Cekricek.id — Piring makan penduduk dunia bukan hanya kekurangan sayur, tetapi juga kehilangan ragamnya. Sebagian besar penduduk bumi mengonsumsi sayuran sekitar 40 persen lebih sedikit daripada anjuran pola makan sehat, dan rendahnya konsumsi sayur kini masuk lima besar faktor risiko pola makan yang menyumbang beban penyakit global.
Dikutip dari ScienceAlert, Minggu (9/8/2026), sebuah tim peneliti internasional berargumen jawabannya tidak cukup dengan menanam sayur lebih banyak. Yang mendesak justru menanam lebih banyak jenis sayuran, karena keragaman itulah yang menentukan kelengkapan gizi sekaligus ketahanan pangan menghadapi iklim yang kian panas.
“Solusinya bukan sekadar menanam lebih banyak sayuran, melainkan juga menanam lebih banyak jenis sayuran,” kata Maarten van Zonneveld, ilmuwan pertanian di World Vegetable Center.
Temuan itu dipaparkan van Zonneveld bersama C. K. Khoury dan rekan lewat artikel Reversing vegetable biodiversity loss to diversify diets dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences Vol. 123 No. 31, bernomor artikel e2532063123, yang terbit pada 24 Juli 2026.
Empat Ribu Varietas Kentang, Delapan yang Dipakai
Menyempitnya ragam sayuran paling mudah dilihat pada kentang. Di seluruh dunia terdapat lebih dari 4.000 varietas kentang, tetapi hanya lima sampai delapan varietas yang benar-benar dipakai luas di Amerika Serikat. Polanya berulang pada komoditas lain: segelintir jenis menguasai rak pasar, sisanya menyusut menjadi tanaman pekarangan atau hilang sama sekali.
Analisis tim ini bertumpu pada 79 spesies sayuran utama yang terdaftar dalam dokumen Organisasi Pangan dan Pertanian PBB berjudul The Plants that Feed the World. FAO memperkirakan 24 persen kerabat liar sayuran yang sudah dinilai statusnya terancam punah. Kerabat liar adalah tumbuhan asal yang menyimpan gen ketahanan terhadap hama, kekeringan, dan panas, yakni bahan mentah bagi pemuliaan varietas baru.
“Sebagian spesies seperti selada, bawang, dan tomat telah menjadi tanaman global dan menjadi bagian pola makan di seluruh dunia. Banyak lainnya seperti spider plant, slippery cabbage, dan pare, yang biasanya lebih padat mikronutrien dan lebih tahan pada kondisi lingkungan yang sulit serta miskin sumber daya, hanya tersedia di tingkat regional dan sangat sering diabaikan dalam kebijakan pangan berskala besar,” tulis van Zonneveld dan tim.
Sayuran yang Telanjur Dianggap Kelas Dua
Sejumlah nama disebut khusus karena nilainya besar tetapi perhatian terhadapnya kecil. Spider plant, sayuran berdaun hijau tua khas Afrika, dipuji karena tahan iklim dan padat gizi. Slippery cabbage yang populer di kawasan Pasifik dinilai memperbaiki gizi perempuan dan anak. Pare, yang akrab di Asia dan Karibia, tahan tekanan iklim dan punya kerabat liar bernilai tinggi. Labu tahan kekeringan dan panas serta menghasilkan buah kaya betakaroten, tetapi sumber daya genetiknya disebut kurang dimanfaatkan dan buruk pelestariannya.
Baca juga: Eropa Barat Catat Juni-Juli Terpanas, El Nino Raksasa Menguat di Pasifik
Jaring pengaman terakhir bagi keragaman itu pun berlubang. “Saat ini hanya sedikit varietas lokal yang disimpan di bank gen, dengan banyak celah dalam koleksinya, sehingga membatasi pemuliaan dan pengembangan varietas unggul untuk produksi berskala lebih besar,” tulis tim tersebut. Bank gen adalah fasilitas penyimpan benih dan materi tanaman untuk jangka panjang.
Yang Masih Tersisa di Kebun Tradisional
Para peneliti menilai sebagian besar bahan yang dibutuhkan sebenarnya belum lenyap. “Sebagian besar keanekaragaman sayuran yang kita butuhkan masih ada di luar sana, pada varietas tradisional dan kerabat liarnya. Yang mendesak adalah melestarikannya dengan benar agar bisa kita manfaatkan secara bijak untuk meragamkan pola makan di tengah perubahan iklim,” jelas van Zonneveld.
Baca juga: Pemindaian Laser Ungkap 20.000 Bangunan Tanah di Amazon
Studi ini merupakan penelaahan atas basis data koleksi dan status konservasi, bukan pengukuran lapangan, sehingga angka 24 persen tadi hanya mencakup kerabat liar yang statusnya pernah dinilai. “Kehilangan keanekaragaman hayati yang sedang berlangsung pada spesies ini dan lebih dari 1.480 spesies sayuran lainnya terjadi justru ketika sistem pangan global sangat membutuhkan diversifikasi,” tegas van Zonneveld dan tim.




















