Cekricek.id — Tanah yang terbawa alas sepatu ternyata cukup untuk mencemari lantai rumah dengan timbal, bahkan pada rumah yang dindingnya tidak pernah dilaburi cat bertimbal. Kesimpulan itu datang dari pengukuran di East Trenton, New Jersey, Amerika Serikat, permukiman padat yang tanahnya mewarisi limbah pabrik tembikar abad ke-19.
Hasilnya dipaparkan Sean Stratton bersama peneliti Rutgers Environmental, Occupational and Health Sciences Institute lewat artikel Lead soil contribution to dust loading in urban homes built before and after 1978, measured through a community academic partnership dalam jurnal Journal of Exposure Science & Environmental Epidemiology. Artikelnya terbit daring pada Jumat (31/7/2026) dan belum memperoleh nomor volume cetak.
Dua Ratus Empat Puluh Dua Sampel Tanah
Timbal adalah logam berat yang, menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat, mengganggu perkembangan otak anak, merusak organ vital, dan meninggalkan dampak saraf serta perilaku yang menetap. Ia tidak berbau dan tidak terlihat, sehingga keberadaannya hanya bisa diketahui lewat pengukuran.
Peneliti melatih warga yang tergabung dalam East Trenton Collaborative untuk mengambil sendiri sampel tanah di sekitar 122 rumah. Dari 242 sampel tanah permukaan tanpa penutup rumput yang terkumpul, 86 persen melampaui ambang bahaya timbal untuk tanah permukiman yang ditetapkan badan tersebut, yaitu 200 bagian per sejuta. Hampir 94 persen melampaui batas penapisan bila timbal dihitung datang dari lebih dari satu sumber sekaligus.
“Ini sangat mengkhawatirkan karena seluruh sampel diambil dari tanah terbuka di permukaan, bagian yang paling mungkin disentuh anak-anak atau terbawa masuk ke dalam rumah,” kata Sean Stratton, lulusan program doktor Rutgers School of Public Health sekaligus penulis utama kajian itu.
Tahap berikutnya masuk ke dalam rumah. Di 42 rumah, tim mengambil contoh debu dari lantai, ambang jendela, dan ceruk jendela, lalu mengukurnya dengan penganalisis fluoresensi sinar-X — alat yang membaca kandungan logam tanpa merusak sampelnya.
Rumah Baru Bukan Berarti Aman
Pemerintah federal Amerika Serikat melarang penggunaan cat bertimbal untuk konsumen pada 1978. Sejak itu tahun pembangunan rumah dipakai sebagai patokan cepat: yang berdiri setelahnya dianggap bebas masalah. Data East Trenton mematahkan patokan tersebut. Pada rumah yang tidak memiliki cat bertimbal di bagian dalam, 80 persen sampel debu lantainya tetap melampaui ambang aman.
“Kadar timbal di lantai rumah bercat timbal dan yang tidak ternyata tidak berbeda secara bermakna, dan itu menegaskan tanah dari luar yang terbawa masuk adalah salah satu penyebab debu bertimbal di dalam rumah,” ujar Stratton.
Brian Buckley, direktur riset di Rutgers Environmental, Occupational and Health Sciences Institute, menyebut anggapan lama itulah yang perlu diperiksa ulang. “Temuan ini penting karena selama ini orang mengira kalau ada timbal di debu, sumbernya cat di dinding, dan kalau rumahnya dibangun setelah 1978 tidak ada yang perlu dikhawatirkan — padahal tidak selalu begitu,” tuturnya.
Baca juga: Polusi Udara PM2.5 Terkait Kekambuhan Rheumatoid Arthritis
Warga yang Mengambil Datanya Sendiri
Yang menggerakkan kajian ini bukan hanya alat ukurnya. Penduduk setempat dilatih menjadi pengumpul sampel, cara kerja yang sudah lebih dulu dicoba tim yang sama di Newark bersama Newark Water Coalition, ketika 500 perangkat uji air dibagikan kepada warga dan hasilnya menunjukkan membiarkan keran mengalir sejenak tidak menghilangkan bahayanya.
“Riset bersama kami di Newark memperlihatkan kekuatan pengumpulan data ilmiah yang dipimpin warga, dan itu membantu kami mengajak masyarakat East Trenton ikut dalam kajian ini,” kata Stratton. Shereyl Snider, penggerak masyarakat di East Trenton Collaborative, tercatat sebagai salah satu penulis artikelnya bersama peneliti Rutgers, Adrienne Ettinger dan Zorimar Rivera-Núñez.
Baca juga: Merebus Air Keran Bisa Mengurangi 80 Persen Mikroplastik di Dalamnya
Yang Diukur dan yang Belum
East Trenton bukan permukiman biasa. Kawasan itu dimasukkan ke daftar prioritas nasional Superfund oleh otoritas lingkungan Amerika Serikat pada 2025 justru karena warisan timbalnya, sehingga angkanya tidak bisa langsung dianggap mewakili kota lain. Yang diukur pun kadar timbal di tanah dan debu, bukan kadar timbal dalam darah penghuninya, sehingga seberapa banyak yang benar-benar masuk ke tubuh anak-anak di sana masih menjadi pertanyaan terbuka.
Jalur pencemarannya sendiri — partikel halus yang berpindah dari luar ke dalam ruangan lalu mengendap — bukan persoalan khas Amerika Serikat. Ia berlaku di mana pun tanah permukiman pernah menerima buangan industri. Penelitian tentang cara membersihkan pencemaran memakai sisa bubuk kopi menunjukkan sisi lain dari persoalan yang sama: menghilangkan logam berat setelah telanjur menyebar jauh lebih rumit daripada mencegahnya masuk.




















