Kerucut Ramalan Badai Versi Baru Bantu Warga Menandai Wilayah Siaga, Tak Mengubah Rasa Terancam

A A

Ilustrasi badai tropis dilihat dari orbit. Gambar ini bukan foto grafik kerucut ramalan lintasan National Hurricane Center yang diteliti dalam kajian tersebut. [Foto: Ilustrasi/Pexels]

Cekricek.id — Grafik kerucut yang menggambarkan perkiraan lintasan badai adalah gambar paling sering dilihat orang Amerika Serikat setiap musim hurikan. Versi barunya ditambahi keterangan wilayah siaga di daratan, dan sebuah percobaan menunjukkan tambahan itu memang membuat orang lebih tepat menunjuk daerah mana yang sedang disiagakan — tanpa membuat mereka merasa lebih terancam atau lebih siap bertindak.

Hasil itu dipaparkan Elizabeth C. Ray, Patrick F. Merle, dan Bradford Johnson dari Florida State University lewat artikel Uncertain about the New Cone? How Nonexperts Perceive NHC’s Experimental Track-Forecast Product dalam jurnal Weather, Climate, and Society terbitan American Meteorological Society, volume 18 nomor 3, halaman 843–855, pada 2026.

Kerucut yang Sering Disalahpahami

Kerucut ramalan lintasan buatan National Hurricane Center menggambarkan kemungkinan posisi pusat badai beberapa hari ke depan. Lebarnya menyatakan ketidakpastian ramalan, bukan ukuran badainya. Itulah sumber kekeliruan yang paling lama bertahan: banyak orang membaca kerucut yang melebar sebagai badai yang membesar, dan menganggap dirinya aman begitu berada di luar garis kerucut — padahal angin dan hujan berbahaya kerap menjangkau jauh lebih luas.

Versi percobaan yang diperkenalkan sejak 2024 mencoba menutup celah itu dengan menambahkan siaga dan peringatan badai tropis maupun hurikan untuk wilayah daratan ke dalam gambar yang sama.

“Orang kerap salah mengira kerucut yang lebih lebar berarti badainya lebih besar, dan bahkan dengan grafik yang sudah diperbarui, salah paham itu sulit dihilangkan,” kata Elizabeth Ray, asisten profesor di School of Communication Florida State University sekaligus penulis utama kajian tersebut.

Baca juga: Topan Dolphin Mendarat di Zhejiang, 388 Penerbangan Batal

398 Warga Florida dan Georgia

Peneliti menjalankan percobaan daring terhadap 398 penduduk Florida dan Georgia, dua negara bagian yang penduduknya terbiasa menghadapi musim hurikan. Sebagian peserta melihat kerucut versi lama, sebagian lagi versi yang sudah memuat keterangan wilayah daratan, lalu keduanya diminta menjawab pertanyaan yang sama.

Peserta yang melihat versi baru merasa jauh lebih yakin ketika diminta menunjukkan ukuran badai dan menandai zona yang sedang disiagakan. Namun peningkatan itu berhenti di situ. Pada ukuran keterbacaan yang lain, pada penilaian mereka tentang seberapa berbahaya keadaannya, dan pada niat mereka mengambil tindakan perlindungan, kedua kelompok tidak berbeda.

Jarak antara memahami gambar dan bergerak karena gambar itu adalah persoalan yang dikenal dalam komunikasi bencana. Menambah lapisan informasi ke dalam satu grafik membuat isinya lebih lengkap, tetapi tidak dengan sendirinya mengubah keputusan orang untuk mengungsi, menutup jendela, atau menyetok air.

“Pertanyaannya adalah bagaimana kami mengomunikasikan ilmu itu supaya orang yang bukan ahli meteorologi memahami risiko yang mereka hadapi,” ujar Patrick Merle, profesor sekaligus direktur School of Communication Florida State University.

Baca juga: Radar Cuaca C-Band Muara Teweh Beroperasi, Jangkauan 250 Kilometer untuk Pantau Karhutla

Satu Gambar Tidak Cukup

Saran yang keluar dari kajian ini sederhana dan justru mengurangi bobot grafik yang mereka teliti sendiri. “Jangan hanya bersandar pada kerucutnya. Padukan dengan informasi lokal yang jelas tentang dampak apa yang akan terjadi dan tindakan apa yang perlu diambil,” kata Ray.

Yang diuji adalah tanggapan peserta terhadap gambar di layar, bukan perilaku mereka ketika badai betul-betul datang. Niat mengambil tindakan yang dinyatakan dalam survei dan tindakan nyata saat perintah mengungsi keluar adalah dua hal berbeda, dan penelitian ini hanya menyentuh yang pertama. Pendanaannya berasal dari hibah SEED Florida State University, dengan masukan dari National Hurricane Center.

Indonesia tidak memakai kerucut hurikan, tetapi persoalan dasarnya sama: peringatan cuaca hanya berguna bila pembacanya menangkap maksudnya dan bertindak. Bencana hidrometeorologi di kawasan Asia Tenggara berulang kali memperlihatkan bahwa yang menentukan korban bukan hanya ketepatan ramalan, melainkan apa yang dilakukan orang setelah ramalan itu sampai.

Bagikan

Baca Juga

Empat Dekade Karies Gigi Anak Jepang Turun Tanpa Fluoridasi Air
Pengetahuan Diabetes Turunkan Gejala Neuropati Pasien
Pangan Ultra-Olahan Korea Naik, Picu Risiko pada Pria
Kenapa Pengawasan Orang Tua Tak Langsung Tahan Narkoba
Pemulung Sampah Nepal Paling Rentan Luka dan Sakit Gigi
Pola Musiman Diare Akut di Fiji Memuncak Tiap Awal Tahun