesak, ia menolak memberi kejelasan mengenai kemungkinan perubahan arah kebijakan nuklir Jepang.
"Negara kita saat ini berpegang pada tiga prinsip nonnuklir," ujarnya menjawab pertanyaan langsung dari Tanaka, tanpa menjelaskan apa yang akan ia lakukan berikutnya.
"Itu hanya menjelaskan keadaan sekarang," kata Tanaka kepada AFP pada Jumat. "Tidak ada yang dikatakannya tentang masa depan. Itu justru membuat saya makin khawatir. Saya cemas."




















