Cekricek.id — Air yang menggenangi bekas tambang uranium menyimpan persoalan yang tak kunjung selesai. Logam berat itu larut dalam air, ikut mengalir ke mana-mana, dan sulit dijinakkan. Sekelompok peneliti Jerman kini menunjukkan bahwa bakteri yang sudah lama hidup di air tersebut mampu mengunci uranium menjadi senyawa padat yang stabil, asalkan diberi makanan yang tepat.
Hasil penelitian itu dipaparkan Antonio M. Newman-Portela, Kristina O. Kvashnina, Elena F. Bazarkina, dan rekan-rekannya lewat artikel Pentavalent and tetravalent uranium formation via glycerol-stimulated bacteria in mine water dalam jurnal Nature Communications Vol. 17 No. 1 pada 2026. Dikutip dari ScienceDaily, Minggu (9/8/2026), riset itu dikerjakan tim Helmholtz-Zentrum Dresden-Rossendorf (HZDR) memakai air dari sebuah tambang uranium yang sudah tergenang di Pegunungan Ore, Jerman.
Gliserol sebagai Umpan
“Ada bakteri yang bisa memanfaatkan uranium, logam berat yang beracun bagi manusia, untuk metabolismenya,” kata Dr. Evelyn Krawczyk-Bärsch, peneliti pada kelompok riset Mikrobiologi Terestrial HZDR. Ia menambahkan bahwa penelitian kelompoknya sebelumnya sudah memperlihatkan bakteri sanggup memakai uranium terlarut untuk metabolisme selama mereka punya akses ke gliserol sebagai sumber makanan.
Gliserol adalah senyawa organik sederhana yang di sini berfungsi sebagai sumber karbon, semacam bahan bakar bagi mikroba. Percobaan sengaja dijalankan tanpa oksigen agar menyerupai keadaan aslinya di bawah tanah.
“Kami ingin menciptakan kondisi alami bagi komunitas bakteri yang sudah ada di air tambang, karena pada kedalaman sekitar 2.000 meter biasanya hanya ada sedikit oksigen atau bahkan tidak ada sama sekali di dalam tambang,” ujar Antonio M. Newman-Portela, mantan kandidat doktor di HZDR dan University of Granada yang menjadi penulis utama studi ini.
Hasilnya terlihat dari kadar uranium yang tersisa di dalam air. “Setelah 130 hari, hanya sekitar lima persen uranium terlarut yang masih tertinggal di dalam sampel,” tutur Newman-Portela. Sisanya berpindah ke tubuh bakteri. Tim menduga mikroba itu menyerap uranium ke dinding selnya, sebuah proses penumpukan yang sudah dikenal dari literatur sebelumnya.
Baca juga: Jamur Candida auris Bersembunyi di Folikel Rambut
Uranium Bervalensi Lima yang Tak Terduga
Kejutan sesungguhnya muncul saat biomassa bakteri itu dianalisis. Uranium umumnya dijumpai dalam bentuk bervalensi empat atau enam — valensi menunjukkan berapa banyak elektron yang dilepas atau diikat sebuah atom saat membentuk senyawa. Bentuk bervalensi lima dianggap langka dan cepat berubah menjadi bentuk lain.
“Uranium bervalensi lima memang ada, tetapi langka atau hanya bersifat sementara,” jelas Newman-Portela. Justru bentuk itulah yang mendominasi. Uranium bergabung dengan besi dan oksigen membentuk senyawa FeU(V)O4. Ketika sampel sengaja dipaparkan ke udara, jumlah senyawa tersebut malah bertambah, bukan terurai — pertanda ia benar-benar mantap.
Pemetaan struktur sehalus ini menuntut instrumen yang sanggup melihat apa yang tidak kasatmata, sebagaimana teknologi penginderaan membuka lapisan sejarah yang tersembunyi dalam laporan Pemindaian Laser Ungkap 20.000 Bangunan Tanah di Amazon.
Menuju Pemulihan Bekas Tambang
“Studi kami untuk pertama kalinya mengungkapkan bahwa bakteri yang dipasok gliserol sebagai sumber karbon dapat mengubah uranium beracun yang terlarut dalam air menjadi senyawa kimia yang stabil,” kata Krawczyk-Bärsch.
Meski begitu, jarak dari tabung percobaan ke lokasi tambang yang sesungguhnya belum tertutup. “Kami masih harus meneliti sejauh mana bakteri dapat membantu membuat uranium tidak berbahaya untuk keperluan remediasi,” ujarnya. Remediasi adalah upaya memulihkan lahan atau perairan yang tercemar agar aman kembali.
Baca juga: Eropa Barat Catat Juni-Juli Terpanas, El Nino Raksasa Menguat di Pasifik



















