Cekricek.id — Data dari 38.911 pasien radang sendi di 13 negara Eropa memperlihatkan satu pola yang berulang: di negara dengan indikator sosial-ekonomi lebih rendah, pasien rata-rata baru memulai pengobatan tingkat lanjut ketika penyakitnya sudah lebih berat, dan lebih cepat berhenti memakai obatnya. Yang ditemukan adalah kaitan antarnegara, bukan bukti bahwa kondisi ekonomi menyebabkan penyakit memburuk.
Temuan itu dilaporkan Brigitte Michelsen bersama jaringan peneliti European Spondyloarthritis Research Collaboration Network lewat artikel Influence of national socioeconomic status on treatment retention and disease activity in psoriatic arthritis and axial spondyloarthritis: evidence over 2 years in 13 European countries dalam jurnal Annals of the Rheumatic Diseases edisi Juli 2026.
Dua Penyakit yang Menyerang Sendi dan Tulang Belakang
Yang diteliti adalah dua penyakit autoimun. Artritis psoriatik menyerang sendi pada sebagian pengidap psoriasis, penyakit kulit yang membuat kulit menebal dan bersisik. Spondiloartritis aksial menyerang sendi tulang belakang dan panggul, menimbulkan nyeri punggung menahun serta kekakuan yang paling terasa pada pagi hari.
Keduanya tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa ditahan dengan obat penekan peradangan generasi baru — kelompok obat biologis dan obat sintetis bersasaran, yang jauh lebih mahal daripada obat antiradang lama. Peneliti melacak 17.296 pasien artritis psoriatik dan 21.615 pasien spondiloartritis aksial yang mulai memakai obat golongan itu antara 2015 dan 2021, lalu mengikuti mereka selama dua tahun.
Baca juga: Polusi Udara PM2.5 Terkait Kekambuhan Rheumatoid Arthritis
Mulai Lebih Terlambat, Berhenti Lebih Cepat
“Kami mengamati aktivitas penyakit dan hasil pengobatan pasien berbeda-beda antarnegara, dan ingin memahami apakah perbedaan kondisi sosial-ekonomi antarnegara bisa menjelaskan sebagian variasi itu,” kata Brigitte Michelsen, dokter dan peneliti di Copenhagen Center for Arthritis Research, Rumah Sakit Rigshospitalet, Glostrup, Denmark.
Hasilnya, tingkat sosial-ekonomi sebuah negara berkaitan dengan dua hal sekaligus: seberapa parah penyakit pasien ketika terapi dimulai, dan berapa lama pasien bertahan memakai obatnya. Angka yang dipakai adalah angka nasional — ukuran kemakmuran dan belanja kesehatan negara, bukan penghasilan tiap pasien. Karena itu penelitian ini berbicara tentang sistem layanan kesehatan, bukan tentang nasib perorangan.
Perbedaan itu punya arti praktis. Pada kedua penyakit tersebut, peradangan yang dibiarkan berjalan lama meninggalkan kerusakan sendi dan tulang belakang yang tidak bisa dipulihkan. Memulai terapi ketika penyakitnya sudah berat berarti bagian yang telanjur rusak tidak lagi bisa dikembalikan, sekalipun obatnya kemudian bekerja.
Batas yang Melekat pada Datanya
Penelitian ini bersifat pengamatan atas catatan medis yang sudah ada, bukan percobaan yang membandingkan dua kelompok secara acak. Bentuk itu memberi jumlah pasien yang besar sekaligus batas yang tegas: ia dapat menunjukkan dua hal bergerak bersama, tidak dapat menunjukkan yang satu menyebabkan yang lain. Perbedaan aturan penggantian biaya, kebiasaan meresepkan, dan waktu tunggu ke dokter rematik antarnegara ikut bercampur di dalam angkanya.
Baca juga: Kalimat "Ini Normal" dari Tenaga Kesehatan Bikin Pasien Enggan Berobat
Seluruh datanya juga berasal dari negara Eropa, yang bahkan pada kelompok berpendapatan terendahnya masih menanggung sebagian besar biaya obat lewat jaminan kesehatan publik. Kesenjangan yang terbaca di sana karena itu tidak bisa langsung dipindahkan ke Indonesia atau kawasan lain dengan susunan pembiayaan yang berbeda.




















