Cekricek.id — Sebuah metode pemindaian otak yang dirancang membedakan badan sel saraf dari juluran-juluran halusnya berhasil menangkap kerusakan otak pada pengidap penyakit Huntington. Pengujiannya melibatkan 56 pasien dan 57 orang sehat, dan hasilnya baru menunjukkan metode itu layak dikembangkan lebih jauh — belum siap dipakai di ruang praktik.
Laporan itu disusun Vasileios Ioakeimidis dan Claudia Metzler-Baddeley dari Cardiff University Brain Research Imaging Centre, Universitas Cardiff, Inggris, lewat artikel In vivo mapping of striatal neurodegeneration in Huntington’s disease with Soma and Neurite Density Imaging dalam jurnal eLife volume 14, nomor artikel RP107661, tahun 2026.
Penyakit yang Menggerus Inti Otak
Penyakit Huntington adalah gangguan saraf keturunan yang disebabkan satu gen cacat. Sel-sel saraf penderitanya mati secara bertahap, dan yang paling awal terkena adalah striatum, kelompok inti di bagian dalam otak yang mengatur gerakan serta kebiasaan. Gejalanya berupa gerakan yang tak terkendali, perubahan suasana hati, dan kemunduran daya pikir.
Selama ini kerusakan itu dipantau lewat penyusutan ukuran striatum pada citra resonansi magnetik biasa. Ukuran yang mengecil memang menandakan ada yang hilang, tetapi tidak memberi tahu apa yang hilang: badan sel sarafnya, seratnya, atau keduanya.
Huntington tergolong penyakit langka dan sampai kini belum ada obat yang menghentikannya. Sejumlah terapi eksperimental sedang diuji, dan kebutuhan akan alat ukur yang peka menjadi mendesak: tanpa penanda yang bisa memperlihatkan sel otak benar-benar terlindungi, sebuah uji coba obat sulit dinilai berhasil atau gagal.
Memisahkan Badan Sel dari Seratnya
Metode yang diuji tim Cardiff bernama Soma and Neurite Density Imaging atau SANDI. Cara kerjanya membaca pola gerak molekul air di dalam jaringan otak, lalu memisahkan sinyal yang berasal dari badan sel saraf dari sinyal yang berasal dari neurit — juluran tipis yang menyambungkan satu sel saraf ke sel lain. Dari situ kepadatan dan ukuran badan sel bisa diperkirakan tanpa membuka tengkorak.
“Ini pertama kalinya, sejauh yang kami tahu, SANDI diterapkan pada penyakit Huntington,” kata Claudia Metzler-Baddeley, peneliti ilmu saraf kognitif di Cardiff University Brain Research Imaging Centre. Timnya membandingkan 56 pengidap Huntington dengan 57 orang sehat, dan menemukan perbedaan kepadatan serta ukuran badan sel saraf di antara kedua kelompok itu.
Baca juga: Mikroglia, Bukan Plak, yang Merampas Tidur Penderita Alzheimer
Ukuran-ukuran SANDI, menurut laporan tersebut, menjelaskan sampai 63 persen penyusutan striatum yang terlihat pada pasien. Artinya sebagian besar — tetapi bukan seluruh — pengecilan yang selama ini terbaca sebagai satu angka tunggal kini bisa diurai menjadi komponen yang lebih rinci.
Belum Bisa Dibawa ke Rumah Sakit
“SANDI menjanjikan untuk memantau penyakit Huntington dan menguji apakah terapi baru benar-benar melindungi sel otak,” ujar Metzler-Baddeley. Kalimat itu ia sambung dengan syarat: dibutuhkan penelitian yang lebih besar dan berjangka panjang sebelum metode ini bisa dipakai secara klinis.
Batasnya bukan hanya soal jumlah peserta. Pemindaian yang dipakai tim Cardiff mengandalkan mesin resonansi magnetik berkemampuan tinggi yang tidak dimiliki rumah sakit umum, sehingga metode ini masih harus dibuktikan bisa berjalan pada mesin standar. Perbandingannya dengan penanda penyakit yang sudah mapan juga belum dilakukan.
Baca juga: Teknologi AI RETFound Prediksi Risiko Kesehatan Lewat Gambar Retina
Yang diukur penelitian ini adalah keadaan otak pada satu titik waktu, bukan perjalanannya dari tahun ke tahun. Untuk menilai apakah sebuah obat memperlambat kerusakan, pasien yang sama perlu dipindai berulang kali selama bertahun-tahun — dan pengamatan semacam itu belum dikerjakan.
Baca juga: Tiga Obat dalam 72 Jam Tekan Simpanan HIV pada Bayi Makaka, Belum Diuji pada Manusia




















