Cekricek.id — Menteri Perdagangan Budi Santoso menerima delegasi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, untuk membahas perkembangan ekspor otomotif, peluang perluasan pasar, dan hambatan yang dihadapi pelaku industri.
Menurut Kementerian Perdagangan dalam keterangan tertulis, Selasa (11/8/2026), pertemuan itu merupakan bagian dari dialog rutin pemerintah dengan pelaku industri otomotif nasional.
Kerja Sama GCC Ditargetkan Rampung November
Budi Santoso, yang akrab disapa Mendag Busan, menyampaikan sejumlah perkembangan kerja sama dagang yang tengah digarap pemerintah, termasuk dengan negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) atau Dewan Kerja Sama Teluk.
“Kami terus mendorong penyelesaian kerja sama perdagangan dengan GCC. Kami harapkan prosesnya dapat selesai paling lambat November ini sehingga akses pasar bagi produk Indonesia di kawasan Teluk dapat semakin diperkuat,” kata Mendag Busan.
Ia menambahkan, perluasan akses pasar semacam itu diharapkan bisa membuka peluang lebih besar bagi peningkatan ekspor sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia secara global.
“Kami terus mendorong produk Indonesia untuk hadir di pasar global melalui berbagai kerja sama perdagangan yang telah dijalin dengan negara mitra. Perluasan akses pasar ini diharapkan dapat membuka peluang lebih besar untuk meningkatkan ekspor dan memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global,” ujar Mendag Busan usai pertemuan.
Masukan dari Pelaku Industri
TMMIN merupakan basis produksi dan salah satu pusat ekspor kendaraan roda empat Toyota di Indonesia, dengan pabrik yang memasok kebutuhan pasar domestik sekaligus mengirim kendaraan dan komponen ke sejumlah negara tujuan. Posisi itu membuat masukan perusahaan dari lapangan menjadi salah satu rujukan pemerintah dalam menyusun kebijakan perdagangan sektor otomotif.
Dari pihak TMMIN, Presiden Direktur Nandi Julyanto menyampaikan sejumlah masukan terkait pengembangan ekspor otomotif Indonesia, termasuk peluang perluasan pasar di kawasan Amerika Latin. Menurutnya, kawasan tersebut menyimpan potensi besar bagi produk otomotif buatan Indonesia, meski akses ke pasar Meksiko masih menghadapi sejumlah tantangan teknis dan regulasi.
Dialog semacam ini menjadi salah satu jalur bagi pelaku usaha untuk menyampaikan kendala di lapangan langsung kepada pemerintah, sebelum kendala itu berkembang menjadi hambatan yang lebih besar bagi kinerja ekspor. Kementerian Perdagangan mencatat sistem electronic-Surat Keterangan Asal (e-SKA) untuk ekspor kini telah diterapkan ke delapan negara dan wilayah tujuan, yaitu Uni Emirat Arab, Hong Kong, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Australia, dan Pakistan.
Mendag Busan menegaskan keterbukaan pemerintah menerima masukan semacam yang disampaikan TMMIN.
“Kami selalu terbuka menerima masukan dari pelaku usaha. Kalau ada kendala yang dihadapi, sampaikan kepada pemerintah agar dapat segera kami tindak lanjuti dan koordinasikan dengan kementerian dan lembaga terkait,” ujar Mendag Busan.
Bagian dari Rangkaian Diplomasi Dagang
Pertemuan dengan TMMIN ini berlangsung di tengah rangkaian aktivitas diplomasi dagang Kementerian Perdagangan sepanjang pekan kedua Agustus 2026. Beberapa hari sebelumnya, Mendag Busan juga menemui menteri perdagangan UEA, Brasil, dan India di sela BRICS Trade Ministers’ Meeting di Jaipur, India, yang turut membahas perluasan pasar ekspor Indonesia ke sejumlah kawasan.
Sektor otomotif sendiri menjadi salah satu andalan ekspor manufaktur Indonesia, seiring membaiknya kinerja ekspor nonmigas dan defisit dagang Juni 2026 yang menyusut menjadi 0,45 miliar dolar AS menurut catatan Badan Pusat Statistik.
Baca juga: Sepuluh Perusahaan Indonesia Lolos Kurasi ke Saudi Fashion & Tex Expo 2026




















