Cekricek.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump membalas tuntutan reparasi perang yang diajukan Iran sebagai syarat membuka kembali Selat Hormuz dengan tuntutan balik: Washington akan menagih ganti rugi atas kerusakan yang menurutnya ditimbulkan Teheran selama setengah abad.
Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (11/8/2026), Trump menyampaikan hal itu ketika ditanya soal syarat yang dipasang Teheran. “Mereka meminta reparasi, bisa dibilang begitu. Atau mereka meminta uang atas kerusakan yang kami timbulkan. Saya bilang itu ide bagus. Nah, kami akan meminta uang atas kerusakan yang mereka timbulkan selama kurun 50 tahun,” kata Trump.
Tuntutan Iran itu sudah lebih dulu mengemuka. Teheran menegaskan pembukaan selat memerlukan pencabutan blokade laut sekaligus pembayaran ganti rugi perang dari Amerika Serikat, tepat ketika harga minyak Brent menembus USD84 per barel.
Daftar Tagihan yang Terus Memanjang
Dalam hitungan Trump, ganti rugi itu mencakup kematian personel militer Amerika sekaligus warga sipil Iran. Ia menyebut angka 52.000 orang tewas di Iran dalam empat bulan terakhir. Angka resmi Teheran jauh lebih rendah, yakni 3.117 orang tewas dalam unjuk rasa antipemerintah pada Januari, sementara kelompok pemantau HRANA pada Februari mencatat sekitar 7.000 kematian, 6.500 di antaranya pengunjuk rasa.
Trump juga menuntut kompensasi bagi keluarga 17 pelaut Amerika yang tewas dalam serangan terhadap kapal perang USS Cole pada Oktober 2000. Lewat Truth Social, ia menulis, “Juga, terkait perundingan Iran, Iran harus bertanggung jawab atas kerusakan dan kematian yang ditimbulkan terhadap rakyat Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza!”
Soal siapa yang memegang kendali di perairan itu, Trump tidak berbasa-basi. “Satu-satunya yang menguasai Selat Hormuz saat ini adalah Angkatan Laut Amerika Serikat,” ujarnya, menyebut blokade yang dipasang negaranya sebagai “tembok baja”.
Perundingan Iran-Oman Tetap Berjalan
Di luar pertukaran retorika itu, pembicaraan teknis mengenai jalur pelayaran di Selat Hormuz antara Iran dan Oman terus berlangsung. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan perundingan tersebut “berjalan lancar dan konstruktif”.
Qatar, yang ikut menjadi penengah, menyebut pembicaraan sudah memasuki tahap lanjut dan berada pada titik kritis. “Sebagai mediator, kami ingin Selat Hormuz dibuka kembali secepat mungkin,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari, menurut Anadolu, Selasa (11/8/2026). Doha menegaskan akan terus menyokong upaya peredaan ketegangan lewat jalur diplomatik.
Iran menyatakan pelaksanaan kesepakatan pembukaan selat bergantung pada penyelesaian apa yang disebutnya sebagai pelanggaran Amerika atas nota kesepahaman Juni.
Selat yang Menentukan Harga Minyak Dunia
Sebelum perang pecah pada 28 Februari, seperlima minyak dan gas alam cair dunia melintasi Selat Hormuz. Blokade dipasang kembali pada Juli dan membuat 55 kapal niaga berbalik arah. Lalu lintas mulai bergerak lagi belakangan, meski tersendat: 15 kapal menyeberang pada Jumat, 11 kapal pada Sabtu, dan enam kapal pada Minggu.
Charles Kupchan, mantan asisten khusus Presiden AS Barack Obama, menilai saling tuntut itu belum menandakan pergerakan apa pun. “Sayangnya, yang kita saksikan hanyalah saling lempar pernyataan, di mana baik pihak Iran maupun pemerintahan Trump sama-sama tidak serius,” katanya. Menurut dia, kedua pihak sebenarnya sama-sama punya alasan kuat untuk berkompromi. “Iran tidak bisa bertahan kalau tidak bisa mengekspor minyaknya,” ujar Kupchan.
Washington memang sudah menggeser tumpuan tekanannya dari kekuatan militer ke jalur ekonomi, sebagaimana disampaikan Trump pada Senin (10/8/2026). Di Teheran, pergeseran juga terjadi di lingkar keamanan setelah Iran merombak pucuk pimpinan keamanan nasionalnya di tengah perundingan Selat Hormuz.
Baca juga: Ancaman Iran Disebut Picu Trump Diam-diam Berganti Pesawat di Turki




















