Cekricek.id — Meteorit yang menembus atap sebuah rumah di Hillsborough, New Jersey, Amerika Serikat, ternyata menyimpan jejak cairan asin purba, senyawa organik, dan asam amino. Kandungan itu berasal dari sebuah asteroid primitif dan memberi petunjuk baru tentang cara bahan-bahan pembentuk kehidupan sampai ke Bumi.
Batuan tersebut jatuh pada 16 Juli 2024 setelah memasuki atmosfer Bumi. Dikutip dari ScienceDaily, Minggu (9/8/2026), para ilmuwan kemudian menganalisis serpihan yang berhasil dikumpulkan dari rumah itu.
Temuan Dipublikasikan di Science Advances
Hasil kajian dipaparkan Peter Jenniskens, astronom meteor dari SETI Institute dan NASA Ames Research Center, lewat artikel Meteor over New York City: Brines in a Primitive CM Asteroid dalam jurnal Science Advances volume 12 nomor 29 pada 2026.
Jenniskens menjelaskan apa yang ditemukan timnya di dalam serpihan tersebut. "Kajian forensik atas serpihan itu mengungkap bahwa di dalamnya tersimpan bagian-bagian yang terawetkan dari dekat permukaan sebuah asteroid primitif, tempat batuan itu pernah mengalami cairan asin pekat," katanya.
Cairan asin atau brine pada benda langit primitif menjadi petunjuk penting karena air dalam bentuk itu dapat melarutkan dan memindahkan senyawa. Proses semacam ini kerap dikaitkan dengan pembentukan senyawa organik di luar Bumi.
Baca juga: Benda Misterius Jatuh dari Langit, Hantam Rumah Warga Florida
Keberadaan asam amino dalam serpihan tersebut menambah bobot temuan, karena senyawa itu merupakan komponen penyusun protein. Penemuannya pada batuan luar angkasa menjadi bagian dari upaya panjang para peneliti menelusuri asal usul bahan pembentuk kehidupan.
Perubahan oleh Air Lebih Luas dari Biasanya
Mike Zolensky, ahli meteorit dari NASA Johnson Space Center, menemukan bahwa batuan ini mengalami perubahan akibat air yang lebih luas dibanding kondrit karbon jenis CM2 pada umumnya. Temuan itu menjadi salah satu dasar penggolongan meteorit tersebut.
Kondrit karbon merupakan kelompok meteorit yang dianggap paling primitif karena susunannya dinilai mendekati bahan awal pembentuk Tata Surya. Meteorit kelompok ini menjadi bahan kajian utama untuk menelusuri asal usul air dan senyawa organik di Bumi.
Baca juga: NASA Konfirmasi Asteroid 2024 YR4 Berpeluang Tabrak Bulan Desember 2032
Penggolongan CM1/2 yang disematkan pada batuan Hillsborough menunjukkan posisinya berada di antara dua tingkat perubahan oleh air. Semakin banyak jejak air yang terekam, semakin banyak pula informasi yang bisa dibaca mengenai kondisi asteroid induknya.
Kecepatan pemilik rumah dalam mengamankan serpihan menjadi faktor yang menentukan mutu sampel. "Berkat reaksi cepat pemilik rumah, inilah meteorit CM1/2 paling murni yang kami ketahui," kata Peter Jenniskens.
Sampel yang Datang Sendiri
Denton Ebel, kurator di American Museum of Natural History, menyebut peristiwa jatuhnya batuan itu sebagai keberuntungan bagi kalangan peneliti. Sampel asteroid dengan tingkat kemurnian tinggi biasanya hanya bisa diperoleh melalui misi antariksa yang memakan waktu bertahun-tahun dan biaya besar.
"Kami gembira karena alam mengantarkan sampel asteroid seberharga itu tepat di depan pintu kami," kata Denton Ebel.
Meteorit yang jatuh dan segera diamankan memiliki keunggulan dibanding batuan yang lama tergeletak di permukaan Bumi, karena belum terlalu terpapar kelembapan dan mikroorganisme setempat. Faktor itulah yang membuat serpihan dari Hillsborough dinilai berada dalam kondisi sangat baik.
Jarak dua tahun antara jatuhnya batuan pada Juli 2024 dan terbitnya hasil kajian menunjukkan panjangnya proses analisis laboratorium yang harus dilalui sebelum temuan dipublikasikan.
Baca juga: NASA Rekrut 4 Relawan untuk Simulasi Perjalanan ke Mars Selama 1 Tahun, Kamu Tertarik?





















