Pemindaian Laser Ungkap 20.000 Bangunan Tanah di Amazon

Ilustrasi pemindaian laser udara memperlihatkan bangunan tanah berbentuk persegi dan jalan lurus bercahaya jingga di bawah kanopi hutan hujan gelap

Ilustrasi pemindaian laser udara yang menampakkan bangunan tanah geometris peradaban Aquiry di bawah kanopi hutan hujan Amazon. [Foto: Ilustrasi/Canva]

Cekricek.id — Pemindaian laser dari udara mengungkap sebuah peradaban besar yang pernah menempati Amazon barat daya, jauh sebelum orang Eropa tiba. Peradaban itu dikenal dengan nama Aquiry.

Temuan tersebut dipaparkan Martti Pärssinen, profesor emeritus dari University of Helsinki, bersama koleganya lewat artikel Over 20,000 precolonial earthworks in the Southwest Amazonia dalam jurnal Nature pada 2026.

Mengutip Earth.com, Minggu (9/8/2026), Aquiry menempati wilayah seluas sekitar 183.000 kilometer persegi dan dihuni jutaan orang antara 600 SM sampai 850 M. Luas itu kira-kira sebanding dengan Suriah masa kini.

Empat Ratus Situs Seremonial dari Satu Petak Survei

Tim peneliti memetakan satu bagian yang mewakili kawasan tersebut. Dari petak itu mereka mengidentifikasi sisa lebih dari 400 situs seremonial monumental yang terawetkan dengan baik, ditambah beberapa situs permukiman dari masa berikutnya.

Hasil survei itu lalu diekstrapolasi ke seluruh wilayah Aquiry. Kesimpulannya, lebih dari 20.000 pusat seremonial berupa bangunan tanah kemungkinan tersebar di kawasan tersebut. Situs terbesar yang diketahui membentang sekitar 50 hektare.

Survei menyeluruh yang dipadukan dengan penanggalan radiokarbon menunjukkan wilayah Aquiry sudah dihuni 1,25 sampai 3 juta orang pada awal milenium pertama. Padahal kawasan itu mencakup kurang dari tiga persen luas total Amazonia Raya.

Angka tersebut menantang perkiraan lama yang jauh lebih konservatif, yang menyebut populasi seluruh Amazon berkisar antara 1 juta dan 10 juta orang. Berdasarkan temuan baru ini, populasi kuno Amazon boleh jadi mencapai puluhan juta jiwa.

“Temuan kami membalikkan pemahaman kita tentang masa lalu kawasan Amazon,” kata Pärssinen.

Baca juga: Sanxingdui: Peradaban Hilang yang Ubah Asal-usul China

Transek Lurus Sepanjang 450 Kilometer

Penelitian ini bersandar pada pemindaian laser udara atau LiDAR, teknologi yang mampu memetakan bentang lahan yang tersembunyi di bawah vegetasi lebat.

Survei tersebut menyingkap ribuan jejak peradaban kuno di petak-petak hutan hujan yang belum pernah diteliti, mencakup sekitar 4.500 kilometer persegi. Lebih dari separuh datanya dipakai khusus untuk menilai bangunan tanah secara sistematis.

“Kami terbang dalam transek lurus sepanjang kira-kira 450 kilometer, memetakan jalur selebar sekitar satu kilometer setiap sepuluh kilometer. Cara ini memungkinkan kami mencakup area menyambung seluas mungkin,” kata Juha Hyyppä dari Finnish Geospatial Research Institute, yang mengawasi pelaksanaan teknis studi tersebut.

Bentuk yang terdeteksi mencakup pola geometris berukuran besar serta jalan-jalan lurus panjang yang menghubungkan berbagai situs.

Hutan yang Direkayasa Manusia

Aquiry meninggalkan jejak permanen pada lingkungan Amazon. Mereka membakar hutan yang didominasi bambu untuk membuka ladang jagung, labu, dan singkong, sekaligus untuk membangun pusat seremonial monumental beserta jalan lebar yang menghubungkannya.

Di luar pertanian, mereka juga berkebun dan mengelola secara aktif jenis-jenis pohon bernilai di seluruh wilayahnya.

“Penelitian ini menunjukkan dampak manusia terhadap lingkungan Amazon jauh lebih besar daripada yang selama ini diyakini,” kata Pärssinen.

Beberapa jenis pohon kaya protein yang masih ditemukan di kawasan itu sampai hari ini — termasuk pohon kacang Brasil dan pohon pupunha — memperlihatkan tanda jelas interaksi dan pembudidayaan oleh manusia dalam jangka panjang. Aquiry aktif menyebarkan jenis-jenis yang bernilai budaya itu, kerap dengan mengorbankan tumbuhan lain yang kurang berguna.

“Ini berimplikasi langsung pada pemahaman kita tentang sejarah biokultural kawasan tersebut,” kata Pärssinen. “Peradaban ini juga memengaruhi produksi dan keseimbangan karbon Amazonia kuno, yang semestinya lebih diperhitungkan dalam model iklim pada masa depan.”

Tanpa Batu, Tanpa Nama

Meski temuannya mencolok, pengetahuan tentang Aquiry secara keseluruhan masih sedikit. Kawasan itu secara alami tidak memiliki batu, sehingga tidak ada reruntuhan batu yang tersisa. Yang bertahan adalah bangunan tanah geometris monumental yang dikenal sebagai geoglif Amazon.

Nama Aquiry sendiri berasal dari sebutan masyarakat adat untuk Sungai Acre. Bahasa yang mereka pakai maupun nama yang mereka gunakan untuk diri sendiri masih belum diketahui.

Baca juga: Misteri Jalan Kuno dari Siberia Menuju Amerika 24.000 Tahun Lalu

Temuan arkeologi berteknologi tinggi seperti ini terus bermunculan, termasuk penemuan bangkai kapal Romawi kuno di perairan Sisilia.

Baca Juga

Mulut gua gelap di lereng berbatu yang tertutup lumut tebal dan serasah daun di dalam hutan
Lima Belas Gua Jepang di Bukit Pengklik dan Taktik Bertahan di Balik Lereng
Gedung putih bekas balai kota Batavia dengan atap merah dan menara jam, dilihat dari Lapangan Fatahillah, Kota Tua Jakarta
Air Mancur di Taman Fatahillah dan Jaringan Air Bersih Batavia Abad ke-18
Bangunan utama Candi Sukuh berbentuk piramida terpancung dari batu dengan gerbang di tengah dan arca di halaman
Candi Sukuh, Kuil Majapahit Tanpa Arca Raja di Lereng Lawu
Ratusan guci keramik amphora tertumpuk di dasar laut, tertutup endapan dan lumut setelah terendam ribuan tahun
Bangkai Kapal Romawi Kuno Ditemukan di Perairan Sisilia
Sepasang tangan menenun kain sutra merah dengan motif benang emas pada alat tenun kayu tradisional
Benang Emas yang Merajut Pendidikan: Kisah Tersembunyi di Balik Songket Minangkabau
Perahu kayu tradisional melaju di sungai lebar yang membelah hutan tropis saat matahari terbit, perbukitan tampak di kejauhan
Jejak Kerajaan Minangkabau Kuno: Ketika Sumatera Menjadi Jantung Perdagangan Dunia