Cekricek.id — Wesco International mengonfirmasi tengah menyelidiki insiden keamanan siber setelah kelompok peretas ExfilSquad mengaku berhasil mencuri data dari sistem customer relationship management (CRM) perusahaan tersebut.
Dikutip dari BleepingComputer, Selasa (11/8/2026), ExfilSquad mengklaim mencuri 2,6 juta catatan yang berisi data pribadi pelanggan dan karyawan, termasuk data akun dan kontak, profil pengguna CRM, identitas kredit dan bisnis, metadata autentikasi, hingga informasi akses.
Tanggapan Resmi Perusahaan
Wesco, perusahaan Fortune 500 yang bergerak di bidang distribusi dengan sekitar 21.000 karyawan dan lebih dari 700 pusat distribusi di sekitar 50 negara serta membukukan penjualan sekitar 24 miliar dolar AS tahun lalu, membenarkan adanya klaim tersebut tanpa mengonfirmasi seluruh cakupannya.
"Wesco menyadari adanya klaim eksfiltrasi data CRM oleh pihak ketiga," kata Jennifer Sniderman, Wakil Presiden Komunikasi Korporat Wesco.
Sniderman menambahkan perusahaannya sudah berkoordinasi dengan penyedia layanan CRM berbasis awan yang dipakai Wesco. "Kami telah bekerja sama dengan vendor CRM awan kami terkait masalah ini, dan kami tidak meyakini ada risiko terhadap data sensitif," ujarnya. Ia menegaskan, "Kami tidak meyakini informasi kartu pembayaran, informasi rekening keuangan, atau data sensitif pelanggan maupun karyawan lainnya berisiko."
Menurut Sniderman, insiden ini tidak mengganggu jalannya bisnis dan operasional perusahaan tetap berjalan normal. Wesco menyatakan insiden terdeteksi dengan cepat dan tidak ditemukan bukti ransomware atau perangkat lunak berbahaya lain di sistem teknologi informasi perusahaan, yang membedakan kasus ini dari serangan ransomware konvensional yang biasanya turut melumpuhkan operasional korban.
Rekam Jejak ExfilSquad
ExfilSquad bukan nama baru di dunia kejahatan siber. Kelompok ini sebelumnya diklaim pernah menyasar Analog Devices, basis data hukum kepolisian nasional Inggris atau Police National Legal Database, dan Newcastle University. Pola korbannya memperlihatkan kelompok ini tidak menyasar satu sektor tertentu, melainkan memburu organisasi mana pun yang sistem CRM atau basis datanya lemah.
Pola serangan yang menyasar sistem CRM berbasis awan seperti yang dialami Wesco memperlihatkan pergeseran sasaran para peretas dari server internal perusahaan ke layanan pihak ketiga yang menyimpan data pelanggan. Karena data tersebar di berbagai penyedia layanan, insiden semacam ini kerap lebih sulit dipetakan cakupannya secara cepat dibandingkan kebocoran dari sistem yang dikelola sendiri oleh korban. Perusahaan besar pun harus bergantung pada laporan dan kerja sama vendor pihak ketiga untuk memastikan sejauh mana data pelanggannya benar-benar terdampak.
Bagian dari Pola yang Lebih Luas
Kasus ini menambah panjang daftar insiden yang melibatkan kebocoran lewat pihak ketiga tahun ini. Kebocoran serupa sempat terjadi pada Klaviyo, ketika formulir pendaftarannya justru meneruskan kata sandi pengguna ke sejumlah perusahaan periklanan akibat kesalahan konfigurasi kode pelacak, bukan akibat peretasan langsung.
Ancaman terhadap perusahaan besar juga tidak melulu datang dari kebocoran data pihak ketiga semacam ini. Kelompok peretas Kimsuky yang terafiliasi Korea Utara belakangan memakai kecerdasan buatan untuk membuat dokumen umpan phishing yang menyasar kalangan militer dan diplomat, menandakan taktik serangan siber terus berevolusi mengikuti perkembangan teknologi, dari eksploitasi sistem pihak ketiga hingga rekayasa sosial berbasis AI.
Bagi pelanggan dan karyawan perusahaan besar semacam Wesco, insiden seperti ini menjadi pengingat bahwa data pribadi mereka tidak hanya bergantung pada keamanan sistem perusahaan tempat mereka bertransaksi, tetapi juga pada seluruh rantai vendor teknologi yang menopang layanan tersebut di belakang layar.
Baca juga: Tips Ampuh Waspadai Penipuan di Dunia Maya dan Kejahatan Siber




















